Skip to Content

Dampak Asuransi Pelapis Gigi (Sealant) pada Karies Remaja

September 2, 2026 by
Carigi Indonesia

Dampak Asuransi Pelapis Gigi (Sealant) pada Karies Remaja

Dampak Asuransi Pelapis Gigi (Sealant) pada Karies Remaja

Ketika Asuransi Menanggung Pelapis Gigi: Pelajaran dari Korea Selatan

Studi jangka panjang selama hampir dua dekade menunjukkan bahwa menjadikan pelapis gigi bagian dari jaminan asuransi nasional berhasil meningkatkan pemakaiannya sekaligus menekan angka gigi berlubang pada remaja.

Kebijakan kesehatan sering menuai perdebatan: benarkah program pemerintah membawa dampak nyata, atau sekadar menghabiskan anggaran? Korea Selatan menawarkan satu contoh yang bisa diukur. Sejak negara itu memasukkan pelapis gigi ke dalam tanggungan asuransi kesehatan nasional, apa yang sesungguhnya terjadi pada kesehatan gigi para remajanya?

Sekelompok peneliti dari Universitas Yonsei menelusuri jawabannya lewat data survei nasional yang membentang hampir 20 tahun. Hasilnya, yang diterbitkan di Journal of Public Health Dentistry, memberi gambaran menarik tentang bagaimana sebuah kebijakan sederhana bisa berdampak besar pada kesehatan masyarakat.

Konteks: Mencegah Lebih Murah daripada Menambal

Gigi geraham anak dan remaja memiliki permukaan kunyah yang penuh lekuk dan alur sempit—tempat ideal bagi sisa makanan dan bakteri untuk bersarang, tetapi sulit dibersihkan. Untuk mencegah gigi berlubang, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penggunaan pelapis fisura (pit and fissure sealant/PFS), yaitu lapisan pelindung yang menutup celah-celah rawan tersebut. Efektivitasnya sudah terbukti kuat lewat puluhan uji klinis.

Menyadari manfaat ini, Korea Selatan secara bertahap menjadikan pelapis gigi sebagai layanan yang ditanggung asuransi. Dimulai pada 2009 untuk gigi geraham pertama anak usia 6–14 tahun, cakupannya terus diperluas: mencakup geraham kedua, memperlebar rentang usia hingga di bawah 18 tahun pada 2013, dan pada 2017 memangkas biaya yang harus dibayar sendiri pasien dari 30–60% menjadi hanya 10%.

Persoalannya, sebagian besar penelitian sebelumnya hanya mengamati dampak jangka pendek. Studi ini mengambil pendekatan berbeda: menelusuri tren jangka panjang, dari 2005 hingga 2024.

Apa yang Dilakukan Peneliti

Alih-alih menggelar eksperimen baru, tim peneliti memanfaatkan data dari dua survei kesehatan nasional berskala besar—yang mencakup puluhan ribu remaja setiap tahunnya. Fokusnya pada kelompok usia 12–18 tahun.

Mereka melacak tiga hal dari waktu ke waktu:

  • Pemakaian pelapis gigi — proporsi remaja yang menjawab pernah mendapat pelapis gigi dalam 12 bulan terakhir.

  • Angka gigi berlubang (indeks DMFT) — proporsi remaja yang mengalami karies pada gigi permanen. Singkatan DMFT sendiri merujuk pada gigi yang berlubang (Decayed), hilang (Missing), atau sudah ditambal (Filled)—ukuran baku pengalaman karies.

  • Angka gigi ditambal (FT) — proporsi remaja yang giginya sudah pernah ditambal.

Dengan bantuan metode statistik, mereka lalu menghitung laju perubahan setiap tahun serta menguji apakah tren tersebut benar-benar terkait dengan kebijakan asuransi, setelah memperhitungkan faktor-faktor lain seperti jenis kelamin, wilayah, dan kondisi ekonomi keluarga.

Hasilnya: Naik, Lalu Sedikit Menurun

Pemakaian pelapis gigi meningkat—lalu mengendur. Proporsi remaja yang menggunakan pelapis gigi naik konsisten dari sekitar 20% pada 2005 hingga mencapai puncak sekitar 29% pada 2018. Peningkatan pada periode ini bermakna secara statistik dan jelas bersamaan dengan diperluasnya cakupan asuransi. Namun setelah 2018, angkanya justru menurun perlahan hingga sekitar 26% pada 2024.

Mengapa menurun? Para peneliti menduga penyebabnya adalah masih adanya biaya yang harus ditanggung sendiri oleh pasien. Persoalan ini pula yang mendorong Kementerian Kesehatan Korea mempertimbangkan untuk memangkas biaya tersebut lebih jauh, hingga tinggal 5%.

Angka gigi berlubang turun drastis. Kabar yang lebih menggembirakan datang dari sisi karies. Proporsi remaja yang mengalami gigi berlubang menurun tajam, dari sekitar 34% pada 2007 menjadi sekitar 19% pada 2015—nyaris separuhnya. Angka gigi yang ditambal pun ikut menunjukkan kecenderungan menurun.

Kaitannya dengan kebijakan cukup jelas. Ketika peneliti membandingkan kondisi sebelum dan sesudah kebijakan diberlakukan, polanya konsisten: setelah pelapis gigi ditanggung asuransi, peluang remaja mendapatkan pelapis gigi meningkat, sementara peluang mengalami gigi berlubang menurun secara bermakna—sekitar 28% lebih rendah. Penurunan serupa juga terlihat pada angka gigi yang perlu ditambal.

Mengapa Temuan Ini Penting

Studi ini memberi bukti nyata bahwa kebijakan pencegahan berbasis asuransi bisa berhasil. Dengan menurunkan hambatan biaya, lebih banyak remaja terdorong memanfaatkan layanan pencegahan, dan dampaknya terasa langsung pada menurunnya angka gigi berlubang di tingkat nasional.

Pelajaran ini relevan bagi banyak negara yang memiliki sistem jaminan kesehatan nasional—termasuk Indonesia dengan BPJS Kesehatan—yang tengah mempertimbangkan cara paling efektif untuk menekan beban penyakit gigi. Berinvestasi pada pencegahan sederhana seperti pelapis gigi berpotensi jauh lebih hemat dibandingkan menanggung biaya perawatan gigi rusak di kemudian hari.

Catatan Penting: Batasan Penelitian

Para penulis mengingatkan beberapa keterbatasan. Pertama, data pemakaian pelapis gigi berasal dari laporan mandiri responden, bukan pemeriksaan langsung oleh dokter—sehingga rawan bias ingatan, terutama pada remaja yang lebih muda. Kedua, penelitian belum memperhitungkan faktor lain yang turut memengaruhi kesehatan gigi, seperti kebiasaan menyikat gigi, pola makan, dan konsumsi minuman manis. Ketiga, data survei tidak mencakup seluruh kelompok remaja, sehingga hasilnya tidak serta-merta berlaku untuk semua populasi.

Meski begitu, kekuatan utama studi ini terletak pada cakupannya yang luas dan jangka panjang, menggunakan data nasional yang representatif.

Kesimpulan

Selama hampir dua dekade, memasukkan pelapis gigi ke dalam jaminan asuransi terbukti meningkatkan pemanfaatannya sekaligus menekan angka gigi berlubang pada remaja Korea Selatan. Pemakaian pelapis meningkat hingga 2018 sebelum sedikit menurun, sementara angka karies secara keseluruhan menunjukkan tren yang membaik.

Pesan utamanya sederhana namun kuat: ketika layanan pencegahan dibuat lebih terjangkau, masyarakat akan lebih memanfaatkannya—dan kesehatan gigi generasi muda pun ikut membaik. Ini contoh nyata bagaimana kebijakan publik yang tepat sasaran bisa memberi dampak yang terukur.

Referensi

Kim M, Mun SJ, Han SY, Kim HN, Kang JY, Noh H. Trends in Pit and Fissure Sealant Use and Decayed, Missing, and Filled Teeth Rates Among Korean Adolescents After Including Dental Sealants Under Insurance Coverage. Journal of Public Health Dentistry. 2026;86:213–219. DOI: https://doi.org/10.1111/jphd.70052

Carigi Indonesia September 2, 2026
Share this post
Tags
Archive
Efektivitas Pit and Fissure Sealant Gigi Anak