Skip to Content

Dampak Asam Lambung (GERD) pada Tambalan Gigi Komposit

September 9, 2026 by
Carigi Indonesia

Dampak Asam Lambung (GERD) pada Tambalan Gigi Komposit

Dampak Asam Lambung (GERD) pada Tambalan Gigi Komposit

Bukan Cuma Perut yang Perih: Asam Lambung Juga Menggerogoti Tambalan Gigi

Bagi penderita asam lambung (GERD), cairan asam dari lambung berulang kali membasahi gigi — dan juga tambalan gigi. Ditambah kebiasaan menyikat gigi setiap hari, apakah kombinasi ini bisa merusak tambalan? Sebuah studi laboratorium dari Arab Saudi menguji lima bahan tambalan gigi sewarna gigi (komposit) yang umum dipakai, dengan mensimulasikan "kondisi mulut penderita GERD" — direndam dalam asam selama 24 jam lalu disikat 5.000 kali — kemudian mengukur seberapa besar tambalan itu berubah warna dan melunak. Hasilnya: semua tambalan mengalami kerusakan dalam kadar berbeda, tetapi selisihnya sangat mencolok. Yang mengejutkan, bahan dengan kandungan pengisi PALING banyak justru termasuk yang paling buruk — membuktikan bahwa untuk tambalan yang awet, yang menentukan bukan seberapa banyak isinya, melainkan kualitas "perekat" yang menyatukan semuanya.

Tambalan Gigi Modern: Cantik, Praktis, tapi Tak Abadi

Dulu, tambalan gigi identik dengan bahan logam berwarna perak (amalgam). Kini, sebagian besar tambalan menggunakan komposit resin — bahan sewarna gigi yang jauh lebih estetis dan bisa menyatu rapi dengan gigi asli. Karena itulah komposit menjadi pilihan populer, baik untuk gigi depan maupun gigi belakang.

Namun secantik apa pun, tambalan komposit bukanlah bahan abadi. Rongga mulut adalah lingkungan yang keras dan agresif: tingkat keasaman yang naik-turun, paparan zat asam, serta gesekan mekanis dari menyikat gigi, semuanya perlahan bisa merusak baik gigi asli maupun bahan tambalan. Dua "musuh" yang paling merusak adalah kondisi asam dan gesekan mekanis — dan keduanya kerap datang bersamaan.

GERD: Ketika Asam Lambung Naik ke Mulut

Di sinilah asam lambung masuk ke dalam cerita. Pada penderita GERD (penyakit refluks gastroesofageal), asam dari lambung naik kembali hingga mencapai mulut. Asam lambung ini sangat kuat, dan ketika berulang kali membasahi permukaan gigi, ia dapat mengikis lapisan gigi — sebuah proses yang disebut erosi. Yang sering terlupakan: asam ini tidak hanya menyerang gigi asli, tetapi juga tambalan yang ada di dalamnya.

Menariknya, penelitian sebelumnya menemukan bahwa sekitar 24% penderita GERD menunjukkan tanda erosi gigi, dan sebaliknya, sebagian penderita erosi juga ternyata mengidap GERD — menandakan kaitan yang erat antara keduanya.

Masalah menjadi berlipat karena adanya faktor kedua: menyikat gigi. Menyikat dengan cara yang terlalu keras atau memakai pasta gigi yang abrasif dapat mengikis permukaan tambalan. Dan yang paling berbahaya, ketika permukaan tambalan sudah "melunak" oleh asam, gesekan sikat menjadi jauh lebih merusak — mengupas lapisan luar dan membuka lapisan yang lebih dalam. Inilah "serangan ganda" yang ingin ditiru oleh peneliti di laboratorium.

Apa yang Dilakukan Peneliti: Simulasi "Mulut Penderita GERD"

Seorang peneliti dari College of Dentistry, King Saud University, Arab Saudi, merancang sebuah uji laboratorium (in vitro) untuk menjawab satu pertanyaan: dari berbagai bahan tambalan komposit yang beredar, mana yang paling tahan terhadap serangan ganda asam dan sikat?

Ia menguji lima bahan komposit komersial — empat jenis bulk-fill dan satu jenis flowable (komposit yang lebih encer dan mudah mengalir):

  • Filtek Bulk Fill (FTB) — buatan 3M ESPE, AS

  • SureFil SDR (SDR) — buatan DENTSPLY, AS

  • Tetric N-Ceram (TNC) — buatan Ivoclar Vivadent

  • Beautifil Bulk (BBR) — buatan Shofu Dental, Jepang

  • Dynamic Flow (DYF) — buatan President Dental, Jerman (satu-satunya jenis flowable)

Dari tiap bahan dibuat spesimen berbentuk cakram kecil, lalu diberi perlakuan yang meniru kondisi mulut penderita GERD: direndam dalam larutan asam ber-pH 2,8 selama 24 jam (menggunakan asam klorida encer untuk menyerupai asam lambung), lalu disikat sebanyak 5.000 kali dengan sikat berbulu sedang di dalam medium asam. Sebelum dan sesudah perlakuan, peneliti mengukur dua hal penting.

Dua Hal yang Diukur: Warna dan Kekerasan

Kualitas sebuah tambalan bisa dinilai dari dua sisi — penampilan dan kekuatan. Peneliti mengukur keduanya:

  • Perubahan warna (ΔE₀₀) — diukur dengan alat spektrofotometer. Semakin besar angkanya, semakin nyata perubahan warna tambalan. Perubahan warna adalah kegagalan dari sisi estetika: tambalan yang menguning atau memudar akan terlihat mencolok dan mengganggu.

  • Kekerasan permukaan (Kekerasan Vickers) — mengukur seberapa keras permukaan bahan. Penurunan kekerasan berarti kegagalan dari sisi mekanis: bahan yang melunak akan lebih mudah aus, tergores, dan rusak.

Dengan kata lain, tambalan yang ideal seharusnya tetap tahan warna dan tetap keras meski digempur asam dan sikat.

Hasilnya: Semua Terdampak, tapi Ada Juara dan Ada yang Tumbang

Temuan pertama sudah cukup jelas: tidak ada satu pun bahan yang kebal. Semua komposit mengalami perubahan warna dan penurunan kekerasan dalam kadar tertentu. Hipotesis awal peneliti — bahwa asam dan sikat tidak akan berpengaruh — akhirnya ditolak.

Namun selisih antar-bahan sangat dramatis, terutama pada perubahan warna:

  • Filtek Bulk Fill (FTB) tampil sebagai juara ketahanan. Perubahan warnanya nyaris tak terlihat (angka ΔE hanya sekitar 0,8 setelah asam dan 1,6 setelah disikat), dan penurunan kekerasannya paling kecil.

  • Beautifil Bulk (BBR) dan SureFil SDR (SDR) justru mengalami kerusakan paling parah. Perubahan warnanya sangat drastis — angkanya mencapai kisaran 27 hingga 30, atau puluhan kali lipat lebih buruk dibanding FTB. Perubahan sebesar ini setara dengan tambalan yang berubah warna secara sangat kentara.

  • Tetric N-Ceram (TNC) dan Dynamic Flow (DYF) berada di tengah, dengan DYF (si flowable) menunjukkan ketahanan paling lemah secara keseluruhan.

Semua bahan juga kehilangan sebagian kekerasannya setelah direndam asam, dengan FTB kembali menjadi yang paling sedikit terpengaruh, dan DYF yang paling lunak.

Kejutan Terbesar: Paling Banyak "Isi" Bukan Berarti Paling Kuat

Inilah temuan yang paling menarik dan paling bertentangan dengan dugaan umum. Setiap komposit memiliki kandungan bahan pengisi (filler) — partikel keras yang memberi kekuatan pada tambalan. Logikanya, semakin banyak pengisi, semakin kuat bahannya.

Tapi kenyataannya tidak begitu. Beautifil Bulk (BBR) justru memiliki kandungan pengisi TERTINGGI di antara semua — mencapai 87% — namun performanya termasuk yang paling buruk. Sementara Filtek Bulk Fill, sang juara, kandungan pengisinya "hanya" sekitar 64,5%.

Bagaimana bisa? Jawabannya terletak pada bagian lain dari bahan tambalan yang sama pentingnya: perekat yang menyatukan partikel-partikel itu.

Rahasianya Ada pada "Lem" Pengikat

Untuk memahami ini, bayangkan tambalan gigi seperti beton. Beton terdiri dari batu kerikil (partikel pengisi) yang direkatkan oleh semen (perekat resin, atau disebut matriks). Anda mungkin mengira semakin banyak kerikilnya, semakin kuat betonnya. Tapi jika semennya berkualitas buruk dan mudah meresap air, seluruh struktur akan melemah — sebanyak apa pun kerikil di dalamnya.

Persis itulah yang terjadi. Rahasianya ada pada apakah "semen" tersebut menolak air atau justru menyerap air:

  • Bahan yang perekatnya menolak air (mengandung komponen seperti Bis-EMA, seperti pada FTB) lebih tahan. Air dan asam sulit meresap masuk, sehingga struktur bahan tetap utuh, tidak mudah berubah warna, dan tidak mudah melunak.

  • Bahan yang perekatnya menyerap air (mengandung komponen seperti TEGDMA) lebih rentan. Air meresap masuk, memicu kerusakan dari dalam yang melemahkan ikatan antara perekat dan partikel pengisi.

Pada kasus BBR, meski kerikilnya (pengisi) sangat banyak, "semennya" bersifat menyerap air, sehingga asam mudah menembus, ikatannya melemah, dan bahan pun rusak. Kesimpulan pentingnya: kualitas perekat dan seberapa baik ia mengikat pengisi ternyata sama menentukannya dengan jumlah pengisi itu sendiri — bahkan bisa lebih menentukan.

Apa Artinya bagi Pasien dan Dokter Gigi

Meski ini penelitian laboratorium, ada beberapa pesan praktis yang bisa dipetik.

Bagi pasien, terutama yang memiliki riwayat GERD atau asam lambung: penting untuk menyampaikan kondisi ini kepada dokter gigi Anda. Pilihan bahan tambalan bisa berpengaruh pada seberapa awet tambalan bertahan di lingkungan mulut yang asam. Selain itu, dua kebiasaan sederhana membantu melindungi tambalan — menyikat gigi dengan lembut (tidak menekan terlalu keras) dan menggunakan produk berfluoride.

Bagi dokter gigi, penelitian ini menegaskan pentingnya pemilihan bahan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Untuk pasien berisiko tinggi seperti penderita GERD, memilih bahan dengan perekat yang tahan air dan ikatan yang kuat bisa menjadi pertimbangan penting demi tambalan yang lebih tahan lama.

Perlu ditegaskan, penelitian ini tidak dimaksudkan sebagai "vonis" bahwa satu merek pasti lebih baik dari merek lain dalam segala situasi. Keputusan pemilihan bahan tetap ada di tangan dokter gigi, disesuaikan dengan kebutuhan klinis tiap pasien.

Catatan Penting: Ini Uji Laboratorium, Bukan Mulut Sungguhan

Bagian ini wajib dibaca agar tidak salah menyimpulkan. Penelitian ini adalah uji in vitro — dilakukan pada spesimen buatan di laboratorium, bukan pada gigi manusia yang sesungguhnya. Peneliti sendiri secara terbuka menyebut ini sebagai keterbatasan utamanya.

Beberapa hal yang perlu diingat:

  • Mulut sungguhan jauh lebih kompleks daripada simulasi laboratorium. Ada air liur yang menetralkan asam dan melindungi gigi, ada perubahan suhu, serta aktivitas enzim — semua faktor ini tidak sepenuhnya bisa ditiru di laboratorium.

  • Simulasi menyikat gigi disederhanakan. Di dunia nyata, cara, tekanan, dan jenis pasta gigi tiap orang berbeda-beda — variasi yang tidak tercakup dalam uji ini.

  • Jumlah spesimen sedikit (hanya lima per bahan), dan penelitian ini belum divalidasi secara klinis jangka panjang. Artinya, hasil ini memberi tahu kita tentang sifat bahan di bawah tekanan simulasi, bukan tentang apa yang pasti terjadi di mulut pasien selama bertahun-tahun.

Dengan kata lain, temuan ini adalah petunjuk berharga tentang karakter bahan, bukan ramalan pasti tentang hasil klinis. Peneliti pun menyarankan agar langkah selanjutnya adalah uji klinis yang lebih panjang pada pasien sungguhan.

Kesimpulan: Bukan Soal Seberapa Banyak, tapi Seberapa Baik

Pesan utama dari penelitian ini elegan dan mudah diingat: dalam menghadapi lingkungan mulut yang keras — seperti pada penderita GERD — ketahanan sebuah tambalan gigi tidak ditentukan oleh seberapa banyak bahan pengisinya, melainkan oleh kualitas perekat yang menyatukannya dan seberapa baik keduanya berikatan.

Bahan dengan perekat yang menolak air, seperti Filtek Bulk Fill, mampu bertahan dengan perubahan warna dan penurunan kekerasan yang minimal. Sebaliknya, bahan dengan perekat yang menyerap air lebih mudah rusak — bahkan ketika kandungan pengisinya paling tinggi sekalipun.

Bagi masyarakat awam, intinya sederhana: tambalan gigi tidak abadi, dan bagi penderita asam lambung, tantangannya lebih besar. Kabar baiknya, dengan berkonsultasi jujur dengan dokter gigi soal kondisi kesehatan Anda, menyikat gigi dengan lembut, dan menjaga perawatan rutin, tambalan gigi bisa dijaga agar bertahan lebih lama. Dan bagi ilmu kedokteran gigi, penelitian ini menjadi pengingat bahwa inovasi bahan tambalan yang lebih tahan banting masih terus dibutuhkan.

Referensi

AlQahtani, M. A. (2025). Assessing the durability of dental composites in GERD-like condition: a study of color stability and hardness. The Saudi Dental Journal, 37, 91. DOI: https://doi.org/10.1007/s44445-025-00095-y


Carigi Indonesia September 9, 2026
Share this post
Tags
Archive
Suplemen Olahraga dan Kesehatan Gigi Atlet Muda