Chikungunya & Oral Lichen Planus

Ketika Gigitan Nyamuk Kembali "Menghantui" Mulut: Laporan Kasus dari Brasil Mengaitkan Demam Chikungunya dengan Penyakit Mulut Baru
Sepuluh bulan setelah sembuh dari chikungunya, seorang pria 47 tahun mendapati bercak putih aneh di mulutnya. Dokter tidak menemukan penyebabnya — sampai mereka menelusuri kembali jejak virus itu. Kasus yang dipublikasikan di Clinical Case Reports ini adalah kasus pertama yang pernah didokumentasikan tentang munculnya oral lichen planus sebagai komplikasi tertunda dari penyakit yang ditularkan nyamuk ini.
Diagnosis Tak Biasa dari Brasil
Di kota Belo Horizonte, Brasil, seorang pria berusia 47 tahun datang ke klinik gigi dengan masalah yang tidak bisa ia jelaskan. Bercak putih berbentuk seperti renda muncul di bagian dalam pipinya. Area erosif yang aneh menyebar di sisi dan permukaan bawah lidahnya. Lesi-lesi tersebut tidak menyakitkan — tetapi juga tidak kunjung hilang.
Pasien ini bukan perokok. Ia tidak sedang mengonsumsi obat apa pun. Ia tidak mengidap hepatitis C, lupus, atau pemicu umum lainnya untuk kondisi yang dicurigai oleh para dokter giginya. Lesi-lesi itu muncul dua bulan sebelumnya, seakan tanpa sebab.
Namun, ada satu petunjuk penting dalam riwayat medisnya: sepuluh bulan sebelumnya, ia pernah dirawat karena demam chikungunya yang cukup berat. Penyakit itu telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan RT-PCR dan tes antibodi darah. Meskipun fase akutnya sudah lewat, ia masih mengalami nyeri sendi dan masalah pencernaan hampir setahun kemudian.
Tim dokter gigi yang dipimpin oleh Dr. Roberta Rayra Martins-Chaves dan Dr. Ricardo Santiago Gomez dari Faculty of Medical Sciences of Minas Gerais dan Universidade Federal de Minas Gerais (UFMG) akhirnya sampai pada kesimpulan yang luar biasa. Lesi mulut pria itu, mereka laporkan dalam Clinical Case Reports, adalah kasus pertama yang pernah didokumentasikan tentang munculnya oral lichen planus sebagai manifestasi tertunda dari demam chikungunya.
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi kawasan tropis — termasuk Indonesia — di mana chikungunya merupakan penyakit endemik.
Apa Itu Chikungunya, dan Mengapa Penting?
Demam chikungunya adalah penyakit virus yang disebarkan oleh nyamuk yang sama dengan pembawa demam berdarah dan Zika — Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Gejala klasiknya menyerang dengan keras dan cepat: demam tinggi, nyeri otot, ruam kulit, dan gejala khasnya — nyeri sendi yang berat, kadang sampai melumpuhkan.
Bagi kebanyakan orang, fase terburuk berakhir dalam beberapa minggu. Tetapi pada sebagian pasien, nyeri sendi tidak kunjung hilang. Berbagai studi menunjukkan bahwa poliartritis persisten, kekakuan pagi hari, dan kelelahan kronis bisa berlangsung berbulan-bulan — bahkan lebih dari tiga tahun setelah infeksi awal.
Yang kurang diketahui — namun sama pentingnya — adalah dampak chikungunya pada kulit dan lapisan mulut. Para dokter telah melaporkan berbagai komplikasi, termasuk ruam berlepuh, reaksi mirip sindrom Stevens-Johnson, hingga perburukan kondisi yang sudah ada sebelumnya seperti psoriasis. Di rongga mulut, virus ini telah dikaitkan dengan ulkus, perdarahan gusi, sariawan jamur, nyeri pada sendi rahang, dan gangguan pengecapan saat fase akut.
Tetapi sampai kasus dari Brasil ini, belum pernah ada yang melaporkan chikungunya memicu munculnya kasus baru oral lichen planus — sebuah kondisi mulut kronis yang dimediasi oleh sistem imun.
Apa Itu Oral Lichen Planus?
Oral lichen planus (OLP) adalah penyakit peradangan kronis yang menyerang lapisan rongga mulut. Sistem imun tubuh sendiri — dengan alasan yang masih belum sepenuhnya dipahami — secara keliru menyerang sel-sel mukosa mulut.
Hasilnya adalah pola lesi yang umumnya dapat dikenali oleh dokter gigi berpengalaman pada pemeriksaan visual:
Garis-garis putih halus seperti renda — sering disebut sebagai Wickham's striae
Bercak kemerahan dan tererosi, yang bisa terasa nyeri atau tidak
Lokasi umumnya di mukosa pipi bagian dalam, tepi lidah, dan gusi
OLP bukan sekadar masalah kosmetik. WHO mengklasifikasikannya sebagai gangguan dengan potensi keganasan — artinya, pada sebagian kecil pasien, kondisi ini dapat berubah menjadi kanker mulut seiring waktu. Oleh karena itu, pemantauan jangka panjang sangat penting.
Apa penyebab OLP? Pada kebanyakan kasus, dokter tidak dapat menentukan pemicunya dengan pasti. Asosiasi yang sudah diketahui mencakup obat-obatan tertentu, bahan tambalan gigi, infeksi virus hepatitis C, dan stres. Kasus dari Brasil ini menambahkan satu kemungkinan baru yang menarik: infeksi virus yang baru saja terjadi.
Apa yang Dilakukan Para Dokter
Ketika pasien datang ke klinik, tim dokter mengikuti proses diagnostik yang sangat hati-hati — proses yang sama yang akan diikuti oleh dokter gigi atau spesialis penyakit mulut mana pun saat menghadapi lesi misterius.
Langkah 1: Pemeriksaan Menyeluruh
Pemeriksaan intraoral menunjukkan pola yang khas untuk OLP: plak putih saling terjalin di kedua sisi pipi, disertai dengan area kemerahan dan tererosi pada lidah. Lesi muncul bilateral (di kedua sisi) — petunjuk penting, karena OLP hampir selalu simetris.
Pasien juga tidak memiliki lesi kulit di bagian tubuh manapun — artinya, ini bukan lichen planus generalisata yang menyebar ke mulut. Lesi sepenuhnya terbatas di rongga mulut saja.
Langkah 2: Menyingkirkan Penyebab Lain
Di sinilah kasus ini menjadi menarik. Untuk mendiagnosis OLP yang dipicu oleh sesuatu yang spesifik, dokter terlebih dahulu harus menyingkirkan penyebab-penyebab umum. Tim memerintahkan serangkaian pemeriksaan laboratorium:
Antibodi hepatitis C: non-reaktif (negatif)
Antibodi antinuklear (ANA, penanda penyakit autoimun): non-reaktif
C-reactive protein (penanda inflamasi umum): sedikit meningkat
Faktor rheumatoid: dalam batas normal
Gula darah (HbA1c): 5,9% (tidak diabetes)
Hitung darah lengkap: pada dasarnya normal
Pasien juga tidak mengonsumsi obat yang dapat memicu OLP, tidak menderita hipertensi, dan tidak memiliki paparan pemicu yang diketahui. Penjelasan-penjelasan paling umum telah disingkirkan secara sistematis.
Langkah 3: Biopsi untuk Konfirmasi
Untuk menegakkan diagnosis pasti, sebagian kecil lesi diambil melalui biopsi insisional dan diperiksa di bawah mikroskop. Hasilnya merupakan gambaran khas OLP:
Mukositis interface — peradangan tepat di perbatasan antara lapisan permukaan dan jaringan yang lebih dalam
Degenerasi lapisan sel basal — sel-sel fondasi lapisan mulut mengalami kerusakan
Infiltrat limfosit berbentuk pita — sel-sel imun berbaris tepat di bawah epitel, "menyerang" lapisan tersebut
Civatte bodies — sel-sel apoptotik (sekarat) berukuran kecil, ciri khas mikroskopis dari lichen planus