Skip to Content

Chikungunya & Oral Lichen Planus

April 27, 2026 by
Carigi Indonesia

Chikungunya & Oral Lichen Planus

Chikungunya & Oral Lichen Planus

Ketika Gigitan Nyamuk Kembali "Menghantui" Mulut: Laporan Kasus dari Brasil Mengaitkan Demam Chikungunya dengan Penyakit Mulut Baru

Sepuluh bulan setelah sembuh dari chikungunya, seorang pria 47 tahun mendapati bercak putih aneh di mulutnya. Dokter tidak menemukan penyebabnya — sampai mereka menelusuri kembali jejak virus itu. Kasus yang dipublikasikan di Clinical Case Reports ini adalah kasus pertama yang pernah didokumentasikan tentang munculnya oral lichen planus sebagai komplikasi tertunda dari penyakit yang ditularkan nyamuk ini.

Diagnosis Tak Biasa dari Brasil

Di kota Belo Horizonte, Brasil, seorang pria berusia 47 tahun datang ke klinik gigi dengan masalah yang tidak bisa ia jelaskan. Bercak putih berbentuk seperti renda muncul di bagian dalam pipinya. Area erosif yang aneh menyebar di sisi dan permukaan bawah lidahnya. Lesi-lesi tersebut tidak menyakitkan — tetapi juga tidak kunjung hilang.

Pasien ini bukan perokok. Ia tidak sedang mengonsumsi obat apa pun. Ia tidak mengidap hepatitis C, lupus, atau pemicu umum lainnya untuk kondisi yang dicurigai oleh para dokter giginya. Lesi-lesi itu muncul dua bulan sebelumnya, seakan tanpa sebab.

Namun, ada satu petunjuk penting dalam riwayat medisnya: sepuluh bulan sebelumnya, ia pernah dirawat karena demam chikungunya yang cukup berat. Penyakit itu telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan RT-PCR dan tes antibodi darah. Meskipun fase akutnya sudah lewat, ia masih mengalami nyeri sendi dan masalah pencernaan hampir setahun kemudian.

Tim dokter gigi yang dipimpin oleh Dr. Roberta Rayra Martins-Chaves dan Dr. Ricardo Santiago Gomez dari Faculty of Medical Sciences of Minas Gerais dan Universidade Federal de Minas Gerais (UFMG) akhirnya sampai pada kesimpulan yang luar biasa. Lesi mulut pria itu, mereka laporkan dalam Clinical Case Reports, adalah kasus pertama yang pernah didokumentasikan tentang munculnya oral lichen planus sebagai manifestasi tertunda dari demam chikungunya.

Temuan ini memiliki implikasi penting bagi kawasan tropis — termasuk Indonesia — di mana chikungunya merupakan penyakit endemik.

Apa Itu Chikungunya, dan Mengapa Penting?

Demam chikungunya adalah penyakit virus yang disebarkan oleh nyamuk yang sama dengan pembawa demam berdarah dan Zika — Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Gejala klasiknya menyerang dengan keras dan cepat: demam tinggi, nyeri otot, ruam kulit, dan gejala khasnya — nyeri sendi yang berat, kadang sampai melumpuhkan.

Bagi kebanyakan orang, fase terburuk berakhir dalam beberapa minggu. Tetapi pada sebagian pasien, nyeri sendi tidak kunjung hilang. Berbagai studi menunjukkan bahwa poliartritis persisten, kekakuan pagi hari, dan kelelahan kronis bisa berlangsung berbulan-bulan — bahkan lebih dari tiga tahun setelah infeksi awal.

Yang kurang diketahui — namun sama pentingnya — adalah dampak chikungunya pada kulit dan lapisan mulut. Para dokter telah melaporkan berbagai komplikasi, termasuk ruam berlepuh, reaksi mirip sindrom Stevens-Johnson, hingga perburukan kondisi yang sudah ada sebelumnya seperti psoriasis. Di rongga mulut, virus ini telah dikaitkan dengan ulkus, perdarahan gusi, sariawan jamur, nyeri pada sendi rahang, dan gangguan pengecapan saat fase akut.

Tetapi sampai kasus dari Brasil ini, belum pernah ada yang melaporkan chikungunya memicu munculnya kasus baru oral lichen planus — sebuah kondisi mulut kronis yang dimediasi oleh sistem imun.

Apa Itu Oral Lichen Planus?

Oral lichen planus (OLP) adalah penyakit peradangan kronis yang menyerang lapisan rongga mulut. Sistem imun tubuh sendiri — dengan alasan yang masih belum sepenuhnya dipahami — secara keliru menyerang sel-sel mukosa mulut.

Hasilnya adalah pola lesi yang umumnya dapat dikenali oleh dokter gigi berpengalaman pada pemeriksaan visual:

  • Garis-garis putih halus seperti renda — sering disebut sebagai Wickham's striae

  • Bercak kemerahan dan tererosi, yang bisa terasa nyeri atau tidak

  • Lokasi umumnya di mukosa pipi bagian dalam, tepi lidah, dan gusi

OLP bukan sekadar masalah kosmetik. WHO mengklasifikasikannya sebagai gangguan dengan potensi keganasan — artinya, pada sebagian kecil pasien, kondisi ini dapat berubah menjadi kanker mulut seiring waktu. Oleh karena itu, pemantauan jangka panjang sangat penting.

Apa penyebab OLP? Pada kebanyakan kasus, dokter tidak dapat menentukan pemicunya dengan pasti. Asosiasi yang sudah diketahui mencakup obat-obatan tertentu, bahan tambalan gigi, infeksi virus hepatitis C, dan stres. Kasus dari Brasil ini menambahkan satu kemungkinan baru yang menarik: infeksi virus yang baru saja terjadi.

Apa yang Dilakukan Para Dokter

Ketika pasien datang ke klinik, tim dokter mengikuti proses diagnostik yang sangat hati-hati — proses yang sama yang akan diikuti oleh dokter gigi atau spesialis penyakit mulut mana pun saat menghadapi lesi misterius.

Langkah 1: Pemeriksaan Menyeluruh

Pemeriksaan intraoral menunjukkan pola yang khas untuk OLP: plak putih saling terjalin di kedua sisi pipi, disertai dengan area kemerahan dan tererosi pada lidah. Lesi muncul bilateral (di kedua sisi) — petunjuk penting, karena OLP hampir selalu simetris.

Pasien juga tidak memiliki lesi kulit di bagian tubuh manapun — artinya, ini bukan lichen planus generalisata yang menyebar ke mulut. Lesi sepenuhnya terbatas di rongga mulut saja.

Langkah 2: Menyingkirkan Penyebab Lain

Di sinilah kasus ini menjadi menarik. Untuk mendiagnosis OLP yang dipicu oleh sesuatu yang spesifik, dokter terlebih dahulu harus menyingkirkan penyebab-penyebab umum. Tim memerintahkan serangkaian pemeriksaan laboratorium:

  • Antibodi hepatitis C: non-reaktif (negatif)

  • Antibodi antinuklear (ANA, penanda penyakit autoimun): non-reaktif

  • C-reactive protein (penanda inflamasi umum): sedikit meningkat

  • Faktor rheumatoid: dalam batas normal

  • Gula darah (HbA1c): 5,9% (tidak diabetes)

  • Hitung darah lengkap: pada dasarnya normal

Pasien juga tidak mengonsumsi obat yang dapat memicu OLP, tidak menderita hipertensi, dan tidak memiliki paparan pemicu yang diketahui. Penjelasan-penjelasan paling umum telah disingkirkan secara sistematis.

Langkah 3: Biopsi untuk Konfirmasi

Untuk menegakkan diagnosis pasti, sebagian kecil lesi diambil melalui biopsi insisional dan diperiksa di bawah mikroskop. Hasilnya merupakan gambaran khas OLP:

  • Mukositis interface — peradangan tepat di perbatasan antara lapisan permukaan dan jaringan yang lebih dalam

  • Degenerasi lapisan sel basal — sel-sel fondasi lapisan mulut mengalami kerusakan

  • Infiltrat limfosit berbentuk pita — sel-sel imun berbaris tepat di bawah epitel, "menyerang" lapisan tersebut

  • Civatte bodies — sel-sel apoptotik (sekarat) berukuran kecil, ciri khas mikroskopis dari lichen planus

Dengan setiap kemungkinan penyebab lain telah disingkirkan, dan hanya satu paparan signifikan yang tersisa dalam riwayat pasien — yaitu demam chikungunya — tim menyimpulkan bahwa virus itu adalah pemicu yang paling mungkin.

Mengapa Virus yang Ditularkan Nyamuk Bisa Menyebabkan Lesi Mulut Berbulan-bulan Kemudian?

Ini adalah bagian paling menarik dari kasus ini, dan para penulis menyajikan hipotesis biologis yang masuk akal.

Pada fase kronis chikungunya, para ilmuwan telah mengamati adanya infiltrasi sel inflamasi yang intens ke dalam sendi, disertai dengan ketidakseimbangan sel T regulator (Treg) — "penjaga perdamaian" sistem imun yang biasanya mencegah tubuh menyerang dirinya sendiri.

Ketika fungsi Treg terganggu, sistem imun bisa kehilangan kemampuan menahan diri. Ia mulai menyerang jaringan yang sehat — dan pada individu yang secara genetik rentan, ketidakseimbangan imun semacam inilah yang diduga mendorong terjadinya lichen planus.

Para penulis mengajukan hipotesis bahwa jenis ketidakseimbangan sel T yang sama yang menyebabkan nyeri sendi kronis pada chikungunya juga dapat memicu munculnya oral lichen planus pada lapisan mulut. Dengan kata lain: meskipun virusnya mungkin sudah hilang dari aliran darah, kekacauan imun yang ditinggalkannya terus menyebabkan kerusakan di tempat-tempat yang tidak terduga.

Hipotesis ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk dikonfirmasi. Tetapi mekanismenya secara biologis masuk akal, dan kasus ini cocok dengan teori tersebut.

Bagaimana Nasib Pasiennya?

Karena lesi tidak menyebabkan rasa sakit, tim memilih untuk tidak meresepkan obat sistemik maupun topikal. Pasien hanya diminta untuk kontrol berkala — pendekatan standar untuk OLP yang asimtomatik.

Setelah enam bulan tindak lanjut, lesi belum mengalami regresi. Lesi masih ada, masih bilateral, dan masih menampilkan gambaran khas OLP. Hal ini sesuai dengan apa yang kita ketahui tentang lichen planus: kondisi kronis yang sering menetap selama bertahun-tahun dan memerlukan pemantauan berkelanjutan.

Mengapa Kasus Ini Penting — Terutama bagi Negara Tropis

Meskipun satu laporan kasus tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara definitif, perpaduan antara waktu kejadian, hasil pemeriksaan yang negatif untuk semua penyebab lain, dan plausibilitas biologis membentuk argumen tidak langsung yang kuat. Dan bagi negara-negara di mana wabah chikungunya sering terjadi — termasuk Brasil, India, Indonesia, Filipina, dan sebagian besar Asia Tenggara serta Amerika Latin — implikasinya bisa sangat signifikan.

Pelajaran 1: Lakukan Anamnesis Mendalam pada Pasien dengan Lesi Mulut Baru

Ketika seorang pasien datang dengan oral lichen planus tanpa pemicu yang jelas, dokter gigi sekarang sebaiknya mempertimbangkan untuk menanyakan tentang infeksi virus yang baru saja terjadi — termasuk chikungunya, demam berdarah, dan arbovirus lain yang umum di wilayah masing-masing. Riwayat demam dan nyeri sendi dalam setahun terakhir mungkin ternyata relevan.

Pelajaran 2: Chikungunya Tidak Selalu Berakhir Saat Demamnya Selesai

Pesan kesehatan masyarakat tentang chikungunya umumnya berfokus pada fase akut. Tetapi kasus ini menambah bukti yang semakin banyak bahwa fase kronis dapat menghasilkan berbagai manifestasi tak terduga — yang mempengaruhi sendi, kulit, dan kini juga mukosa mulut.

Pelajaran 3: Dokter Gigi Adalah Bagian Penting dari Tim Perawatan Pasca-Virus

Karena oral lichen planus memiliki risiko kecil tapi nyata untuk berubah menjadi kanker, pasien dengan diagnosis OLP — baik yang dipicu chikungunya maupun penyebab lain — memerlukan kontrol rutin ke dokter gigi. Kasus ini adalah pengingat bahwa dokter gigi dan spesialis penyakit mulut memainkan peran kritis dalam menangani konsekuensi jangka panjang dari penyakit sistemik.

Pelajaran 4: Satu Kasus Membuka Pertanyaan, Bukan Kesimpulan

Para penulis berhati-hati untuk mengakui apa yang dibuktikan dan tidak dibuktikan oleh laporan mereka. Satu kasus dapat menunjukkan bahwa sesuatu mungkin terjadi — tetapi tidak dapat menunjukkan seberapa sering hal itu terjadi, siapa yang berisiko, atau bagaimana seharusnya pengobatannya. Studi yang lebih besar diperlukan untuk menentukan apakah oral lichen planus perlu ditambahkan ke daftar resmi komplikasi pasca-chikungunya.

Kesimpulan

Seorang pria Brasil berusia 47 tahun dengan riwayat chikungunya mengalami oral lichen planus 10 bulan setelah infeksi virusnya — dan setelah pemeriksaan menyeluruh, para dokter menyimpulkan bahwa virus itu hampir pasti menjadi pemicunya. Ini adalah pertama kalinya hubungan ini didokumentasikan, dan menambah daftar komplikasi jangka panjang yang dimediasi sistem imun yang dapat menyusul demam chikungunya.

Bagi mereka yang tinggal di kawasan tropis dan subtropis di mana penyakit yang ditularkan nyamuk ini umum terjadi, kasus ini membawa pengingat yang berguna: penyakit virus yang tampaknya sudah "selesai" dapat terus memengaruhi tubuh dengan cara-cara halus selama berbulan-bulan setelahnya. Dan kadang-kadang, tempat di mana efek jangka panjang itu pertama kali muncul adalah di rongga mulut.

Jika Anda pernah mengalami chikungunya — atau demam berdarah, atau penyakit yang ditularkan nyamuk lain — dan menyadari adanya bercak putih yang tidak biasa, sariawan yang persisten, atau sensasi terbakar di mulut, ada baiknya meminta dokter gigi untuk memeriksanya lebih teliti.

Referensi

Martins-Chaves, R. R., Souza, M. R. F., Xavier, L. F., Martins-Chaves, L. R., Oliveira, A. C. C. B., & Gomez, R. S. (2025). Oral Lichen Planus as a Late Manifestation of Chikungunya Fever in the Oral Mucosa. Clinical Case Reports, 13(5), e70499.

DOI: https://doi.org/10.1002/ccr3.70499

Carigi Indonesia April 27, 2026
Share this post
Tags
Archive
Kanker Gusi & Dasar Mulut Lebih Agresif