Bruxism pada Mahasiswa Kedokteran Gigi: Rahang Paling Terdampak

Tiga dari Empat Mahasiswa Kedokteran Gigi Mengaku Suka Menggertakkan Gigi, dan Rahang yang Paling Sering Jadi Korban
Stres kuliah dan kurang tidur sering dituding sebagai biang kebiasaan menggertakkan atau mengatupkan gigi. Namun survei terhadap 480 mahasiswa kedokteran gigi di Türkiye menemukan sesuatu yang lebih menarik. Hampir tiga perempat responden mengaku punya kebiasaan ini, dan mereka yang melakukannya siang dan malam sekaligus mengalami keluhan sendi rahang paling berat. Ketika banyak faktor dihitung bersamaan, ternyata bukan stres atau kualitas tidur yang paling konsisten berkaitan dengan kebiasaan ini, melainkan keluhan pada sendi rahang itu sendiri.
Kebiasaan Diam-Diam yang Menguras Rahang
Pernahkah Anda bangun tidur dengan rahang terasa pegal, atau tiba-tiba sadar sedang mengatupkan gigi kuat-kuat saat fokus bekerja? Kebiasaan ini dalam dunia kedokteran gigi disebut bruxism. Bentuknya bisa berupa menggertakkan gigi (menggesek-gesekkan gigi atas dan bawah) atau mengatupkannya dengan kuat.
Bruxism dibagi menjadi dua jenis berdasarkan waktunya:
Bruxism saat tidur (sleep bruxism): otot pengunyah aktif tanpa disadari ketika tidur. Biasanya baru diketahui dari laporan orang lain yang mendengar bunyi gigi bergesekan, atau dari rasa pegal di rahang saat bangun.
Bruxism saat terjaga (awake bruxism): kebiasaan mengatupkan atau menggertakkan gigi di siang hari, sering muncul saat seseorang sedang tegang, konsentrasi, atau cemas.
Kebiasaan yang tampak sepele ini bisa berdampak cukup luas, mulai dari nyeri wajah, otot pengunyah yang membesar, gigi aus dan ngilu, tambalan yang mudah rusak, hingga gangguan sendi rahang atau temporomandibular disorder (TMD). TMD dapat ditandai nyeri di sekitar sendi rahang, bunyi "klik" saat membuka mulut, sakit kepala, hingga sulit membuka mulut lebar.
Kini para ahli tidak lagi melihat bruxism sekadar sebagai "kebiasaan buruk" di mulut. Bruxism dipandang sebagai perilaku otot yang dipengaruhi banyak faktor sekaligus: genetik, sistem saraf, kondisi tidur, hingga faktor psikologis seperti stres.
Mengapa Mahasiswa Kedokteran Gigi?
Pendidikan kedokteran gigi dikenal sebagai salah satu jalur studi kesehatan yang paling menuntut. Mahasiswa harus menghadapi beban akademik yang padat sekaligus tanggung jawab praktik klinis pada pasien. Tekanan seperti ini kerap dikaitkan dengan stres dan kualitas tidur yang buruk, dua hal yang selama ini dicurigai berhubungan dengan bruxism.
Masalahnya, hasil penelitian sebelumnya masih simpang siur. Ada studi yang menemukan hubungan kuat antara stres, tidur buruk, dan bruxism. Ada pula yang hanya menemukan hubungan lemah, bahkan tidak menemukan hubungan sama sekali, terutama pada studi yang memakai alat ukur objektif seperti rekaman tidur di laboratorium.
Selain itu, kebanyakan penelitian hanya membedakan bruxism saat tidur dan saat terjaga. Padahal, banyak orang mengalami keduanya sekaligus. Kelompok "gabungan" inilah yang jarang dianalisis secara terpisah.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Ankara University dan Ankara Yıldırım Beyazıt University, Türkiye, yang dipimpin Merve Berika Kadıoğlu dan Meyra Durmaz, melakukan survei daring pada April hingga Mei 2025.
Sebanyak 501 mahasiswa kedokteran gigi dari tahun pertama hingga kelima diundang. Setelah mengeluarkan mereka yang rutin mengonsumsi antidepresan atau obat lain yang bisa memengaruhi hasil, tersisa 480 mahasiswa (331 perempuan dan 149 laki-laki) dengan usia rata-rata sekitar 21 tahun.
Peserta mengisi kuesioner berisi enam bagian:
Data diri dan gaya hidup, seperti jenis kelamin, tahun kuliah, berat badan, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol.
Pertanyaan tentang bruxism, untuk mengelompokkan peserta ke dalam empat kelompok: bruxism saat tidur, bruxism saat terjaga, bruxism gabungan (keduanya), dan tanpa bruxism.
Keluhan sendi rahang (TMD), diukur dengan Fonseca Anamnestic Index.
Tingkat stres selama sebulan terakhir, diukur dengan Perceived Stress Scale-10.
Kualitas tidur, diukur dengan Pittsburgh Sleep Quality Index.
Tingkat keparahan insomnia, diukur dengan Insomnia Severity Index.
Semua alat ukur tersebut sudah teruji keandalannya dalam versi bahasa Turki. Data kemudian dianalisis dua tahap: pertama membandingkan keempat kelompok secara langsung, lalu menganalisis semua faktor secara bersamaan untuk melihat faktor mana yang benar-benar berdiri sendiri setelah pengaruh faktor lain diperhitungkan.
Hasilnya: Bruxism Sangat Umum, Rahang Paling Terdampak
1. Hampir tiga perempat mahasiswa mengaku mengalami bruxism
Sebanyak 73,3% mahasiswa melaporkan memiliki kebiasaan bruxism. Rinciannya:
44,4% mengalami bruxism gabungan (saat tidur dan terjaga)
17,1% hanya saat tidur
11,9% hanya saat terjaga
26,7% tidak mengalami bruxism
Bruxism lebih banyak ditemukan pada mahasiswi. Sekitar 77% anggota kelompok bruxism gabungan adalah perempuan. Para peneliti menduga hal ini berkaitan dengan perbedaan cara merasakan dan mengelola stres, kepekaan terhadap nyeri, kerentanan terhadap gangguan tidur, serta faktor hormonal.
Angka 73,3% ini tergolong sangat tinggi. Namun peneliti mengingatkan bahwa angka ini berasal dari pengakuan peserta sendiri tanpa pemeriksaan klinis, sehingga ada kemungkinan perkiraannya lebih tinggi dari kondisi sebenarnya.
2. Kelompok "gabungan" paling banyak mengeluhkan sendi rahang
Perbedaan paling mencolok terlihat pada keluhan sendi rahang. Skor rata-rata keluhan TMD pada kelompok bruxism gabungan mencapai sekitar 48, lebih dari dua kali lipat kelompok tanpa bruxism yang hanya sekitar 19. Perbedaan ini tergolong besar secara statistik.
Polanya juga terlihat jelas pada kasus berat. Dari seluruh mahasiswa dengan keluhan TMD tingkat berat, hampir 85% berasal dari kelompok bruxism gabungan, dan tidak satu pun berasal dari kelompok tanpa bruxism.
Peneliti menduga, ketika gigi dikatupkan atau digertakkan siang dan malam, beban mekanis pada otot pengunyah dan sendi rahang menumpuk sehingga keluhannya pun lebih berat.
3. Stres dan tidur buruk memang lebih tinggi, tetapi perbedaannya kecil
Kelompok bruxism gabungan juga menunjukkan skor stres sedikit lebih tinggi, kualitas tidur sedikit lebih buruk, dan gejala insomnia sedikit lebih berat dibandingkan kelompok lain. Bruxism saat tidur juga berkaitan dengan skor insomnia yang lebih tinggi.
Akan tetapi, besar perbedaannya kecil. Kualitas tidur yang buruk ternyata juga umum ditemukan pada mahasiswa tanpa bruxism: sekitar 70% dari mereka juga tergolong tidur buruk. Artinya, masalah tidur tampaknya merupakan persoalan umum di kalangan mahasiswa, bukan ciri khas penderita bruxism.
4. Setelah semua faktor dihitung, hanya keluhan rahang yang bertahan
Inilah temuan kuncinya. Ketika peneliti menganalisis semua faktor secara bersamaan (jenis kelamin, kebiasaan merokok, berat badan, tahun kuliah, stres, kualitas tidur, dan insomnia), hanya keluhan sendi rahang yang tetap berkaitan secara mandiri dengan semua jenis bruxism.
Setiap kenaikan satu poin skor keluhan TMD dikaitkan dengan peluang sekitar 8% lebih tinggi untuk masuk kelompok bruxism gabungan. Sebaliknya, stres, kualitas tidur, insomnia, jenis kelamin, dan kebiasaan merokok tidak lagi menunjukkan hubungan yang berdiri sendiri.
Dengan kata lain, stres dan tidur buruk memang sering muncul bersamaan dengan bruxism, tetapi hubungan itu tampaknya ikut "dijelaskan" oleh faktor-faktor lain yang saling tumpang tindih.
Jadi, Apakah Stres Tidak Berpengaruh?
Bukan begitu. Para peneliti menyimpulkan bahwa stres kemungkinan tidak bekerja sendirian. Stres mungkin membuat seseorang lebih rentan, tetapi bruxism muncul dari interaksi banyak faktor: sistem saraf, pola tidur, perilaku, hingga kecenderungan genetik.
Karena itu, penulis menyarankan agar bruxism dipandang dengan pendekatan biopsikososial, yaitu melihat sisi biologis, psikologis, dan sosial sekaligus, bukan semata-mata dari posisi gigi atau gigitan.
Catatan Penting dari Peneliti
Penulis secara terbuka menyampaikan sejumlah keterbatasan:
Hanya berdasarkan pengakuan peserta. Tidak ada pemeriksaan klinis maupun alat perekam aktivitas otot atau tidur, sehingga diagnosis bruxism hanya berada pada tingkat "kemungkinan". Prevalensinya bisa lebih tinggi dari kenyataan.
Kemungkinan tumpang tindih pengukuran. Beberapa pertanyaan di kuesioner keluhan TMD juga menanyakan kebiasaan dan stres, yang mirip dengan pertanyaan bruxism. Sebagian kuatnya hubungan bisa jadi karena kemiripan alat ukur.
Hanya satu waktu pengamatan. Desain studi potong lintang tidak bisa menjawab mana yang lebih dulu: bruxism memicu keluhan rahang, atau sebaliknya nyeri rahang memperparah bruxism. Keduanya mungkin saling memengaruhi.
Satu kampus saja. Peserta berasal dari satu fakultas dengan mayoritas perempuan, sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk populasi lain.
Bruxism saat terjaga mungkin kurang terdeteksi. Kuesioner hanya menanyakan kebiasaan menggertakkan dan mengatupkan gigi, tidak termasuk kebiasaan lain seperti mendorong rahang ke depan atau menegangkan rahang tanpa gigi bersentuhan.