Skip to Content

Bruxism pada Bayi: Normal atau Bahaya?

May 5, 2026 by
Carigi Indonesia

Bruxism pada Bayi: Normal atau Bahaya?

Bruxism pada Bayi: Normal atau Bahaya?

Apakah Bayi Menggemeretakkan Gigi Itu Normal? Studi Baru Mengungkap Fakta Menarik

Memahami Kebiasaan Menggesek Gigi pada Anak Usia Dini

Kebiasaan menggesek atau menggemeretakkan gigi (bruxism) sering dianggap sebagai masalah, terutama pada orang dewasa karena berkaitan dengan stres, gangguan sendi rahang, hingga kerusakan gigi.

Namun, bagaimana jika hal ini terjadi pada bayi atau balita?

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di Journal of Oral Rehabilitation menunjukkan bahwa pada anak usia dini, kebiasaan ini mungkin bukan masalah, melainkan bagian dari proses perkembangan alami.

Kenapa Topik Ini Penting?

Banyak orang tua merasa khawatir saat melihat anaknya menggesek gigi saat terjaga (awake bruxism). Kebiasaan ini bahkan bisa muncul sejak usia sekitar 10 bulan.

Selama ini, bruxism sering dikaitkan dengan faktor emosional seperti stres atau kecemasan. Namun pada anak kecil, penyebabnya bisa berbeda. Di fase ini, gigi, rahang, dan sistem mulut masih berkembang—sehingga kemungkinan besar berkaitan dengan proses tumbuh gigi (teething).

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Penelitian ini melibatkan 144 anak usia 4 hingga 36 bulan di Brasil.

Metode yang digunakan meliputi:

  • Wawancara dengan orang tua atau pengasuh

  • Pengisian kuesioner terkait kebiasaan oral (misalnya penggunaan dot atau mengisap jari)

  • Laporan frekuensi anak menggesek gigi saat terjaga

  • Pemeriksaan langsung oleh dokter gigi untuk menghitung jumlah gigi susu yang sudah tumbuh

Tujuan utamanya adalah melihat hubungan antara:

  • Jumlah gigi susu yang sudah erupsi (tumbuh)

  • Frekuensi anak menggesek gigi saat bangun

Hasil Utama: Semakin Banyak Gigi, Semakin Jarang Menggesek

Beberapa temuan penting dari studi ini:

  • Sekitar 16,7% anak dilaporkan mengalami bruxism saat terjaga

  • Tidak ditemukan hubungan signifikan antara kebiasaan ini dengan:

    • Usia

    • Jenis kelamin

    • Kebiasaan oral (seperti dot atau menggigit benda)

    • Gejala tumbuh gigi (misalnya rewel atau banyak air liur)

Namun, ada satu temuan menarik:

👉 Anak dengan jumlah gigi geraham dan taring yang lebih banyak cenderung lebih jarang menggesek gigi.

Apa Artinya?

Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan menggesek gigi pada anak kecil kemungkinan berkaitan dengan ketidakstabilan rahang saat gigi baru tumbuh.

Saat jumlah gigi masih sedikit:

  • Gigitan belum stabil

  • Rahang masih beradaptasi

Seiring bertambahnya gigi—terutama geraham dan taring:

  • Struktur gigitan menjadi lebih stabil

  • Kebiasaan menggesek gigi pun berkurang

Dengan kata lain:

Menggesek gigi bisa menjadi bagian dari proses adaptasi alami tubuh.

Apakah Ini Berbahaya?

Tidak selalu.

Penelitian ini mendukung bahwa bruxism pada anak usia dini bisa bersifat:

  • Adaptif (normal dalam perkembangan)

  • Sementara

  • Bagian dari proses tumbuh kembang rongga mulut

Bahkan, kebiasaan ini mungkin membantu:

  • Mengurangi rasa tidak nyaman saat tumbuh gigi

  • Merangsang perkembangan struktur mulut

  • Menstabilkan gerakan rahang

Pesan Penting untuk Orang Tua dan Tenaga Kesehatan

  • Menggesek gigi pada balita cukup umum terjadi

  • Tidak selalu menandakan gangguan kesehatan

  • Tetap perlu dipantau, terutama jika:

    • Terjadi sangat sering

    • Berlanjut hingga usia lebih besar

Pendekatan yang bijak adalah memahami kondisi ini dalam konteks perkembangan anak, bukan langsung menganggapnya sebagai masalah.

Kesimpulan

Studi ini memberikan sudut pandang baru yang menenangkan:

menggesek gigi pada bayi dan balita bisa jadi merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang.

Alih-alih langsung dikhawatirkan, kondisi ini sebaiknya dipahami sebagai bentuk adaptasi tubuh selama fase penting perkembangan gigi dan rahang.

Referensi

Moreira-Santos LF, Schavarski CR, Dezan-Garbelini CC, et al.

Association Between Tooth Eruption and Parent-Reported Awake Bruxism in Early Childhood. Journal of Oral Rehabilitation. 2025;52:1877–1883.

DOI: https://doi.org/10.1111/joor.14048


Carigi Indonesia May 5, 2026
Share this post
Tags
Archive
Obesitas & Penyembuhan Gusi