Bisakah Karang Gigi Mengungkap Diabetes? Studi Awal Temukan Kadar Kalium Lebih Tinggi pada Penderita Diabetes

Karang gigi biasanya langsung dibuang setelah dibersihkan dokter gigi. Namun sekelompok peneliti di Hungaria bertanya: bagaimana jika karang gigi menyimpan "jejak" kesehatan tubuh? Mereka menganalisis karang gigi dari 57 orang dan menemukan bahwa kadar kalium di karang gigi penderita diabetes tipe 2 rata-rata lebih tinggi dibandingkan orang tanpa diabetes. Kalium juga ditemukan di seluruh sampel karang gigi penderita diabetes. Temuan ini menarik, tetapi masih sangat awal: jumlah sampelnya kecil, perbedaannya berada tepat di batas bermakna secara statistik, dan belum diuji apakah cara ini benar-benar bisa mendeteksi diabetes.
Diabetes dan Kesehatan Mulut
Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme jangka panjang yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi dan peradangan di seluruh tubuh. Penderita diabetes diketahui lebih sering dan lebih parah mengalami penyakit gusi.
Penyebab utama penyakit gusi adalah plak, yaitu lapisan lengket berisi bakteri yang menempel di gigi. Bila tidak dibersihkan, plak lama-kelamaan mengeras menjadi karang gigi (kalkulus). Karang gigi membuat plak makin mudah menempel dan makin sulit dibersihkan dengan sikat gigi.
Menariknya, karang gigi tidak hanya terdiri dari sisa bakteri. Saat terbentuk, karang gigi juga "menangkap" zat-zat dari air liur dan cairan gusi, termasuk mineral seperti kalsium, fosfor, dan kalium. Karena terbentuk perlahan dalam waktu lama, karang gigi diduga bisa menyimpan catatan jangka panjang tentang kondisi tubuh, berbeda dengan air liur yang hanya mencerminkan kondisi sesaat.
Penelitian sebelumnya menemukan bahwa air liur penderita diabetes sering memiliki kadar kalium yang lebih tinggi, meski hasilnya belum selalu seragam. Para peneliti ingin mengetahui apakah perbedaan ini juga terlihat pada karang gigi.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi University of Debrecen dan HUN-REN Institute for Nuclear Research, Hungaria, yang dipimpin Z. Szepesi, I. Varga, dan K. Tőkési, menganalisis 57 sampel karang gigi:
17 sampel dari penderita diabetes tipe 2 (8 perempuan dan 9 laki-laki, usia rata-rata 49 tahun),
40 sampel dari orang tanpa diabetes (19 perempuan dan 21 laki-laki, usia rata-rata 47,5 tahun).
Karang gigi diambil saat pembersihan karang gigi rutin menggunakan alat khusus, lalu disimpan kering dalam tabung steril.
Sampel kemudian diperiksa dengan mikroskop elektron yang dilengkapi alat untuk mengukur komposisi unsur kimia di permukaannya. Peneliti mengukur kadar kalium dan unsur lain pada area kecil berukuran 0,1 × 0,1 mm di permukaan setiap sampel karang gigi.
Hasilnya
1. Kalium lebih tinggi pada penderita diabetes
Rata-rata kadar kalium di karang gigi penderita diabetes sekitar 0,48% (berdasarkan berat), dibandingkan sekitar 0,19% pada orang tanpa diabetes, atau kira-kira 2,5 kali lipat.
Namun perbedaan ini berada tepat di batas bermakna secara statistik (nilai p = 0,050). Bila diukur dengan cara lain (berdasarkan jumlah atom), perbedaannya bahkan sedikit di atas batas tersebut (p = 0,056), sehingga tergolong belum bermakna. Para peneliti menyebutnya sebagai kecenderungan yang menjanjikan.
2. Kalium ditemukan di semua sampel penderita diabetes
Kalium terdeteksi pada seluruh sampel karang gigi dari penderita diabetes. Pada sebagian sampel dari orang tanpa diabetes, kalium sangat rendah atau bahkan tidak terdeteksi sama sekali.
3. Unsur lain
Karbon dan oksigen menjadi unsur paling banyak pada kedua kelompok. Sampel dari penderita diabetes menunjukkan oksigen sedikit lebih tinggi, serta kalsium dan fosfor sedikit lebih rendah. Dari pengamatan mikroskop, bentuk permukaan karang gigi pada kedua kelompok tidak tampak berbeda.
Mengapa Kalium Bisa Lebih Tinggi?
Para peneliti menduga, kalium yang lebih tinggi di air liur penderita diabetes ikut "terperangkap" saat plak mengeras menjadi karang gigi.
Menariknya, kalium juga diduga ikut berperan dalam penyakit gusi. Penelitian lain menunjukkan bahwa kadar kalium yang tinggi di sekitar gusi dapat:
mengubah perilaku bakteri plak menjadi lebih merusak,
memicu sel gusi menghasilkan lebih banyak zat peradangan,
dan mengurangi zat pelindung alami di gusi.
Bila benar, kalium dalam karang gigi tidak hanya menjadi penanda, tetapi juga mungkin ikut memperparah peradangan gusi, terutama pada penderita diabetes yang sistem kekebalannya sudah cenderung bereaksi berlebihan.
Catatan Penting
Para peneliti mengakui sejumlah keterbatasan: jumlah sampel kecil, faktor seperti asupan kalium dari makanan, obat-obatan, dan fungsi ginjal tidak diperhitungkan, padahal semuanya memengaruhi kadar kalium, dan alat yang digunakan hanya mengukur lapisan permukaan karang gigi. Mereka menegaskan bahwa data ini masih pendahuluan.
Ada beberapa hal lain yang patut dicermati pembaca (catatan redaksi):
Kesimpulan jurnal lebih kuat daripada datanya. Bagian kesimpulan menyebut kalium tinggi sebagai "tanda jelas diabetes" dan bisa mendeteksi diabetes "bahkan pada tahap awal". Padahal perbedaannya berada tepat di batas bermakna, dan semua peserta diabetes sudah terdiagnosis sebelumnya. Penelitian ini belum menguji apakah karang gigi bisa mendeteksi diabetes yang belum diketahui.
Uji statistik yang dipilih cenderung menguntungkan. Peneliti menggunakan uji satu arah, yang hanya mencari peningkatan kalium pada penderita diabetes. Uji jenis ini lebih mudah mencapai batas bermakna dibandingkan uji dua arah yang lebih umum digunakan.
Kadar kalium sangat bervariasi antarorang. Simpangan bakunya lebih besar daripada nilai rata-ratanya, sehingga banyak orang dari kedua kelompok kemungkinan memiliki kadar yang tumpang tindih.
Kedua kelompok tidak sepenuhnya sebanding. Semua perokok (16 orang) berada di kelompok tanpa diabetes, dan kebersihan mulut kelompok diabetes sedikit lebih buruk. Kadar gula darah peserta juga tidak dilaporkan.
Banyak penelitian sebelumnya tentang kalium dalam air liur juga belum menunjukkan hasil yang seragam.
Kesimpulan
Penelitian kecil ini menemukan kecenderungan kadar kalium yang lebih tinggi di karang gigi penderita diabetes tipe 2 dibandingkan orang tanpa diabetes. Para peneliti melihat potensi karang gigi, yang biasanya dibuang setelah pembersihan, sebagai bahan pemeriksaan yang murah dan tanpa rasa sakit untuk penelitian tentang hubungan diabetes dan kesehatan mulut.
Meski demikian, temuan ini masih sangat awal dan belum bisa digunakan untuk mendeteksi atau mendiagnosis diabetes. Penelitian yang lebih besar dan dirancang lebih baik diperlukan untuk membuktikannya.
Bagi masyarakat, pesannya: saat ini, diabetes tetap didiagnosis melalui pemeriksaan gula darah, bukan dari karang gigi. Namun penelitian ini kembali mengingatkan bahwa diabetes dan kesehatan gusi saling berkaitan. Bersihkan karang gigi secara rutin ke dokter gigi, sikat gigi dua kali sehari, dan bersihkan sela gigi. Bila Anda menyandang diabetes, sampaikan kepada dokter gigi agar kesehatan gusi Anda bisa dipantau dengan lebih cermat. Bila Anda sering mengalami gusi berdarah atau bengkak disertai keluhan seperti sering haus, sering buang air kecil, atau mudah lelah, periksakan juga gula darah Anda ke dokter.
Referensi
Szepesi Z, Kállai R, Csík A, Varga I, Tőkési K. Potassium in dental calculus as an indicator of diabetes. BMC Oral Health. 2026;26:301. DOI: https://doi.org/10.1186/s12903-025-07442-9