Benjolan Gusi Pyogenic Granuloma & Cara Mengatasinya

Lesi jinak yang dapat berkembang cukup besar
Pembengkakan pada gusi merupakan kondisi yang cukup sering ditemui dalam praktik kedokteran gigi. Namun dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, pembengkakan tersebut dapat tumbuh cukup besar hingga mengganggu fungsi mulut seperti mengunyah atau berbicara.
Sebuah laporan kasus yang dipublikasikan pada tahun 2025 menggambarkan kondisi tersebut melalui temuan pembengkakan gusi eksophitik yang luas pada seorang pasien muda. Studi ini menyoroti pentingnya diagnosis dini dan penanganan yang tepat untuk mencegah kerusakan jaringan gigi yang lebih serius.
Mengenal Pyogenic Granuloma
Lesi inflamasi jinak pada jaringan gusi
Salah satu penyebab pembengkakan gusi adalah pyogenic granuloma (PG), yaitu lesi jinak yang berasal dari respon inflamasi jaringan. Lesi ini juga dikenal sebagai lobular capillary hemangioma karena berkaitan dengan proliferasi pembuluh darah kecil di jaringan lunak.
Pyogenic granuloma umumnya muncul sebagai:
benjolan berwarna merah hingga merah keunguan
permukaan halus atau berlobus
mudah berdarah saat disentuh
Lesi ini paling sering ditemukan pada jaringan gingiva, meskipun dapat muncul di bagian lain rongga mulut. Ukurannya biasanya kecil, namun dalam beberapa kasus dapat berkembang menjadi cukup besar.
Kasus yang Dilaporkan
Pembengkakan gusi pada pasien dewasa muda
Dalam laporan ini, seorang perempuan berusia 21 tahun datang ke klinik gigi dengan keluhan nyeri dan pembengkakan besar di area gigi geraham bawah kiri. Pembengkakan tersebut telah muncul sekitar satu tahun sebelumnya dan perlahan semakin membesar.
Pemeriksaan intraoral menunjukkan adanya massa jaringan lunak berwarna merah pucat berukuran sekitar 15 × 15 mm yang menutupi permukaan kunyah gigi geraham pertama dan kedua. Lesi tersebut bertangkai (pedunculated), menutupi sisi bukal dan lingual gigi, serta mudah berdarah ketika tersentuh.
Selain itu, pasien diketahui memiliki kebersihan mulut yang kurang baik, bahkan tidak menyikat gigi pada sisi rahang tersebut selama beberapa bulan.
Pemeriksaan Diagnostik
Peran radiografi dan pemeriksaan histopatologi
Pemeriksaan radiografi menggunakan orthopantomogram (OPG) menunjukkan adanya karies yang luas pada gigi geraham bawah kiri hingga mencapai ruang pulpa. Meskipun demikian, struktur akar gigi masih utuh dan tidak ditemukan kerusakan tulang yang signifikan di sekitar gigi tersebut.
Karena beberapa lesi mulut dapat memiliki tampilan klinis yang serupa, dokter juga mempertimbangkan beberapa kemungkinan diagnosis lain, seperti:
peripheral giant cell granuloma
peripheral ossifying fibroma
gingival hyperplasia
lobular capillary hemangioma
bahkan kemungkinan keganasan seperti karsinoma sel skuamosa
Diagnosis pasti kemudian ditegakkan melalui pemeriksaan histopatologi dari jaringan yang diangkat.
Penanganan dan Prosedur Bedah
Eksisi lesi dan perawatan gigi
Penanganan dilakukan melalui eksisi bedah terhadap lesi dengan anestesi lokal. Lesi diangkat secara menyeluruh dari pangkalnya, diikuti dengan:
pembersihan karies gigi
kuretase periodontal
pemasangan tambalan sementara
Setelah prosedur, pasien juga diberikan edukasi untuk menjaga kebersihan mulut serta menggunakan obat kumur chlorhexidine secara rutin.
reports-08-00052
Hasil pemeriksaan histopatologi menunjukkan adanya proliferasi pembuluh darah kecil dengan infiltrasi sel inflamasi, yang konsisten dengan diagnosis pyogenic granuloma. Tidak ditemukan tanda keganasan pada jaringan tersebut.
reports-08-00052
Pada kunjungan kontrol satu minggu kemudian, luka menunjukkan proses penyembuhan yang sangat baik tanpa tanda kekambuhan.
Pelajaran Penting dari Kasus Ini
Pentingnya diagnosis dan intervensi dini
Walaupun pyogenic granuloma merupakan lesi jinak, kasus ini menunjukkan bahwa lesi tersebut dapat berkembang cukup besar jika tidak segera ditangani. Salah satu alasan keterlambatan penanganan adalah karena lesi ini sering tidak menimbulkan rasa nyeri yang signifikan, sehingga pasien menunda untuk mencari perawatan.
reports-08-00052
Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah:
kerusakan jaringan gigi yang lebih luas
gangguan fungsi mengunyah
risiko kekambuhan lesi