Bakteri Probiotik untuk Mencegah Karies Gigi

Streptococcus cristatus Berpotensi Menyeimbangkan Kembali Mikroba Mulut di Kondisi Asam
Gigi berlubang masih menjadi salah satu penyakit paling umum di dunia. Meski sikat gigi, fluoride, dan edukasi sudah luas dilakukan, masalah karies tetap tinggi. Kini, penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of Oral Microbiology (2025)* menawarkan pendekatan berbeda: bukan membunuh semua bakteri, tetapi menyeimbangkan kembali ekosistem mikroba di dalam mulut.
Penelitian ini mengevaluasi potensi Streptococcus cristatus, bakteri penghuni alami rongga mulut, sebagai kandidat probiotik untuk membantu mencegah karies.
Karies: Masalah Ketidakseimbangan, Bukan Sekadar Satu Bakteri Jahat
Karies tidak hanya disebabkan oleh satu spesies bakteri. Penyakit ini muncul ketika komunitas mikroba dalam plak gigi berubah menjadi lebih asam (disebut disbiosis).
Ketika kita sering mengonsumsi gula:
Bakteri memfermentasi gula
Asam diproduksi
pH plak turun
Email gigi mulai mengalami demineralisasi
Dalam kondisi sehat, saliva membantu menetralkan asam. Namun jika paparan gula terlalu sering, keseimbangan terganggu dan bakteri penghasil asam menjadi dominan.
Karena itu, strategi pencegahan modern mulai berfokus pada modulasi mikrobioma—menjaga keseimbangan bakteri, bukan sekadar membasmi semuanya.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Tim peneliti menggunakan model biofilm kompleks berbasis saliva manusia, sehingga lebih menyerupai plak gigi alami dibandingkan model dua atau tiga bakteri saja.
Tahapan Penelitian:
Membentuk biofilm dari saliva empat donor sehat
Menambahkan S. cristatus ke biofilm yang sudah terbentuk 24 jam
Menginkubasi selama 48 jam dalam dua kondisi:
pH netral (7,0)
pH-cycling (8 jam netral + 16 jam asam pH 5,5), mensimulasikan kondisi kariogenik akibat konsumsi gula
Parameter yang diukur:
Biomassa biofilm (jumlah plak yang terbentuk)
Produksi asam laktat
Produksi hidrogen peroksida
Komposisi mikroba (melalui analisis 16S rRNA)
Hasil Utama Penelitian
1️⃣ S. cristatus Berhasil Berintegrasi ke Biofilm
Bakteri ini mampu masuk dan bertahan dalam biofilm yang sudah terbentuk sebelumnya. Ini penting, karena banyak probiotik gagal berkolonisasi dalam komunitas mikroba yang sudah stabil.
2️⃣ Mengurangi Biomassa dan Produksi Asam
Di bawah kondisi pH-cycling (kondisi kariogenik):
Biomassa biofilm menurun secara konsisten pada semua donor
Produksi asam laktat berkurang signifikan
Di kondisi pH netral:
Efeknya lebih bervariasi antar donor
Namun produksi asam tetap menurun
Artinya, efek perlindungan justru lebih kuat pada kondisi asam—situasi yang paling berisiko menyebabkan karies.
3️⃣ Mencegah Pergeseran Mikroba Menuju Disbiosis
Analisis mikrobioma menunjukkan bahwa S. cristatus:
Menurunkan dominasi Streptococcus salivarius/vestibularis (berkorelasi dengan biomassa dan produksi asam tinggi)
Meningkatkan keberagaman spesies (species richness) pada kondisi asam
Membantu mempertahankan stabilitas komunitas mikroba
Keanekaragaman mikroba yang lebih tinggi umumnya diasosiasikan dengan kondisi ekosistem yang lebih sehat dan stabil.
4️⃣ Peran Hidrogen Peroksida
Di kondisi netral, S. cristatus meningkatkan produksi hidrogen peroksida, yang dapat menghambat bakteri penghasil asam.
Namun di kondisi asam berkepanjangan, hidrogen peroksida tidak terdeteksi—meski efek anti-kariogenik tetap ada. Ini menunjukkan kemungkinan adanya mekanisme tambahan selain produksi peroksida.
Mengapa Penelitian Ini Penting?
Banyak studi probiotik sebelumnya menggunakan model sederhana yang tidak merepresentasikan kompleksitas plak alami. Penelitian ini menggunakan:
Biofilm multi-spesies
Donor yang berbeda (memperhitungkan variasi individu)
Simulasi kondisi kariogenik realistis
Menariknya, meski terdapat variasi antar individu, efek penurunan produksi asam di kondisi asam terjadi secara konsisten.
Keterbatasan Studi
Penulis juga mencatat beberapa keterbatasan:
Permukaan yang digunakan adalah polistirena, bukan email gigi
Streptococcus mutans tidak ditemukan pada donor
Keanekaragaman mikroba lebih rendah dibanding saliva asli
Pengaturan pH menggunakan sistem buffer, bukan dinamika saliva alami
Karena itu, penelitian lanjutan berbasis model in situ dan uji klinis tetap diperlukan.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa Streptococcus cristatus:
Dapat berintegrasi ke dalam biofilm yang sudah terbentuk
Menurunkan biomassa dan produksi asam
Menghambat pergeseran mikroba menuju kondisi disbiosis
Meningkatkan stabilitas komunitas mikroba dalam kondisi asam