Skip to Content

Bakteri Probiotik untuk Mencegah Karies Gigi

March 4, 2026 by
Carigi Indonesia

Bakteri Probiotik untuk Mencegah Karies Gigi

Bakteri Probiotik untuk Mencegah Karies Gigi

Streptococcus cristatus Berpotensi Menyeimbangkan Kembali Mikroba Mulut di Kondisi Asam

Gigi berlubang masih menjadi salah satu penyakit paling umum di dunia. Meski sikat gigi, fluoride, dan edukasi sudah luas dilakukan, masalah karies tetap tinggi. Kini, penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of Oral Microbiology (2025)* menawarkan pendekatan berbeda: bukan membunuh semua bakteri, tetapi menyeimbangkan kembali ekosistem mikroba di dalam mulut.

Penelitian ini mengevaluasi potensi Streptococcus cristatus, bakteri penghuni alami rongga mulut, sebagai kandidat probiotik untuk membantu mencegah karies.

Karies: Masalah Ketidakseimbangan, Bukan Sekadar Satu Bakteri Jahat

Karies tidak hanya disebabkan oleh satu spesies bakteri. Penyakit ini muncul ketika komunitas mikroba dalam plak gigi berubah menjadi lebih asam (disebut disbiosis).

Ketika kita sering mengonsumsi gula:

  • Bakteri memfermentasi gula

  • Asam diproduksi

  • pH plak turun

  • Email gigi mulai mengalami demineralisasi

Dalam kondisi sehat, saliva membantu menetralkan asam. Namun jika paparan gula terlalu sering, keseimbangan terganggu dan bakteri penghasil asam menjadi dominan.

Karena itu, strategi pencegahan modern mulai berfokus pada modulasi mikrobioma—menjaga keseimbangan bakteri, bukan sekadar membasmi semuanya.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Tim peneliti menggunakan model biofilm kompleks berbasis saliva manusia, sehingga lebih menyerupai plak gigi alami dibandingkan model dua atau tiga bakteri saja.

Tahapan Penelitian:

  1. Membentuk biofilm dari saliva empat donor sehat

  2. Menambahkan S. cristatus ke biofilm yang sudah terbentuk 24 jam

  3. Menginkubasi selama 48 jam dalam dua kondisi:

    • pH netral (7,0)

    • pH-cycling (8 jam netral + 16 jam asam pH 5,5), mensimulasikan kondisi kariogenik akibat konsumsi gula

Parameter yang diukur:

  • Biomassa biofilm (jumlah plak yang terbentuk)

  • Produksi asam laktat

  • Produksi hidrogen peroksida

  • Komposisi mikroba (melalui analisis 16S rRNA)

Hasil Utama Penelitian

1️⃣ S. cristatus Berhasil Berintegrasi ke Biofilm

Bakteri ini mampu masuk dan bertahan dalam biofilm yang sudah terbentuk sebelumnya. Ini penting, karena banyak probiotik gagal berkolonisasi dalam komunitas mikroba yang sudah stabil.

2️⃣ Mengurangi Biomassa dan Produksi Asam

Di bawah kondisi pH-cycling (kondisi kariogenik):

  • Biomassa biofilm menurun secara konsisten pada semua donor

  • Produksi asam laktat berkurang signifikan

Di kondisi pH netral:

  • Efeknya lebih bervariasi antar donor

  • Namun produksi asam tetap menurun

Artinya, efek perlindungan justru lebih kuat pada kondisi asam—situasi yang paling berisiko menyebabkan karies.

3️⃣ Mencegah Pergeseran Mikroba Menuju Disbiosis

Analisis mikrobioma menunjukkan bahwa S. cristatus:

  • Menurunkan dominasi Streptococcus salivarius/vestibularis (berkorelasi dengan biomassa dan produksi asam tinggi)

  • Meningkatkan keberagaman spesies (species richness) pada kondisi asam

  • Membantu mempertahankan stabilitas komunitas mikroba

Keanekaragaman mikroba yang lebih tinggi umumnya diasosiasikan dengan kondisi ekosistem yang lebih sehat dan stabil.

4️⃣ Peran Hidrogen Peroksida

Di kondisi netral, S. cristatus meningkatkan produksi hidrogen peroksida, yang dapat menghambat bakteri penghasil asam.

Namun di kondisi asam berkepanjangan, hidrogen peroksida tidak terdeteksi—meski efek anti-kariogenik tetap ada. Ini menunjukkan kemungkinan adanya mekanisme tambahan selain produksi peroksida.

Mengapa Penelitian Ini Penting?

Banyak studi probiotik sebelumnya menggunakan model sederhana yang tidak merepresentasikan kompleksitas plak alami. Penelitian ini menggunakan:

  • Biofilm multi-spesies

  • Donor yang berbeda (memperhitungkan variasi individu)

  • Simulasi kondisi kariogenik realistis

Menariknya, meski terdapat variasi antar individu, efek penurunan produksi asam di kondisi asam terjadi secara konsisten.

Keterbatasan Studi

Penulis juga mencatat beberapa keterbatasan:

  • Permukaan yang digunakan adalah polistirena, bukan email gigi

  • Streptococcus mutans tidak ditemukan pada donor

  • Keanekaragaman mikroba lebih rendah dibanding saliva asli

  • Pengaturan pH menggunakan sistem buffer, bukan dinamika saliva alami

Karena itu, penelitian lanjutan berbasis model in situ dan uji klinis tetap diperlukan.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa Streptococcus cristatus:

  • Dapat berintegrasi ke dalam biofilm yang sudah terbentuk

  • Menurunkan biomassa dan produksi asam

  • Menghambat pergeseran mikroba menuju kondisi disbiosis

  • Meningkatkan stabilitas komunitas mikroba dalam kondisi asam

Temuan ini mendukung potensi S. cristatus sebagai kandidat probiotik oral generasi baru untuk pencegahan karies berbasis modulasi mikrobioma.

Referensi : 

Cai, Y., Wu, L., Brandt, B. W., Buijs, M. J., Wei, X., Liu, H., & Deng, D. (2025). Streptococcus cristatus reduces cariogenicity of saliva-derived microcosms under pH-dependent conditions. Journal of Oral Microbiology, 17(1), 2565450. https://doi.org/10.1080/20002297.2025.2565450


Carigi Indonesia March 4, 2026
Share this post
Tags
Archive
Kaitan Jamur & Bakteri pada Karies Gigi