Bakteri Air Liur Penanda Karsinoma Sel Skuamosa Mulut

Bisakah Bakteri di Air Liur Menjadi Penanda Kanker Mulut?
Bayangkan mulut Anda sebagai sebuah kota kecil yang tidak pernah benar-benar sepi. Di setiap sudutnya di sela gigi, di permukaan lidah, di lipatan gusi hidup ratusan jenis bakteri yang berbagi ruang, makanan, dan udara. Sebagian besar dari mereka tidak berbahaya, bahkan ikut menjaga keseimbangan; hanya segelintir yang biasa dituding sebagai biang gigi berlubang atau bau mulut. Kita jarang memikirkannya, tetapi "penduduk" mulut ini punya susunan komunitas yang khas semacam sensus populasi mikroskopis yang diam-diam mencerminkan kondisi kesehatan mulut kita.
Pertanyaannya: apa yang terjadi pada sensus itu ketika mulut perlahan bergerak menuju penyakit yang jauh lebih serius kanker? Sebuah penelitian terbaru dari Jepang mencoba menjawabnya, dan temuannya membuka kemungkinan yang menarik: perubahan pada komunitas bakteri di air liur tampaknya bisa menjadi petunjuk untuk membaca perjalanan kanker mulut, bahkan sejak tahap-tahap awalnya.
Kanker Mulut dan "Zona Abu-Abu" Sebelum Kanker
Kanker mulut yang paling umum disebut karsinoma sel skuamosa rongga mulut (dalam istilah medis disingkat OSCC). Kanker ini punya satu masalah klasik: sering baru ketahuan setelah stadiumnya lanjut. Padahal, seperti kebanyakan kanker, semakin dini terdeteksi, semakin besar peluang kesembuhannya. Cara pemeriksaan yang ada sekarang umumnya mengandalkan pengamatan langsung oleh dokter lalu dipastikan lewat biopsi tindakan mengambil contoh jaringan, yang tentu tidak nyaman dan tidak praktis untuk skrining massal.
Menariknya, kanker mulut jarang muncul tiba-tiba. Sering kali ada tahap "zona abu-abu" lebih dulu, berupa kelainan yang belum ganas tetapi berpotensi menjadi ganas istilahnya OPMD (oral potentially malignant disorders, atau kelainan mulut yang berpotensi menjadi ganas). Dua contoh yang paling dikenal adalah leukoplakia (bercak putih yang tidak bisa dikerok) dan oral lichen planus (peradangan kronis pada lapisan mulut). Sebagian besar lesi ini tidak akan pernah berubah menjadi kanker tetapi sebagian kecil bisa. Persoalannya, sampai hari ini sulit memprediksi lesi mana yang "aman" dan mana yang diam-diam sedang menuju keganasan.
Di sinilah bakteri masuk ke dalam cerita.
Kenapa Bakteri Mulut Jadi Tersangka
Selama bertahun-tahun, para ilmuwan makin menyadari bahwa mikroba yang hidup di tubuh kita bukan sekadar penumpang pasif. Di usus, misalnya, kaitan antara komposisi bakteri tertentu dan kanker usus besar sudah banyak diteliti. Di mulut, dugaan serupa mulai menguat: ketika keseimbangan komunitas bakteri terganggu (kondisi yang disebut dysbiosis), sebagian mikroba dapat memicu peradangan berkepanjangan dan peradangan kronis adalah salah satu "lahan subur" yang dikenal bisa mendorong sel berubah menjadi kanker.
Sudah ada beberapa studi yang menunjukkan perbedaan komunitas bakteri antara orang sehat, penderita lesi prakanker, dan pasien kanker mulut. Namun, masih sedikit penelitian yang benar-benar memetakan bagaimana komunitas bakteri ini bergeser dari tahap ke tahap dari mulut sehat, ke prakanker, lalu ke kanker tahap awal, sampai kanker tahap lanjut. Justru celah itulah yang ingin diisi oleh tim peneliti dari Jepang ini.
Yang Dilakukan Para Peneliti: Membaca "Barcode" Bakteri dari Air Liur
Tim dari Tohoku University Graduate School of Dentistry di Sendai, Jepang, mengumpulkan sampel air liur dari 188 orang yang dikelompokkan berdasarkan kondisi mulut mereka:
50 orang sebagai kelompok kontrol (mulut sehat, tanpa lesi),
77 orang dengan lesi prakanker (OPMD),
41 orang dengan kanker mulut tahap awal (early OSCC), dan
20 orang dengan kanker mulut tahap lanjut (advanced OSCC).
Alih-alih mengambil jaringan lewat biopsi, mereka cukup memakai air liur sesuatu yang mudah dan tidak menyakitkan untuk diambil. Dari setiap sampel, para peneliti membaca "kartu identitas genetik" bakteri menggunakan teknik yang disebut sekuensing gen 16S rRNA. Sederhananya, setiap jenis bakteri punya potongan gen dengan pola khas semacam barcode. Dengan membaca barcode-barcode ini secara massal, peneliti bisa mengetahui jenis bakteri apa saja yang ada dan seberapa banyak masing-masing, tanpa harus repot membiakkannya satu per satu di laboratorium. Pendekatan ini dikenal sebagai analisis metagenomik.
Setelah data terkumpul, mereka mengukur dua hal penting. Pertama, keragaman di dalam satu mulut (berapa banyak jenis bakteri dan seberapa merata sebarannya). Kedua, seberapa berbeda komunitas bakteri antar kelompok apakah, misalnya, "peta bakteri" pasien kanker lanjut benar-benar terpisah dari yang lain. Untuk memastikan hasilnya bukan kebetulan, mereka juga memakai uji statistik yang ketat dan bahkan bantuan machine learning untuk menyortir bakteri mana yang paling menonjol membedakan tiap kelompok.
Yang Ditemukan: Komunitas Bakteri yang Berubah Wajah di Tiap Tahap
Secara keseluruhan, peneliti mengidentifikasi bakteri dari 16 kelompok besar (filum) dan 275 marga (genus) yang berbeda di dalam air liur para peserta. Namun yang menarik bukan sekadar jumlahnya, melainkan bagaimana komposisinya berubah seiring bertambah parahnya kondisi.
Semakin lanjut kankernya, semakin beragam bakterinya. Ini mungkin agak berlawanan dengan dugaan umum. Pada pasien dengan kanker mulut tahap lanjut, keragaman bakteri di air liur justru lebih tinggi dibanding pasien lesi prakanker maupun kanker tahap awal. Tak hanya itu, ketika seluruh data "dipetakan", kelompok kanker tahap lanjut membentuk klaster tersendiri yang jelas terpisah dari kelompok-kelompok lain. Dengan kata lain, mulut pada tahap kanker lanjut punya "ekosistem bakteri" yang secara nyata berbeda wajah.
Jenis bakterinya pun bergeser mengikuti tahapan. Di sinilah gambarannya menjadi lebih spesifik:
Pada kelompok lesi prakanker dan kanker tahap awal, dua kelompok bakteri yang tergolong penghuni umum mulut kelas Actinomycetia dan marga Streptococcus meningkat secara signifikan dibanding kelompok sehat. Streptococcus sendiri adalah bakteri yang sangat lazim ada di mulut siapa pun, sehingga perubahannya di tahap awal ini lebih halus dan tak langsung terlihat "menyeramkan".
Pada kelompok kanker tahap lanjut, dua jenis bakteri lain melonjak jauh melampaui semua kelompok lainnya: Peptostreptococcus dan Fusobacterium. Keduanya adalah bakteri anaerob jenis yang justru berkembang subur di lingkungan minim oksigen. Fusobacterium khususnya adalah nama yang sudah tidak asing dalam riset kanker: bakteri ini kerap dikaitkan dengan penyakit gusi dan, dalam banyak studi, dengan kanker usus besar, karena diduga ikut memicu peradangan dan mendukung pertumbuhan tumor.
Pola ini masuk akal secara biologis. Jaringan tumor yang tumbuh besar cenderung menciptakan lingkungan yang miskin oksigen dan penuh jaringan mati kondisi yang persis disukai oleh bakteri anaerob seperti Fusobacterium dan Peptostreptococcus. Pertanyaan besarnya justru muncul dari sini, dan akan kita bahas berikutnya.
Apa Artinya dan Apa yang Belum Bisa Disimpulkan
Temuan ini menyiratkan sesuatu yang menjanjikan: jika komposisi bakteri di air liur benar-benar berubah secara konsisten seiring perkembangan kanker mulut, maka suatu hari nanti pemeriksaan air liur yang sederhana dan tanpa rasa sakit berpotensi membantu mendeteksi kanker lebih dini, atau bahkan memperkirakan lesi prakanker mana yang berisiko lebih tinggi berkembang menjadi ganas. Inilah yang dalam istilah medis disebut biomarker — penanda biologis yang bisa dibaca untuk membantu diagnosis atau prediksi. Untuk penyakit yang keberhasilan pengobatannya sangat bergantung pada deteksi dini, gagasan semacam ini jelas berharga.
Namun dan ini penting untuk digarisbawahi penelitian ini tidak membuktikan bahwa bakteri menyebabkan kanker mulut. Studi ini bersifat cross-sectional, artinya para peneliti memotret kondisi setiap kelompok pada satu titik waktu, lalu membandingkannya. Desain semacam ini bisa menunjukkan bahwa "bakteri tertentu berkaitan dengan tahap kanker tertentu", tetapi tidak bisa memastikan mana yang lebih dulu: apakah bakteri anaerob itu ikut mendorong kanker berkembang, ataukah tumor yang sudah terbentuklah yang menciptakan lingkungan nyaman sehingga bakteri anaerob berdatangan? Ini persoalan klasik "ayam dan telur" yang belum bisa dijawab oleh studi ini.
Ada pula sejumlah keterbatasan yang wajar untuk sebuah penelitian awal seperti ini: jumlah pasien pada kelompok kanker tahap lanjut relatif kecil (hanya 20 orang), dan seluruh peserta berasal dari satu institusi di Jepang. Untuk memastikan temuan ini berlaku lebih luas, dibutuhkan studi lanjutan yang lebih besar dan, idealnya, bersifat prospektif yakni mengikuti pasien dari waktu ke waktu untuk melihat apakah perubahan bakteri benar-benar mendahului perkembangan penyakit.
Kesimpulan
Penelitian dari Tohoku University ini menambah satu kepingan menarik pada teka-teki besar tentang kanker mulut: komunitas bakteri di air liur ternyata tidak diam ketika mulut bergerak dari sehat, ke prakanker, lalu ke kanker. Di tahap awal, penghuni umum seperti Streptococcus dan Actinomycetia mulai meningkat; di tahap lanjut, keragaman bakteri justru melonjak dan didominasi bakteri anaerob seperti Fusobacterium dan Peptostreptococcus. Pola bertahap inilah yang membuat para peneliti optimistis bahwa air liur suatu hari bisa menjadi "jendela" untuk membaca perjalanan kanker mulut.
Meski begitu, kita masih berada di tahap awal cerita. Ini adalah petunjuk yang menjanjikan, bukan alat diagnosis yang sudah siap pakai, dan belum menjelaskan hubungan sebab-akibat. Pesan praktisnya pun tetap membumi dan tidak berubah: menjaga kebersihan mulut, tidak merokok, membatasi alkohol, serta rutin memeriksakan diri ke dokter gigi tetap menjadi cara terbaik yang kita punya hari ini. Dan bila muncul bercak putih atau merah yang menetap, sariawan yang tak kunjung sembuh, atau benjolan yang mencurigakan di mulut jangan tunggu lama untuk memeriksakannya. Karena pada kanker mulut, waktu benar-benar berpihak pada mereka yang bertindak lebih dini.
Referensi & Sumber Artikel Asli
Koketsu, A., Fukase, S., Tamahara, T., Saito, T., Ito, A., Higashi, Y., Kajita, T., Kurobane, T., Miyakoshi, M., Iikubo, M., Kumada, K., Li, B., Shimada, M., Shimizu, R., Takahashi, T., Yamauchi, K., & Sugiura, T. (2026). Bacterial Involvement in Oral Squamous Cell Carcinoma and Potentially Malignant Oral Disorders. Oral Diseases, 32(4), 992–1003. (Dipublikasikan daring lebih awal pada 9 Oktober 2025.)
DOI: 10.1111/odi.70115
Afiliasi penulis: Tohoku University Graduate School of Dentistry dan Tohoku Medical Megabank Organization, Sendai, Miyagi, Jepang. Pendanaan: JSPS KAKENHI (No. 22K17150). Para penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan. Jenis studi: penelitian observasional potong-lintang (cross-sectional observational study).
Tautan artikel:
Versi penerbit (Wiley Online Library): https://doi.org/10.1111/odi.70115
Teks lengkap gratis (open access via PubMed Central): https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC13248574/
Entri PubMed: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41069041/