Skip to Content

Bahaya Minuman Bersoda Menyebabkan Erosi Gigi Remaja

September 8, 2026 by
Carigi Indonesia

Bahaya Minuman Bersoda Menyebabkan Erosi Gigi Remaja

Bahaya Minuman Bersoda Menyebabkan Erosi Gigi Remaja

Manis yang Menggerus Diam-Diam: Minuman Bersoda Naikkan Risiko Erosi Gigi Remaja Hampir Dua Kali Lipat

Hampir 4 dari 10 remaja ternyata sudah menunjukkan tanda-tanda gigi terkikis — dan kerusakan ini tidak bisa diperbaiki, karena enamel gigi tak bisa tumbuh kembali. Sebuah tinjauan besar yang merangkum 24 penelitian dari berbagai negara dan melibatkan lebih dari 21.000 remaja menemukan bahwa mereka yang rutin mengonsumsi minuman bersoda memikul risiko erosi gigi yang jauh lebih tinggi — hampir dua kali lipat. Yang menarik, bukan hanya "apa" yang diminum yang berbahaya, tapi juga "bagaimana" cara meminumnya.

Erosi Gigi: Kerusakan Senyap yang Tak Bisa Diperbaiki

Banyak orang mengira semua kerusakan gigi disebabkan oleh bakteri — seperti gigi berlubang. Padahal ada jenis kerusakan lain yang mekanismenya berbeda sama sekali: erosi gigi.

Erosi gigi adalah hilangnya lapisan gigi secara permanen akibat serangan asam, bukan akibat bakteri. Asamnya bisa berasal dari luar tubuh (dari makanan dan minuman) atau dari dalam tubuh (misalnya asam lambung yang naik). Prosesnya berlangsung perlahan, tidak menimbulkan rasa sakit di tahap awal, dan yang paling penting untuk dipahami: tidak bisa dikembalikan seperti semula.

Kerusakan ini dimulai dari enamel — lapisan terluar dan terkeras gigi yang berfungsi sebagai perisai. Bila dibiarkan, erosi bisa terus menembus ke lapisan yang lebih dalam (dentin) hingga ke pusat gigi tempat saraf berada. Akibatnya bisa berupa gigi ngilu, nyeri hebat, tidak nyaman saat mengunyah, gigi mudah retak, bahkan sampai kehilangan gigi.

Karena berlangsung diam-diam dan tak bisa diperbaiki, mencegah erosi jauh lebih masuk akal daripada menunggu sampai kerusakannya terlihat.

Mengapa Minuman Bersoda Jadi Tersangka Utama

Kuncinya ada pada satu kata: asam.

Enamel gigi mulai larut ketika berada di lingkungan dengan tingkat keasaman (pH) di bawah 5,5. Masalahnya, kebanyakan minuman bersoda punya pH yang jauh lebih rendah dari itu — biasanya antara 2,3 hingga 3,5. Artinya, setiap tegukan soda menciptakan kondisi yang jauh lebih asam dari ambang aman untuk gigi.

Keasaman ini datang dari beberapa sumber sekaligus: kandungan asam fosfat, asam sitrat, serta gas karbon dioksida yang berubah menjadi asam karbonat begitu larut dalam cairan. Kombinasi asam-asam inilah yang perlahan melarutkan mineral pembentuk gigi (hidroksiapatit), membuat permukaan enamel melunak dan makin kasar. Ditambah lagi, minuman ini kerap memiliki "daya asam" yang bertahan lama, sehingga air liur butuh waktu lebih lama untuk menetralkannya — dan selama itu pula gigi terus tergerus.

Yang membuat ini relevan: konsumsi minuman bersoda di kalangan remaja terus meningkat. Data internasional yang dikutip dalam penelitian ini menyebutkan sekitar 16% remaja meminumnya setiap hari, bahkan sebuah analisis global mencatat angka konsumsi harian mencapai 43% pada anak muda usia 12–17 tahun. Konsumsi yang tinggi ini juga cenderung dikaitkan dengan status sosial-ekonomi yang lebih rendah.

Bukan Cuma Apa yang Diminum, tapi Cara Meminumnya

Ini salah satu temuan paling menarik — dan paling bisa langsung dipraktikkan. Ternyata cara seseorang minum soda sama pentingnya dengan seberapa sering ia meminumnya.

Menenggak minuman dengan cepat memberi dampak yang berbeda dibanding meminumnya sedikit demi sedikit, apalagi bila cairannya sempat "dikulum" atau dikumur-kumur di dalam mulut. Kebiasaan menahan minuman di mulut memperpanjang waktu kontak asam dengan gigi, sehingga memperbesar kerusakan.

Beberapa kebiasaan lain yang tercatat memperparah risiko dalam penelitian-penelitian yang ditinjau antara lain:

  • Minum menjelang tidur. Saat tidur, produksi air liur menurun drastis, sehingga gigi kehilangan "pelindung alaminya" semalaman.

  • Minum setelah berolahraga. Aktivitas fisik membuat mulut cenderung lebih kering dan air liur berkurang, memperlemah pertahanan gigi.

  • Menyikat gigi langsung setelah minum soda. Salah satu studi justru menemukan bahwa menyikat gigi tepat setelah minum minuman asam malah meningkatkan erosi — karena enamel yang baru "melunak" oleh asam jadi lebih mudah terkikis oleh sikatan.

Apa yang Dilakukan Para Peneliti

Untuk menjawab pertanyaan ini secara menyeluruh, tim peneliti dari Universidad Nacional Autónoma de México (UNAM) melakukan sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis — yaitu metode ilmiah yang mengumpulkan, menyaring, lalu menggabungkan hasil dari banyak penelitian terpisah menjadi satu gambaran besar yang lebih kuat.

Penelitian ini disusun mengikuti pedoman baku internasional (PRISMA) dan telah didaftarkan lebih dulu di registri PROSPERO agar prosesnya transparan. Para peneliti menyisir lima basis data ilmiah utama (PubMed, Scopus, Web of Science, LILACS, dan SciELO) untuk semua penelitian relevan yang terbit antara tahun 2000 hingga Desember 2023.

Prosesnya berlapis dan ketat: dari 131 artikel yang awalnya ditemukan, tersisa 101 setelah menyingkirkan data ganda, dan akhirnya 24 penelitian dinyatakan memenuhi syarat. Total, penelitian-penelitian ini mencakup 21.541 remaja — sebuah jumlah yang sangat besar untuk topik ini. Mayoritasnya (21 studi) berjenis potong-lintang, ditambah 2 studi kasus-kontrol dan 1 studi kohort. Kualitas tiap penelitian juga dinilai memakai skala baku bernama Newcastle–Ottawa untuk memastikan hanya studi yang layak yang digabungkan.

Untuk menghitung besarnya risiko secara khusus, hanya 5 penelitian yang datanya cukup seragam untuk digabung — mencakup 7.785 peserta.

Hasil Pertama: Hampir 4 dari 10 Remaja Terkena Erosi

Angka gabungannya cukup mengejutkan. Secara keseluruhan, 37,6% remaja dalam penelitian-penelitian tersebut mengalami erosi gigi. Dengan kata lain, hampir 4 dari setiap 10 remaja menunjukkan tanda-tanda gigi terkikis.

Tentu saja angka ini bervariasi antarnegara — rentangnya sangat lebar, dari serendah 1,4% hingga setinggi 80%. Perbedaan ini dipengaruhi oleh budaya, pola makan, serta usia peserta di masing-masing studi. Rata-rata usia peserta dalam tinjauan ini adalah sekitar 15 tahun, dan secara umum, semakin bertambah usia remaja, semakin tinggi pula prevalensi erosinya — kemungkinan karena giginya sudah lebih lama terpapar asam.

Hasil Kedua: Risiko Melonjak 98 Persen

Inilah temuan intinya. Setelah menggabungkan data, para peneliti menyimpulkan bahwa remaja yang mengonsumsi minuman bersoda memiliki risiko 98% lebih tinggi mengalami erosi gigi dibandingkan yang tidak — atau dengan bahasa sederhana, risikonya hampir dua kali lipat.

Temuan ini bukan kebetulan: dari 24 penelitian yang ditinjau, sebanyak 19 penelitian (74%) menemukan kaitan yang signifikan secara statistik antara minuman bersoda dan erosi gigi. Sisanya menunjukkan hasil yang tidak signifikan atau bercampur dengan pengaruh minuman asam jenis lain.

Meski begitu, para peneliti jujur mencatat bahwa hasil-hasil yang digabung ini cukup beragam satu sama lain (tingkat keberagaman yang tinggi), sehingga angka pastinya sebaiknya dibaca sebagai gambaran besar tentang arah dan besarnya risiko, bukan angka mati yang berlaku persis sama di setiap situasi.

Siapa yang Paling Berisiko?

Dari kumpulan penelitian ini, muncul beberapa pola tentang kelompok yang paling rentan:

  • Remaja yang lebih tua, karena gigi mereka sudah lebih lama terpapar asam sehingga kerusakannya cenderung lebih banyak dan lebih parah.

  • Remaja laki-laki — beberapa studi menunjukkan mereka berisiko lebih tinggi, kemungkinan karena lebih banyak mengonsumsi soda, cola, dan minuman olahraga. Namun temuan ini masih diperdebatkan, karena sebagian studi lain justru tidak menemukan perbedaan, bahkan ada yang menyebut remaja perempuan lebih terdampak. Sayangnya, tinjauan ini tidak bisa memisahkan analisis berdasarkan jenis kelamin karena data aslinya tidak tersedia terpisah.

  • Mereka dengan kebiasaan berisiko seperti minum menjelang tidur, mengulum minuman, atau minum saat mulut sedang kering.

Kabar Baiknya: Erosi Bisa Dicegah

Di balik temuan yang mengkhawatirkan, ada kabar yang melegakan: erosi gigi sangat bisa dicegah, dan tubuh kita sebenarnya sudah dibekali pertahanan alami.

Pahlawan utamanya adalah air liur. Cairan ini membantu menetralkan asam di mulut dan turut memperbaiki mineral gigi. Karena itu, apa pun yang mengurangi air liur — seperti tidur atau dehidrasi setelah olahraga — justru membuat gigi lebih rentan.

Beberapa langkah pencegahan yang disarankan atau tersirat dari penelitian ini:

  • Kurangi frekuensi, bukan sekadar jumlah. Sering menyeruput sedikit-sedikit sepanjang hari bisa lebih merusak daripada sesekali dalam jumlah wajar, karena gigi jadi berulang kali terpapar asam.

  • Perbanyak makanan pelindung seperti susu, keju, dan yoghurt, yang kaya kalsium dan fosfat untuk membantu memperkuat gigi.

  • Jangan menyikat gigi tepat setelah minum soda. Beri jeda agar enamel yang sempat melunak bisa mengeras kembali lebih dulu.

  • Manfaatkan perlindungan dari dokter gigi, seperti aplikasi fluoride topikal dan bahan penguat gigi lain (misalnya CPP-ACP).

  • Pilih air putih sebagai minuman utama, terutama menjelang tidur.

Catatan Penting: Batas dari Temuan Ini

Sebagai tinjauan yang jujur, penelitian ini juga terbuka soal keterbatasannya — dan justru di situlah letak kredibilitasnya.

Sebagian besar studi yang digabung berjenis potong-lintang dan mengandalkan kuesioner yang diisi sendiri oleh peserta. Cara ini rawan "bias ingatan" (peserta bisa salah mengingat kebiasaan minumnya) dan berpotensi membuat kaitannya terlihat lebih besar dari kenyataan. Selain itu, penelitian-penelitian yang ada sangat beragam — dari cara mendefinisikan "sering minum soda" hingga metode pemeriksaannya — sehingga hanya sekitar seperempat studi yang cukup seragam untuk digabung dalam perhitungan risiko.

Yang paling perlu digarisbawahi: temuan ini menunjukkan kaitan dan kecenderungan, bukan bukti sebab-akibat yang mutlak. Minuman bersoda memang berkaitan kuat dengan erosi gigi, tetapi erosi sendiri adalah penyakit dengan banyak faktor penyebab. Karena itu, angka-angkanya sebaiknya dibaca dengan hati-hati.

Kesimpulan: Waktunya Lebih Bijak dengan Minuman Bersoda

Pesan utama dari tinjauan besar ini cukup jelas dan penting untuk didengar semua orang, terutama orang tua dan remaja: erosi gigi adalah masalah kesehatan yang jauh lebih umum dari yang kita kira — memengaruhi sekitar 37% remaja — dan kerusakannya bersifat permanen.

Minuman bersoda, khususnya bila diminum lebih dari sekali sehari, secara konsisten teridentifikasi sebagai salah satu faktor risiko yang menaikkan peluang erosi hampir dua kali lipat. Kabar baiknya, ini bukan takdir yang tak bisa dihindari. Dengan mengurangi frekuensi konsumsi, memperhatikan cara meminumnya, menjaga kesehatan air liur, dan memperbanyak makanan pelindung, risiko ini bisa ditekan.

Bagi masyarakat awam, intinya sederhana: karena gigi yang sudah terkikis tak bisa tumbuh kembali, pencegahan adalah segalanya. Dan bagi dunia kesehatan, penelitian ini menjadi pengingat kuat bahwa mengedukasi remaja soal minuman asam — di rumah maupun di sekolah — adalah investasi kesehatan yang jauh lebih murah daripada mengobati kerusakannya kelak.

Referensi

Juárez López, M. L. A., Gutierrez-Moreno, M. F., Castrejón-Delgado, L., & Sánchez-Rodríguez, M. A. (2026). Prevalence and Risk of Dental Erosion Linked to Carbonated Drinks in Adolescents: A Systematic Review and Meta-Analysis. Oral Health and Preventive Dentistry, 24, 336–346. DOI: https://doi.org/10.3290/j.ohpd.c_2619

Carigi Indonesia September 8, 2026
Share this post
Tags
Archive
Pergeseran Tren Kanker Mulut: Meningkat pada Perempuan, Lansia & Gusi