Antidepresan & Risiko Perdarahan Cabut Gigi

Antidepresan dan Cabut Gigi: Benarkah Meningkatkan Risiko Perdarahan?
Sebuah Pertanyaan yang Sering Muncul di Klinik Gigi
Penggunaan obat antidepresan terus meningkat di seluruh dunia. Jutaan orang mengonsumsi obat ini untuk mengatasi depresi, gangguan kecemasan, dan berbagai kondisi kesehatan mental lainnya. Di sisi lain, prosedur perawatan gigi seperti pencabutan gigi merupakan tindakan yang sangat umum dilakukan.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting bagi dokter gigi dan pasien: apakah penggunaan antidepresan dapat meningkatkan risiko perdarahan saat atau setelah pencabutan gigi?
Sebuah tinjauan sistematis terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Medicine mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Namun, hasilnya justru menunjukkan adanya kekosongan bukti ilmiah yang cukup besar.
Mengapa Antidepresan Dikhawatirkan Menyebabkan Perdarahan?
Beberapa jenis antidepresan, terutama kelompok Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) seperti fluoxetine, sertraline, dan citalopram, diketahui dapat memengaruhi fungsi trombosit.
Serotonin tidak hanya berperan dalam mengatur suasana hati, tetapi juga membantu proses pembekuan darah. Trombosit menggunakan serotonin untuk membentuk bekuan dan menghentikan perdarahan.
Obat SSRI bekerja dengan menghambat pengambilan serotonin oleh sel, termasuk trombosit. Akibatnya, kadar serotonin di dalam trombosit dapat menurun sehingga secara teoritis kemampuan darah untuk membeku juga dapat berkurang.
Beberapa penelitian pada bidang bedah lain bahkan menunjukkan bahwa pengguna antidepresan tertentu memiliki risiko perdarahan yang lebih tinggi, misalnya pada operasi tulang belakang, operasi payudara, hingga pembedahan ortopedi.
Selain itu, risiko tersebut dapat meningkat bila pasien juga mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen atau asam mefenamat, yang cukup sering diresepkan untuk mengurangi nyeri setelah pencabutan gigi.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Para peneliti melakukan tinjauan sistematis (systematic review) dengan mengikuti pedoman internasional PRISMA dan mendaftarkan protokol penelitian di PROSPERO.
Mereka menelusuri berbagai basis data ilmiah, antara lain:
PubMed/MEDLINE
Embase
Web of Science
Scopus
ClinicalTrials.gov
Tujuannya adalah mencari uji klinis teracak (randomized controlled trials/RCT) yang membandingkan risiko perdarahan pada pasien pengguna antidepresan dan pasien yang tidak menggunakan antidepresan saat menjalani pencabutan gigi.
Sebanyak 689 publikasi berhasil ditemukan pada tahap awal pencarian.
Hasil yang Mengejutkan: Tidak Ada Penelitian yang Memenuhi Kriteria
Setelah dilakukan penyaringan secara bertahap, para peneliti menemukan fakta yang cukup mengejutkan: tidak ada satu pun uji klinis teracak yang memenuhi kriteria penelitian.
Dari ratusan artikel yang ditemukan, sebagian besar merupakan artikel tinjauan, studi observasional, atau penelitian yang tidak secara khusus membahas pencabutan gigi pada pengguna antidepresan.
Artinya, hingga saat ini belum tersedia bukti ilmiah berkualitas tinggi yang dapat memastikan apakah penggunaan antidepresan benar-benar meningkatkan risiko perdarahan pada tindakan pencabutan gigi.
Apakah Ada Data yang Bisa Menjadi Petunjuk?
Meskipun tidak ada penelitian yang memenuhi kriteria utama, peneliti menemukan satu studi retrospektif yang relevan.
Penelitian tersebut melibatkan 92 pasien pengguna SSRI yang menjalani berbagai tindakan dental invasif, di mana lebih dari 75% prosedurnya berupa pencabutan gigi.
Hasilnya menunjukkan bahwa hanya terdapat dua kasus perdarahan pascaoperasi, atau sekitar 1% dari seluruh prosedur.
Temuan ini mengindikasikan bahwa risiko perdarahan setelah tindakan gigi pada pengguna antidepresan kemungkinan relatif rendah. Namun, karena penelitian tersebut tidak memiliki kelompok pembanding dan desainnya terbatas, hasilnya belum dapat dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan yang kuat.
Mengapa Bukti Ilmiahnya Masih Minim?
Menurut para peneliti, salah satu penyebab utama kurangnya penelitian adalah pertimbangan etika.
Menghentikan penggunaan antidepresan untuk kepentingan penelitian dapat menimbulkan masalah serius, seperti:
gejala putus obat,
kekambuhan depresi,
meningkatnya kecemasan,
bahkan memburuknya kondisi kesehatan mental pasien.
Karena itu, melakukan uji klinis yang mengharuskan pasien menghentikan obat antidepresan bukanlah hal yang mudah.
Selain itu, penelitian yang ada juga sangat beragam dalam hal jenis antidepresan, dosis, prosedur bedah, hingga metode pengukuran perdarahan, sehingga sulit untuk dibandingkan satu sama lain.
Apa Artinya bagi Dokter Gigi dan Pasien?
Berdasarkan bukti yang tersedia saat ini, belum ada dasar ilmiah yang cukup untuk menyatakan bahwa semua pasien pengguna antidepresan memiliki risiko perdarahan yang tinggi saat pencabutan gigi.
Namun, kehati-hatian tetap diperlukan, terutama pada pasien yang:
menggunakan SSRI atau SNRI,
mengonsumsi obat pengencer darah,
menggunakan NSAID dalam jangka waktu tertentu,
memiliki gangguan pembekuan darah atau penyakit sistemik lainnya.