Analisis Lesi Gigi Non-Karies Primata

Bukan Hanya Manusia, Primata Liar Juga Mengalami Lesi Gigi Non-Karies: Temuan Baru yang Mengubah Cara Kita Memahami Kerusakan Gigi Purba
Apa Penyebab Lesi Gigi yang Tidak Berasal dari Karies?
Ketika membahas kerusakan gigi, sebagian besar orang langsung memikirkan karies atau gigi berlubang. Padahal, ada jenis kerusakan lain yang tidak disebabkan oleh bakteri, yaitu Non-Carious Cervical Lesions (NCCLs) atau lesi servikal non-karies.
Lesi ini muncul di sekitar leher gigi, tepat di batas antara mahkota dan akar gigi. Pada manusia modern, NCCLs sering dikaitkan dengan berbagai faktor seperti kebiasaan menyikat gigi yang terlalu keras, konsumsi makanan atau minuman asam, hingga tekanan saat mengunyah.
Namun, bagaimana dengan nenek moyang manusia atau primata liar yang tidak pernah menggunakan sikat gigi maupun mengonsumsi minuman bersoda?
Pertanyaan inilah yang menjadi dasar penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam American Journal of Biological Anthropology. Penelitian ini memberikan sudut pandang baru mengenai asal-usul lesi gigi yang selama ini banyak ditemukan pada fosil manusia purba.
Mengapa Penelitian Ini Penting?
Dalam dunia paleoantropologi, salah satu jenis lesi yang sering ditemukan adalah toothpick groove, yaitu alur kecil pada permukaan akar gigi.
Selama puluhan tahun, banyak ilmuwan beranggapan bahwa alur tersebut terbentuk karena manusia purba sering menggunakan serat tumbuhan, kayu, atau tulang sebagai "tusuk gigi" untuk membersihkan sela-sela gigi atau meredakan nyeri.
Namun, hingga kini belum banyak penelitian yang membandingkan kondisi tersebut dengan kerabat terdekat manusia, yaitu primata non-manusia.
Jika primata liar juga memiliki lesi yang serupa, kemungkinan penyebabnya tidak hanya berkaitan dengan penggunaan alat seperti tusuk gigi.
Bagaimana Penelitian Dilakukan?
Para peneliti memeriksa 531 individu yang berasal dari 27 spesies primata antropoid, baik yang masih hidup maupun yang telah punah.
Spesimen berasal dari berbagai koleksi museum dunia dan meliputi simpanse, gorila, orangutan, monyet Jepang, berbagai jenis monyet Dunia Lama dan Dunia Baru, hingga primata fosil berusia jutaan tahun.
Setiap gigi diperiksa secara makroskopis, kemudian dianalisis lebih lanjut menggunakan berbagai teknologi pencitraan, seperti:
mikroskop stereo,
mikroskop laser konfokal,
mikroskop digital,
serta pemindaian tiga dimensi (3D).
Melalui pendekatan tersebut, peneliti dapat mengamati bentuk lesi, pola goresan mikroskopis, hingga memperkirakan jumlah jaringan gigi yang hilang.
Apa yang Ditemukan Peneliti?
Dari seluruh sampel, hanya 21 individu (sekitar 4%) yang memiliki lesi servikal non-karies.
Walaupun jumlahnya relatif sedikit, lesi tersebut ditemukan pada berbagai kelompok primata, termasuk orangutan, gorila, monyet Jepang (Macaca fuscata), langur, mangabey, hingga beberapa primata fosil.
Peneliti kemudian mengelompokkan lesi tersebut menjadi dua tipe utama.
1. Lesi berbentuk huruf U akibat abrasi atau gesekan
Jenis pertama berbentuk cekungan menyerupai huruf U dengan goresan-goresan halus sejajar di dalamnya.
Ciri ini menunjukkan bahwa permukaan gigi kemungkinan sering mengalami kontak dengan bahan abrasif, misalnya partikel makanan yang keras, pasir, atau gesekan antarpermukaan gigi saat mengunyah.
Beberapa lesi bahkan sangat mirip dengan toothpick groove yang selama ini dianggap sebagai bukti penggunaan tusuk gigi pada manusia purba.
2. Lesi halus yang diduga berkaitan dengan erosi asam
Jenis kedua berupa kehilangan jaringan gigi yang lebih dangkal, halus, dan mengikuti garis gusi.
Lesi seperti ini diduga terbentuk melalui proses yang lebih kompleks, salah satunya akibat paparan makanan yang bersifat asam.
Beberapa spesies pemakan buah matang menunjukkan pola lesi seperti ini, sehingga peneliti menduga bahwa pola makan dapat berperan dalam pembentukannya.
Temuan yang Paling Mengejutkan
Salah satu hasil paling menarik adalah tidak ditemukannya lesi abfraksi pada seluruh sampel primata.
Abfraksi merupakan lesi berbentuk baji (V-shaped) yang dalam dunia kedokteran gigi modern sering dikaitkan dengan tekanan berlebihan saat menggigit atau mengunyah.
Karena tidak ditemukan pada primata liar maupun pada banyak fosil manusia purba, peneliti menduga bahwa lesi abfraksi kemungkinan lebih berkaitan dengan gaya hidup manusia modern, seperti kebiasaan menyikat gigi, pola makan, serta kombinasi paparan makanan asam dan faktor mekanis lainnya.
Apakah Toothpick Groove Benar-Benar Akibat Tusuk Gigi?
Selama ini, toothpick groove sering dianggap sebagai bukti bahwa manusia purba menggunakan alat sederhana untuk membersihkan sela-sela gigi.
Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa lesi yang sangat mirip ternyata juga ditemukan pada beberapa primata liar yang tidak diketahui memiliki kebiasaan tersebut.
Peneliti mengusulkan bahwa beberapa lesi mungkin terbentuk akibat:
proses mengunyah makanan yang keras,
gesekan partikel pasir atau debu yang ikut tertelan,
penyakit periodontal,
keausan gigi yang berat,
atau kombinasi berbagai faktor tersebut.