Skip to Content

Analisis FEA Tegangan Kavitas Gigi

June 2, 2026 by
Carigi Indonesia

Analisis FEA Tegangan Kavitas Gigi

Analisis FEA Tegangan Kavitas Gigi

Semakin Besar Kavitas Gigi, Semakin Tinggi Risiko Kerusakan: Studi Ungkap Pentingnya Mempertahankan Struktur Gigi Alami

Penelitian Baru Menunjukkan Mengapa Pendekatan Konservatif dalam Perawatan Gigi Sangat Penting

Ketika dokter gigi membersihkan jaringan gigi yang rusak akibat karies, tujuan utamanya tentu untuk menghentikan perkembangan penyakit. Namun, proses tersebut juga mengubah cara gigi menahan tekanan saat mengunyah. Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan bahwa ukuran kavitas atau lubang pada gigi memiliki pengaruh besar terhadap distribusi tekanan di dalam struktur gigi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko terjadinya fraktur atau patah gigi.

Melalui simulasi komputer canggih, para peneliti menemukan bahwa semakin banyak struktur gigi yang hilang, semakin besar tekanan yang terkonsentrasi pada area tertentu. Temuan ini memperkuat prinsip penting dalam kedokteran gigi modern: mempertahankan sebanyak mungkin jaringan gigi yang sehat merupakan kunci untuk menjaga kekuatan dan ketahanan gigi dalam jangka panjang.

Mengapa Kekuatan Mekanis Gigi Penting?

Setiap hari, gigi menerima berbagai tekanan saat kita mengunyah, menggigit, maupun menghaluskan makanan. Pada gigi yang sehat, lapisan enamel dan dentin bekerja bersama untuk mendistribusikan tekanan tersebut secara merata ke seluruh struktur gigi.

Sistem alami ini membuat gigi mampu menahan beban yang cukup besar tanpa mengalami kerusakan. Namun, ketika karies menyebabkan terbentuknya kavitas atau ketika sebagian struktur gigi harus dihilangkan selama perawatan, keseimbangan tersebut dapat terganggu.

Akibatnya, tekanan yang semula tersebar merata menjadi terkonsentrasi pada area tertentu sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya retakan atau patah gigi.

Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?

Untuk memahami perubahan tersebut, para peneliti menggunakan metode Finite Element Analysis (FEA), yaitu teknik simulasi komputer yang banyak digunakan dalam bidang teknik dan kesehatan untuk memprediksi respons suatu struktur terhadap beban tertentu.

Penelitian dimulai dengan pemindaian gigi molar pertama rahang bawah menggunakan teknologi micro-computed tomography (micro-CT). Hasil pemindaian kemudian digunakan untuk membuat model tiga dimensi yang sangat detail.

Tiga model gigi kemudian disusun, yaitu:

  • Gigi utuh tanpa kavitas

  • Gigi dengan kavitas kecil (konservatif)

  • Gigi dengan kavitas besar (ekstensif)

Setiap model diberikan beban kunyah sebesar 565 Newton, yang merepresentasikan tekanan kunyah dalam kondisi normal. Setelah itu, para peneliti menganalisis distribusi stress (tegangan) dan strain (regangan atau deformasi) yang terjadi pada masing-masing model.

Kavitas yang Lebih Besar Menyebabkan Tegangan Lebih Tinggi

Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang sangat jelas antara ukuran kavitas dan besarnya tegangan yang terjadi pada gigi.

Nilai tegangan maksimum yang ditemukan adalah:

  • Gigi utuh: 96,18 MPa

  • Kavitas konservatif: 165,72 MPa

  • Kavitas ekstensif: 185,32 MPa

Dengan kata lain, semakin besar jaringan gigi yang hilang, semakin tinggi tegangan yang terkonsentrasi pada struktur gigi yang tersisa.

Para peneliti menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi akibat fenomena yang dikenal sebagai stress riser effect. Saat struktur gigi yang semula utuh mengalami pengurangan jaringan, jalur distribusi gaya kunyah menjadi terganggu. Akibatnya, tekanan tidak lagi menyebar secara merata, melainkan berkumpul di sekitar dinding dan tepi kavitas.

Semakin besar ukuran kavitas, semakin besar pula konsentrasi tekanan yang terjadi.

Gigi Menjadi Kurang Fleksibel Setelah Preparasi Kavitas

Selain meningkatkan tegangan, preparasi kavitas juga memengaruhi kemampuan gigi untuk beradaptasi terhadap beban.

Nilai regangan maksimum yang diperoleh adalah:

  • Gigi utuh: 0,007503

  • Kavitas konservatif: 0,006031

  • Kavitas ekstensif: 0,006217

Hasil ini menunjukkan bahwa gigi yang masih utuh memiliki kemampuan deformasi yang lebih baik dibandingkan gigi yang telah kehilangan sebagian strukturnya.

Dalam kondisi normal, gigi memiliki keseimbangan antara kekuatan dan fleksibilitas. Ketika enamel dan dentin yang sehat dihilangkan, kemampuan tersebut berkurang sehingga gigi menjadi lebih rentan mengalami kerusakan akibat tekanan berulang selama fungsi pengunyahan.

Area Lingual Menjadi Titik Lemah yang Perlu Diwaspadai

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah lokasi terjadinya konsentrasi tegangan tertinggi.

Pada seluruh model yang diteliti, baik gigi utuh maupun gigi dengan kavitas, area yang paling banyak mengalami tegangan dan deformasi berada di sekitar kuspa lingual serta daerah servikal (bagian leher gigi yang dekat dengan gusi).

Meskipun kuspa bukal sering dianggap sebagai bagian utama yang menerima tekanan kunyah, gaya yang diteruskan melalui struktur gigi ternyata dapat menyebabkan tarikan pada sisi lingual. Kondisi ini membuat kuspa lingual menjadi salah satu area yang paling rentan mengalami keretakan.

Temuan tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa fraktur kuspa lingual terjadi lebih sering dibandingkan fraktur kuspa bukal. Faktor anatomi seperti ukuran kuspa yang lebih kecil dan ketebalan enamel yang lebih tipis diduga berperan dalam meningkatkan risiko tersebut.

Implikasi bagi Praktik Kedokteran Gigi

Hasil penelitian ini memberikan pesan yang sangat jelas bagi praktik kedokteran gigi modern: semakin sedikit jaringan gigi yang dihilangkan, semakin baik peluang mempertahankan kekuatan alami gigi.

Bahkan pada kavitas berukuran kecil, perubahan biomekanis sudah mulai terlihat. Sementara itu, kavitas yang lebih besar menyebabkan peningkatan tegangan yang jauh lebih tinggi dan membuat struktur gigi menjadi lebih rentan terhadap kegagalan mekanis.

Karena itu, pendekatan minimal invasif atau konservatif menjadi sangat penting dalam perawatan restoratif. Dokter gigi diharapkan mempertahankan sebanyak mungkin jaringan gigi sehat dan menggunakan bahan restorasi yang mampu membantu mendistribusikan tekanan secara lebih merata.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran kavitas merupakan faktor utama yang menentukan kekuatan mekanis gigi setelah mengalami preparasi. Semakin besar kavitas yang dibuat, semakin tinggi tegangan yang terjadi dan semakin besar risiko kerusakan struktur gigi.

Pendekatan konservatif terbukti lebih mampu mempertahankan fungsi biomekanis gigi dibandingkan preparasi yang lebih luas. Selain itu, daerah kuspa lingual dan area servikal teridentifikasi sebagai titik lemah utama yang paling rentan mengalami tekanan dan deformasi selama proses pengunyahan.

Temuan ini semakin memperkuat pentingnya prinsip preservasi jaringan gigi dalam kedokteran gigi modern, yaitu mempertahankan sebanyak mungkin struktur gigi alami untuk menjaga kekuatan, fungsi, dan ketahanan gigi dalam jangka panjang.

Referensi 

Widyastuti A, Ratih DN, Siswomihardjo W, Dharma IGBB. The influence of dental cavity on biomechanical stress and strain distribution: A finite element analysis. Journal of Conservative Dentistry and Endodontics. 2026;29(2):145–149. 

https://doi.org/10.4103/JCDE.JCDE_991_25

Carigi Indonesia June 2, 2026
Share this post
Tags
Archive
Faktor Risiko Sakit Gigi Terbesar