Skip to Content

Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Lebih Rentan Gigi Berlubang: Mengapa Kesehatan Mulut Mereka Tidak Boleh Dinomorduakan

November 3, 2026 by
Carigi Indonesia

Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Lebih Rentan Gigi Berlubang: Mengapa Kesehatan Mulut Mereka Tidak Boleh Dinomorduakan

ilustrasi

Bagi orang tua yang anaknya lahir dengan penyakit jantung bawaan, hari-hari sering dipenuhi jadwal kontrol, obat-obatan, bahkan operasi jantung. Tidak heran bila kesehatan gigi anak kerap terlupakan. Sebuah tinjauan sistematis dari India yang merangkum 11 penelitian di berbagai negara menemukan bahwa anak dengan penyakit jantung bawaan cenderung memiliki lebih banyak gigi berlubang, kebersihan mulut yang lebih buruk, dan kelainan email gigi yang lebih sering dibandingkan anak sehat. Mereka juga sekitar tiga kali lebih mungkin memiliki kebiasaan menyikat gigi yang kurang baik atau kebiasaan yang meningkatkan risiko gigi berlubang.

Penyakit Jantung Bawaan dan Mulut Anak

Penyakit jantung bawaan adalah kelainan bentuk jantung atau pembuluh darah besar yang sudah ada sejak lahir. Ini merupakan cacat lahir yang paling sering ditemukan di dunia. Sekitar 20% kasus berkaitan dengan kelainan genetik, paparan zat tertentu selama kehamilan, atau diabetes pada ibu, sedangkan sekitar 80% lainnya belum diketahui penyebabnya.

Anak dengan penyakit jantung bawaan menghadapi beberapa tantangan khusus bagi kesehatan giginya:

  • Obat-obatan yang mengandung gula. Banyak obat sirup untuk anak mengandung gula, dan bila diminum rutin dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gigi berlubang.

  • Kelainan email gigi. Pembentukan gigi berlangsung sejak dalam kandungan, bersamaan dengan pembentukan jantung. Kadar oksigen yang rendah pada sebagian anak dengan penyakit jantung bawaan diduga mengganggu pembentukan lapisan email, sehingga gigi lebih rapuh dan mudah berlubang.

  • Kesehatan gigi dinomorduakan. Orang tua wajar lebih fokus pada kondisi jantung anak, sehingga perawatan gigi sering tertunda.

Kesehatan mulut sangat penting bagi anak dengan penyakit jantung bawaan. Infeksi di mulut dapat membuat bakteri masuk ke aliran darah dan, pada anak dengan kelainan jantung tertentu, meningkatkan risiko endokarditis infektif, yaitu infeksi pada lapisan dalam jantung yang bisa mengancam jiwa.

Selain kondisi gigi, para peneliti juga menyoroti kualitas hidup terkait kesehatan mulut, yaitu sejauh mana kondisi mulut memengaruhi kemampuan anak makan, berbicara, tersenyum, tidur, dan berinteraksi, serta dampaknya bagi keluarga.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Tim peneliti dari ITS Dental College, Hospital and Research Centre, Greater Noida, India, yang dipimpin Ananya Sharma, melakukan tinjauan sistematis dan meta-analisis, yaitu mengumpulkan seluruh penelitian tentang suatu topik lalu menggabungkan data angkanya.

Mereka menelusuri berbagai basis data ilmiah untuk penelitian yang terbit pada 2004–2024. Penelitian yang dipilih harus melibatkan anak usia 6 bulan hingga 18 tahun dengan penyakit jantung bawaan, membandingkan mereka dengan anak sehat, dan menilai kondisi gigi, kebiasaan menyikat gigi, atau kualitas hidup terkait kesehatan mulut.

Dari hampir 9.700 catatan yang ditemukan, 11 penelitian memenuhi syarat. Penelitian-penelitian ini berasal dari Kanada, Turki, Finlandia, Suriah, Sudan, Iran, Amerika Serikat, Swedia, dan Norwegia. Sepuluh di antaranya digabungkan dalam analisis angka.

Hasilnya

1. Gigi susu lebih banyak berlubang

Beberapa penelitian menemukan bahwa anak dengan penyakit jantung bawaan memiliki lebih banyak gigi susu yang berlubang, ditambal, atau dicabut. Rata-ratanya sekitar 5,4–6,5 gigi per anak, dibandingkan sekitar 3,8–5 gigi pada anak sehat.

Sebuah penelitian di Kanada pada anak dengan penyakit jantung bawaan yang membutuhkan perawatan gigi bahkan mencatat rata-rata 8,6 gigi yang terdampak. Sebagian besar dari anak-anak ini harus dirawat giginya dengan bius total, dan sekitar 38% perawatan dilakukan karena anak akan segera menjalani operasi jantung.

Untuk gigi permanen, hasilnya lebih beragam. Beberapa penelitian tidak menemukan perbedaan bermakna dengan anak sehat.

2. Kelainan email dan radang gusi lebih sering

Sebuah penelitian di Turki menemukan kelainan email gigi pada sekitar 16,5% anak dengan penyakit jantung bawaan, dibandingkan sekitar 4,7% pada anak sehat. Radang gusi juga lebih sering ditemukan. Penelitian di Suriah mencatat kelainan email seperti bercak keruh dan pengapuran yang lebih sering, serta kebersihan mulut dan kondisi gusi yang lebih buruk.

3. Kebiasaan menyikat gigi yang kurang baik

Anak dengan penyakit jantung bawaan cenderung:

  • lebih jarang menyikat gigi dua kali sehari,

  • lebih jarang memakai pasta gigi berfluoride,

  • dan lebih sering mengonsumsi minuman manis.

Ketika data dari tiga penelitian digabungkan, anak dengan penyakit jantung bawaan sekitar 3,2 kali lebih mungkin memiliki kebiasaan menyikat gigi yang kurang baik atau kebiasaan yang meningkatkan risiko gigi berlubang.

4. Banyak gigi berlubang yang belum dirawat

Penelitian di Norwegia terhadap hampir 19.000 anak berusia 5 tahun menemukan bahwa sekitar 25% anak dengan penyakit jantung bawaan memiliki gigi berlubang yang sudah mencapai lapisan dentin, dan hanya sedikit yang sudah ditambal. Kabar baiknya, sekitar 60% kerusakan masih terbatas pada lapisan email, sehingga masih bisa dicegah agar tidak bertambah parah melalui perawatan pencegahan.

5. Kualitas hidup: hasilnya beragam

Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa kondisi mulut lebih berdampak negatif pada kualitas hidup anak dengan penyakit jantung bawaan dan keluarganya, misalnya membuat orang tua lebih khawatir. Namun tidak semua perbedaan bermakna secara statistik. Satu penelitian di Iran bahkan menemukan skor kualitas hidup yang lebih baik pada anak dengan penyakit jantung bawaan, yang diduga karena gigi mereka lebih sering sudah dirawat sehingga keluhan nyeri berkurang.

6. Anak yang lebih sering dirawat pun bisa tetap berlubang

Penelitian di Swedia menemukan bahwa anak dengan penyakit jantung bawaan berat sudah mendapat lebih banyak perawatan pencegahan, seperti olesan fluoride dan tablet fluoride, tetapi tetap memiliki lebih banyak gigi berlubang dibandingkan anak sehat. Hal ini menunjukkan bahwa pencegahan perlu dilakukan lebih intensif dan terpadu antara dokter jantung anak dan dokter gigi.

Catatan Penting

Para peneliti mengakui sejumlah keterbatasan: jumlah peserta di banyak penelitian kecil, jenis dan tingkat keparahan penyakit jantung bawaan sangat beragam, sebagian besar penelitian hanya mengamati satu waktu, dan penilaian kualitas hidup bersifat subjektif serta sering dijawab oleh orang tua.

Ada beberapa hal lain yang patut dicermati pembaca (catatan redaksi):

  • Banyak penelitian individual tidak menemukan perbedaan bermakna. Misalnya, beberapa penelitian di Turki, Iran, dan Amerika Serikat tidak menemukan perbedaan jumlah gigi susu berlubang antara anak dengan penyakit jantung bawaan dan anak sehat. Hasil gabungan memang menunjukkan perbedaan, tetapi tidak semua penelitian sepakat.

  • Angka gabungan mencampur ukuran yang berbeda. Analisis gabungan sebesar 1,52 menggabungkan beberapa jenis indeks, seperti jumlah gigi berlubang dan indeks kebersihan mulut, sehingga angka ini sulit ditafsirkan secara langsung.

  • Ada ketidakkonsistenan dalam jurnal. Penomoran penelitian di grafik analisis tidak selalu sesuai dengan daftar penelitian, dan salah satu rujukan dalam grafik merujuk ke buku panduan metode penelitian, bukan penelitian anak dengan penyakit jantung bawaan.

  • Kualitas penelitian bervariasi. Skor kualitas penelitian yang dirangkum berkisar 13 hingga 38 dari maksimal 42.

Kesimpulan

Tinjauan ini menunjukkan bahwa anak dengan penyakit jantung bawaan cenderung memiliki kesehatan mulut yang lebih buruk dibandingkan anak sehat, termasuk lebih banyak gigi susu berlubang, kelainan email, radang gusi, dan kebiasaan menyikat gigi yang kurang baik. Faktor sosial ekonomi, perilaku, dan obat-obatan ikut berperan.

Para peneliti menyerukan kerja sama antara dokter jantung anak, dokter gigi, dan orang tua, serta edukasi yang lebih baik bagi orang tua agar perawatan pencegahan dilakukan sejak dini.

Bagi orang tua yang anaknya menyandang penyakit jantung bawaan, pesannya: kesehatan gigi anak adalah bagian dari perawatan jantungnya. Ajak anak ke dokter gigi sejak gigi pertama tumbuh, lalu periksakan secara rutin. Sikat gigi anak dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride dan dampingi saat menyikat gigi. Batasi minuman dan camilan manis, dan bila anak rutin minum obat sirup, tanyakan kepada dokter apakah tersedia pilihan bebas gula atau bagaimana cara membersihkan mulut setelah minum obat. Sampaikan kepada dokter gigi tentang kondisi jantung anak, karena anak dengan kelainan jantung tertentu mungkin memerlukan langkah pencegahan khusus sebelum tindakan perawatan gigi, sesuai arahan dokter jantung anak.

Referensi

Sharma A, Saxena A, Goswami M, Singhal P, Phukan MK, Karak S, Soni Y. Oral Health Status And Oral Health Related Quality of Life in Children With Congenital Heart Disease—A Systematic Review And Meta-Analysis. Special Care in Dentistry. 2026;46:e70238. DOI: https://doi.org/10.1111/scd.70238

Carigi Indonesia November 3, 2026
Share this post
Tags
Archive
Penyakit Gusi dan Lupus: Dua Peradangan yang Saling Terkait