Skip to Content

Anak Menggertakkan Gigi Saat Tidur: Terkait Cemas dan Depresi?

October 13, 2026 by
Carigi Indonesia

Anak Menggertakkan Gigi Saat Tidur: Terkait Cemas dan Depresi?

Anak Menggertakkan Gigi Saat Tidur: Terkait Cemas dan Depresi?

Anak Sering Menggertakkan Gigi Saat Tidur, Apakah Ada Kaitannya dengan Cemas dan Depresi?

Bunyi gigi bergemeletuk dari kamar anak di tengah malam sering membuat orang tua khawatir. Apakah ini tanda anak sedang tertekan? Sebuah penelitian di Türkiye mencoba menjawabnya dengan membandingkan 98 anak dan remaja yang datang ke klinik psikiatri anak. Hasilnya tidak sesederhana yang dibayangkan. Secara statistik, hubungan yang jelas antara kebiasaan menggertakkan gigi saat tidur dengan kecemasan atau depresi belum terbukti. Namun ada satu pola yang menarik perhatian peneliti: pada remaja usia 13–17 tahun, terutama remaja putri, skor cemas dan depresi cenderung lebih tinggi pada mereka yang menggertakkan gigi.

Kebiasaan Malam yang Cukup Sering pada Anak

Menggertakkan atau mengatupkan gigi dengan kuat saat tidur dikenal sebagai sleep bruxism. Kebiasaan ini justru lebih sering ditemukan pada anak dan remaja dibandingkan orang dewasa. Pada orang dewasa angkanya sekitar 10–16%, sedangkan pada anak bisa berkisar 3,5% hingga lebih dari 40%, tergantung penelitiannya.

Para ahli saat ini tidak menganggap bruxism sebagai penyakit pada anak yang sehat. Bruxism lebih dipandang sebagai faktor risiko yang bisa memicu masalah lain bila berlangsung lama, seperti:

  • gigi yang aus atau terkikis,

  • sakit kepala,

  • nyeri otot rahang dan sendi rahang,

  • hingga kesulitan membuka mulut lebar.

Penyebab pastinya belum diketahui dan diduga melibatkan banyak faktor. Dulu, susunan gigi atau gigitan yang tidak pas sering dituding sebagai biangnya, tetapi bukti ilmiah untuk hal itu kini tidak kuat. Perhatian para peneliti beralih ke faktor lain, seperti cara otak mengatur tidur, gaya hidup (misalnya konsumsi gula berlebih dan waktu layar yang panjang), serta faktor psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi.

Masalahnya, penelitian tentang hubungan bruxism dengan kondisi psikologis pada anak masih terbatas, dan hasilnya pun belum seragam.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Tim peneliti dari bidang kedokteran gigi anak di beberapa universitas di Türkiye, yang dipimpin Eda Büyüknalbant, bekerja sama antara Klinik Psikiatri Anak dan Remaja serta Departemen Kedokteran Gigi Anak di Erciyes University, Kayseri.

Penelitian dilakukan pada Januari hingga Mei 2021 dengan langkah-langkah berikut:

1. Menyaring peserta. Awalnya ada 347 anak usia 6–17 tahun yang berkunjung ke klinik psikiatri anak. Anak dengan sakit gigi, sedang menjalani perawatan kawat gigi, atau memiliki kondisi pernapasan seperti alergi hidung, asma, infeksi saluran napas atas, dan pembesaran amandel/adenoid dikeluarkan. Kondisi-kondisi pernapasan ini sengaja disisihkan karena diketahui juga bisa memicu bruxism, sehingga bisa mengaburkan peran faktor psikologis.

2. Menentukan siapa yang mengalami bruxism. Orang tua mengisi kuesioner tentang kebiasaan anak menggertakkan gigi. Setelah itu, seorang dokter gigi anak yang tidak mengetahui jawaban kuesioner memeriksa mulut anak. Anak dinyatakan mengalami sleep bruxism bila orang tua sering mendengar bunyi gigi bergemeletuk saat anak tidur, dan ditemukan setidaknya satu tanda pendukung, seperti keausan gigi yang khas atau keluhan pegal rahang dan sakit kepala saat bangun tidur. Pemeriksaan memberi perhatian khusus pada gigi taring susu, yang dikenal paling sering dan paling parah terkikis akibat bruxism.

3. Membentuk dua kelompok yang sebanding. Sebanyak 49 anak dengan bruxism dibandingkan dengan 49 anak tanpa bruxism yang dipilih secara acak dengan usia dan jenis kelamin yang sepadan. Masing-masing kelompok terdiri dari 14 anak perempuan dan 35 anak laki-laki.

4. Menilai kondisi psikologis. Seorang psikiater anak mewawancarai anak dan keluarganya menggunakan dua kuesioner baku: Children's Depression Inventory untuk mengukur risiko depresi dan Beck Anxiety Inventory untuk mengukur tingkat kecemasan.

5. Membagi berdasarkan usia. Anak dikelompokkan menjadi usia 6–12 tahun dan 13–17 tahun. Alasannya, masa remaja membawa perubahan hormonal dan emosional yang khas, dan sekitar usia 13 tahun pula gigi susu umumnya sudah berganti menjadi gigi permanen.

Peneliti juga mencatat faktor latar belakang keluarga, seperti jenis sekolah, penghasilan keluarga, tingkat pendidikan ayah dan ibu, status pernikahan orang tua, serta riwayat penyakit dan obat-obatan yang dikonsumsi anak.

Hasilnya: Belum Terbukti, tetapi Ada Pola pada Remaja

1. Secara keseluruhan, tidak ada perbedaan yang bermakna

Ketika semua anak dibandingkan, skor kecemasan dan depresi pada anak dengan bruxism tidak berbeda secara bermakna dibandingkan anak tanpa bruxism. Pada kelompok usia 6–12 tahun, skor kedua kelompok bahkan nyaris sama.

Karena itu, peneliti secara jujur menyimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak ditemukan hubungan yang jelas antara sleep bruxism dengan kecemasan maupun depresi pada anak.

2. Remaja dengan bruxism cenderung lebih cemas dan murung

Gambaran berbeda terlihat pada kelompok usia 13–17 tahun. Remaja yang menggertakkan gigi memiliki skor kecemasan rata-rata sekitar 21,6, sementara remaja tanpa bruxism sekitar 14,2. Skor 21,6 termasuk kategori kecemasan sedang. Skor depresinya juga lebih tinggi, yaitu sekitar 20,4 dibandingkan 15,6, dan sudah melewati batas yang menandakan risiko depresi.

Dalam analisis lanjutan, setiap kenaikan satu tingkat kecemasan pada remaja dikaitkan dengan peluang sekitar dua kali lipat lebih besar untuk mengalami bruxism. Namun perlu digarisbawahi: angka ini belum bermakna secara statistik. Artinya, pola tersebut bisa jadi nyata, tetapi bisa juga muncul karena kebetulan akibat jumlah peserta yang sedikit.

3. Remaja putri menunjukkan pola paling mencolok

Pada remaja putri usia 13–17 tahun yang mengalami bruxism, skor kecemasan rata-rata mencapai sekitar 24,9, hampir dua kali lipat dibandingkan remaja putri tanpa bruxism (sekitar 13,2). Skor depresinya juga jauh lebih tinggi (sekitar 24,6 dibandingkan 15,2). Hanya kelompok inilah yang skor depresi rata-ratanya masuk kategori berisiko.

Peneliti menduga perubahan hormon pada masa pubertas ikut berperan. Data dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa angka depresi pada anak perempuan mulai meningkat setelah usia sekitar 12 tahun. Meski demikian, sekali lagi, perbedaan ini belum bermakna secara statistik karena jumlah remaja putri dalam penelitian ini sangat sedikit, hanya 7 orang di kelompok bruxism dan 5 orang di kelompok pembanding.

4. Latar belakang keluarga tidak berpengaruh

Jenis sekolah (negeri atau swasta), penghasilan keluarga, tingkat pendidikan orang tua, status pernikahan orang tua, serta ada tidaknya penyakit atau konsumsi obat tidak berkaitan dengan bruxism pada anak, baik di kelompok usia 6–12 maupun 13–17 tahun.

Mengapa Hasilnya Tidak Sejelas Penelitian Lain?

Beberapa penelitian sebelumnya pada anak menemukan bahwa anak dengan bruxism lebih cemas atau lebih sering mengalami depresi. Para peneliti menyebut beberapa kemungkinan mengapa hasil kali ini berbeda:

  • Semua peserta berasal dari klinik psikiatri. Baik kelompok bruxism maupun kelompok pembanding sama-sama anak yang datang untuk berkonsultasi masalah kejiwaan. Akibatnya, kedua kelompok sama-sama cenderung memiliki skor cemas dan depresi yang tinggi, sehingga perbedaannya lebih sulit terlihat.

  • Jumlah peserta per kelompok kecil, terutama setelah dipecah berdasarkan usia dan jenis kelamin.

  • Diagnosis bruxism tanpa rekaman tidur. Cara paling akurat untuk memastikan bruxism adalah rekaman tidur di laboratorium (polisomnografi). Metode ini tidak digunakan karena mahal dan memakan waktu.

  • Tanda di gigi bisa mencerminkan masa lalu. Keausan gigi bisa jadi bekas kebiasaan lama, sementara bruxism yang baru mulai mungkin belum meninggalkan tanda.

  • Informasi obat dan riwayat kejiwaan terbatas. Peneliti tidak mencatat jenis obat psikiatri yang diminum atau berapa lama anak sudah menjalani pengobatan. Padahal, sebagian obat bisa memicu bruxism, sebagian lagi justru menguranginya.

Pesan untuk Orang Tua, Dokter Gigi, dan Psikiater

Walaupun hasilnya belum bermakna secara statistik, para peneliti melihat ada alasan untuk tetap waspada, terutama pada remaja. Mereka menyarankan kerja sama yang lebih erat antara dokter gigi dan psikiater anak:

  • Psikiater yang menangani anak dengan keluhan cemas atau murung, terutama remaja, dapat mempertimbangkan untuk merujuk anak ke dokter gigi lebih awal agar dampak jangka panjang bruxism pada gigi dan rahang bisa dicegah.

  • Dokter gigi yang menemukan tanda keausan gigi akibat bruxism dapat menyampaikan kepada orang tua bahwa ada kemungkinan anak sedang mengalami tekanan psikologis, dan bila perlu menyarankan konsultasi ke psikolog.

Bagi orang tua, pesannya sederhana: bunyi gigi bergemeletuk saat anak tidur tidak otomatis berarti anak depresi atau cemas. Namun bila kebiasaan itu disertai perubahan suasana hati, mudah marah, sulit konsentrasi, atau keluhan pegal rahang dan sakit kepala di pagi hari, ada baiknya anak diperiksakan ke dokter gigi dan, bila perlu, ke tenaga kesehatan jiwa.

Kesimpulan

Penelitian ini tidak menemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara kebiasaan menggertakkan gigi saat tidur dengan kecemasan atau depresi pada anak usia 6–17 tahun. Faktor latar belakang keluarga juga tidak berpengaruh.

Meski begitu, ada sinyal yang patut dicermati. Remaja usia 13–17 tahun yang mengalami bruxism, terutama remaja putri, cenderung memiliki skor cemas dan depresi lebih tinggi. Peneliti menekankan bahwa temuan ini hanya menunjukkan kemungkinan hubungan dan tidak membuktikan sebab-akibat. Diperlukan penelitian dengan jumlah peserta lebih besar, alat diagnosis yang lebih akurat, dan pencatatan riwayat kejiwaan serta obat yang lebih lengkap untuk memastikannya.

Satu hal yang jelas: kesehatan gigi dan kesehatan jiwa anak sebaiknya tidak dipandang terpisah. Dokter gigi dan psikiater anak dapat saling melengkapi untuk mengenali dan menangani bruxism sejak dini.

Referensi

Büyüknalbant E, Aydınbelge M, Sarı Ş, Demir P. A case–control study on the relationship between sleep bruxism and mental health conditions, depression and anxiety, in children. Scientific Reports. 2025;15:37886. 

DOI: https://doi.org/10.1038/s41598-025-21679-y

Carigi Indonesia October 13, 2026
Share this post
Tags
Archive
Bruxism pada Mahasiswa Kedokteran Gigi: Rahang Paling Terdampak