Skip to Content

Alat Ukur Sikap Pasien DCAS Dental

June 24, 2026 by
Carigi Indonesia

Alat Ukur Sikap Pasien DCAS Dental

Alat Ukur Sikap Pasien DCAS Dental

Mengapa Banyak Orang Menunda ke Dokter Gigi? Peneliti Kembangkan Alat Baru untuk Memahami Sikap Pasien terhadap Perawatan Gigi

Perawatan Gigi Bukan Hanya Soal Rasa Sakit

Banyak orang baru datang ke dokter gigi ketika rasa sakit sudah tidak tertahankan. Padahal, pemeriksaan rutin merupakan kunci untuk mencegah kerusakan gigi maupun penyakit mulut yang lebih serius. Fenomena ini ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh rasa takut terhadap tindakan perawatan, tetapi juga oleh berbagai faktor psikologis, sosial, hingga ekonomi.

Selama ini, sebagian besar penelitian berfokus pada kecemasan atau ketakutan terhadap dokter gigi. Namun, sikap seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan gigi secara keseluruhan ternyata juga berperan besar dalam menentukan apakah ia akan datang untuk berobat atau justru menunda perawatan.

Berdasarkan kebutuhan tersebut, peneliti dari University of Debrecen, Hungaria, mengembangkan Dental Care Attitudes Scale (DCAS), sebuah instrumen baru yang dirancang untuk mengukur berbagai sikap pasien terhadap pelayanan kesehatan gigi secara lebih menyeluruh.

Mengapa Sikap Pasien Penting untuk Dipahami?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 3,5 miliar orang di dunia mengalami penyakit rongga mulut. Meski kebutuhan perawatan sangat tinggi, pemanfaatan layanan kesehatan gigi masih tergolong rendah di banyak negara.

Selain rasa takut terhadap perawatan, berbagai hambatan lain juga sering membuat seseorang enggan datang ke dokter gigi, seperti:

  • pengalaman buruk saat berobat,

  • kurangnya kepercayaan kepada dokter,

  • biaya perawatan yang dianggap mahal,

  • keterbatasan akses pelayanan,

  • hingga persepsi bahwa kondisi gigi mencerminkan status sosial seseorang.

Sayangnya, belum tersedia alat ukur yang mampu mengevaluasi seluruh aspek tersebut secara bersamaan. Oleh karena itu, DCAS dikembangkan untuk membantu tenaga kesehatan memahami alasan di balik perilaku pasien.

Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?

Pengembangan DCAS dilakukan melalui dua tahap penelitian.

Tahap pertama dimulai dengan wawancara mendalam terhadap 16 pasien gigi untuk menggali berbagai pengalaman dan pandangan mereka mengenai pelayanan kedokteran gigi. Dari hasil wawancara tersebut, peneliti menyusun 128 pernyataan yang mewakili berbagai sikap pasien.

Selanjutnya dilakukan proses penyaringan dan pengujian menggunakan metode psikometri terhadap 744 responden, yang terdiri atas:

  • 527 masyarakat umum,

  • 114 mahasiswa kedokteran gigi,

  • 103 dokter gigi.

Melalui berbagai analisis statistik, peneliti kemudian memilih butir-butir pertanyaan yang paling akurat dan konsisten hingga akhirnya menghasilkan instrumen akhir berisi 17 pertanyaan.

Lima Faktor yang Mempengaruhi Sikap terhadap Perawatan Gigi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa DCAS berhasil mengidentifikasi lima dimensi utama yang memengaruhi sikap seseorang terhadap pelayanan kesehatan gigi.

1. Kecemasan terhadap Lingkungan Klinik

Sebagian orang merasa cemas hanya karena melihat kursi perawatan, mendengar suara bor gigi, mencium aroma klinik, atau melihat alat-alat medis. Faktor ini menjadi dimensi yang paling kuat berkaitan dengan rasa takut terhadap dokter gigi.

2. Kekhawatiran terhadap Anestesi

Tidak semua pasien takut terhadap rasa sakit. Sebagian justru lebih khawatir kehilangan kontrol saat dilakukan anestesi atau pembiusan.

3. Menunda Perawatan karena Kendala Finansial

Biaya menjadi salah satu penyebab utama seseorang menunda kunjungan ke dokter gigi. Banyak responden merasa tidak mampu menjangkau perawatan modern ataupun tindakan estetika meskipun membutuhkannya.

4. Pandangan tentang Status Sosial

Sebagian responden menganggap kehilangan gigi identik dengan kemiskinan, kurangnya perawatan diri, atau status sosial yang rendah. Persepsi seperti ini ternyata juga memengaruhi cara seseorang memandang kesehatan giginya sendiri.

5. Ketidakpuasan terhadap Sistem Pelayanan

Responden juga menilai bahwa dukungan pembiayaan dari sistem asuransi atau jaminan kesehatan terhadap perawatan gigi modern masih belum memadai.

Apa yang Ditemukan Peneliti?

Setelah melalui berbagai pengujian statistik, DCAS terbukti memiliki validitas dan reliabilitas yang baik, sehingga dapat dipercaya sebagai alat ukur sikap pasien terhadap pelayanan kesehatan gigi.

Penelitian juga menemukan bahwa:

  • kecemasan terhadap lingkungan klinik memiliki hubungan yang sangat kuat dengan rasa takut dan kecemasan terhadap perawatan gigi;

  • penundaan berobat karena alasan biaya ternyata juga berkaitan dengan kecemasan, sehingga faktor ekonomi dan psikologis sering kali muncul secara bersamaan;

  • mahasiswa kedokteran gigi dan dokter gigi cenderung melebihkan tingkat kecemasan pasien, sementara beberapa kebutuhan psikologis pasien justru kurang dipahami.

Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan persepsi antara tenaga kesehatan dan pasien mengenai pengalaman selama menjalani perawatan gigi.

Apa Manfaat DCAS bagi Praktik Kedokteran Gigi?

Menurut peneliti, DCAS bukan hanya berguna sebagai alat penelitian, tetapi juga dapat diterapkan dalam praktik sehari-hari.

Dengan mengetahui sikap pasien sebelum tindakan dilakukan, dokter gigi dapat:

  • mengidentifikasi hambatan yang membuat pasien enggan berobat,

  • meningkatkan komunikasi dan membangun kepercayaan,

  • memberikan pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasien,

  • membantu meningkatkan kepatuhan pasien terhadap perawatan,

  • serta mendukung pelayanan yang lebih berpusat pada pasien (patient-centered care).

Selain itu, hasil pengukuran DCAS juga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi penyusun kebijakan kesehatan untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan gigi.

Kesimpulan

Penelitian ini berhasil mengembangkan Dental Care Attitudes Scale (DCAS), sebuah instrumen baru yang mampu mengukur berbagai sikap masyarakat terhadap pelayanan kesehatan gigi secara komprehensif.

Tidak hanya rasa takut terhadap dokter gigi, DCAS juga mengungkap bahwa faktor biaya, persepsi sosial, kekhawatiran terhadap anestesi, serta kepuasan terhadap sistem pelayanan ikut menentukan keputusan seseorang untuk datang berobat. Dengan memahami faktor-faktor tersebut, dokter gigi dapat memberikan pelayanan yang lebih empatik, sementara pembuat kebijakan dapat merancang sistem kesehatan gigi yang lebih mudah diakses oleh masyarakat.

Referensi

Lukács M, Fábián B, Papp G, Bugán A, Varga I. Development and psychometric evaluation of the Dental Care Attitudes Scale (DCAS). BMC Oral Health. 2025;25:1235. https://doi.org/10.1186/s12903-025-06655-2

Carigi Indonesia June 24, 2026
Share this post
Tags
Archive
Risiko Karies Jenis Susu Anak