Skip to Content

Akses Bedah Gigi Anak Autisme

July 2, 2026 by
Carigi Indonesia

Akses Bedah Gigi Anak Autisme

Akses Bedah Gigi Anak Autisme

Anak dengan Autisme dan Disabilitas Intelektual Lebih Jarang Mendapat Perawatan Gigi di Pusat Bedah Rawat Jalan

Studi di Amerika Serikat Ungkap Ketimpangan Akses Layanan Bedah Gigi Anak

Anak-anak dengan autisme dan disabilitas intelektual memiliki risiko lebih tinggi mengalami gigi berlubang dibandingkan anak pada umumnya. Namun, ketika mereka membutuhkan perawatan gigi yang kompleks dan harus menjalani tindakan dengan anestesi umum, akses terhadap layanan kesehatan yang tepat ternyata masih menjadi tantangan.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of the American Dental Association (JADA) menemukan bahwa anak-anak dengan autisme maupun disabilitas intelektual lebih jarang mendapatkan perawatan di Ambulatory Surgery Centers (ASC) atau pusat bedah rawat jalan, dan lebih sering dirawat di Hospital Outpatient Departments (HOPD) atau unit rawat jalan rumah sakit.

Temuan ini memberikan gambaran penting mengenai kesenjangan akses layanan kesehatan gigi bagi anak berkebutuhan khusus.

Mengapa Anak Berkebutuhan Khusus Lebih Rentan Mengalami Masalah Gigi?

Banyak anak dengan autisme atau disabilitas intelektual mengalami hambatan dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Kesulitan menyikat gigi secara mandiri, sensitivitas sensorik terhadap sikat gigi atau pasta gigi, efek samping obat-obatan tertentu, hingga keterbatasan akses ke dokter gigi menjadi faktor yang meningkatkan risiko terjadinya karies gigi.

Pada sebagian anak, tindakan perawatan gigi biasa juga sulit dilakukan karena mereka mengalami kecemasan, kesulitan berkomunikasi, atau tidak mampu duduk tenang dalam waktu lama. Oleh karena itu, prosedur perawatan sering kali memerlukan anestesi umum dan dilakukan di fasilitas bedah khusus.

Apa Itu Ambulatory Surgery Center?

Ambulatory Surgery Center (ASC) merupakan fasilitas bedah rawat jalan yang berdiri terpisah dari rumah sakit. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tindakan di ASC umumnya lebih efisien dan lebih murah dibandingkan perawatan di rumah sakit.

Selain berpotensi menekan biaya, keberadaan ASC juga dapat memperluas akses layanan karena mampu mengurangi antrean panjang di rumah sakit.

Namun, apakah anak berkebutuhan khusus mendapatkan akses yang sama terhadap fasilitas ini? Itulah pertanyaan yang ingin dijawab oleh para peneliti.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Penelitian ini menggunakan data program asuransi kesehatan Medicaid di Amerika Serikat dari tahun 2016 hingga 2020.

Para peneliti menganalisis 601.286 tindakan bedah gigi rawat jalan pada anak usia 1–18 tahun di 40 negara bagian. Anak-anak tersebut dibagi menjadi tiga kelompok:

  1. Anak dengan disabilitas intelektual dan kondisi terkait.

  2. Anak dengan autisme.

  3. Anak tanpa kedua kondisi tersebut.

Peneliti kemudian membandingkan lokasi perawatan, apakah dilakukan di ASC atau di rumah sakit.

Hasil Penelitian: Anak Berkebutuhan Khusus Lebih Sering Dirawat di Rumah Sakit

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang cukup besar.

  • Hanya sekitar 15,9% anak dengan disabilitas intelektual yang mendapatkan perawatan di ASC.

  • Pada anak dengan autisme, angkanya mencapai 26,1%.

  • Sementara pada anak tanpa autisme maupun disabilitas intelektual, penggunaan ASC mencapai 29,9%.

Dengan kata lain, anak dengan disabilitas intelektual memiliki kemungkinan jauh lebih rendah untuk mendapatkan perawatan di ASC dibandingkan anak tanpa kondisi tersebut. Anak dengan autisme juga menunjukkan kecenderungan yang sama, meskipun perbedaannya tidak sebesar kelompok disabilitas intelektual.

Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?

Peneliti menyebutkan beberapa kemungkinan penyebab.

Pertama, dokter mungkin menilai bahwa anak dengan kebutuhan khusus memiliki kondisi medis yang lebih kompleks sehingga lebih aman menjalani tindakan di rumah sakit yang memiliki fasilitas penanganan darurat lebih lengkap.

Kedua, adanya penyakit penyerta atau kebutuhan anestesi yang lebih rumit dapat membuat rumah sakit menjadi pilihan utama.

Namun, peneliti juga mengingatkan adanya kemungkinan faktor nonmedis, seperti keterbatasan fasilitas, kurangnya kesiapan tenaga kesehatan, hingga stigma bahwa anak berkebutuhan khusus dianggap lebih sulit ditangani.

Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan akses terhadap layanan yang lebih efisien menjadi tidak merata.

Bagaimana dengan Perbedaan Ras dan Etnis?

Penelitian ini juga meneliti apakah terdapat perbedaan akses berdasarkan ras dan etnis.

Secara umum, perbedaannya relatif kecil. Namun, pada kelompok anak dengan autisme, anak keturunan Hispanik sedikit lebih jarang mendapatkan perawatan di ASC dibandingkan anak kulit putih.

Temuan ini menunjukkan bahwa selain faktor disabilitas, faktor sosial dan demografis juga masih dapat memengaruhi akses terhadap layanan kesehatan.

Apa Makna Temuan Ini?

Perawatan di ASC berpotensi mengurangi biaya kesehatan dan mempercepat akses layanan bagi anak-anak yang membutuhkan tindakan gigi dengan anestesi umum.

Karena itu, rendahnya penggunaan ASC pada anak dengan autisme dan disabilitas intelektual menimbulkan pertanyaan penting: apakah mereka benar-benar memerlukan perawatan di rumah sakit karena alasan medis, atau justru menghadapi hambatan sistemik yang membuat akses terhadap layanan menjadi tidak setara?

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami penyebab perbedaan ini dan memastikan bahwa setiap anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, memperoleh akses yang adil terhadap layanan kesehatan gigi yang aman, berkualitas, dan terjangkau.

Kesimpulan

Studi ini menunjukkan bahwa anak dengan autisme dan disabilitas intelektual lebih jarang menjalani perawatan bedah gigi di pusat bedah rawat jalan dibandingkan anak tanpa kondisi tersebut. Padahal, fasilitas seperti ASC berpotensi meningkatkan efisiensi pelayanan dan mengurangi biaya perawatan.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa upaya meningkatkan akses kesehatan gigi bagi anak berkebutuhan khusus tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan layanan, tetapi juga dengan pengurangan hambatan, peningkatan kesiapan fasilitas, serta terciptanya sistem kesehatan yang lebih inklusif.

Referensi 

Rancaño KM, Kranz A. Pediatric dental surgeries in children with intellectual disabilities and autism paid by means of Medicaid. Journal of the American Dental Association. 2026;157(5):512–520.e4.

DOI: https://doi.org/10.1016/j.adaj.2025.11.003

Carigi Indonesia July 2, 2026
Share this post
Tags
Archive
Antidepresan & Risiko Perdarahan Cabut Gigi