Abrasi Dentin Sikat Gigi Sonic

Sikat Gigi Sonic Lebih Cepat Mengikis Dentin? Ini Temuan Terbaru dari Penelitian Laboratorium
Benarkah sikat gigi elektrik selalu lebih aman untuk gigi?
Sikat gigi elektrik, khususnya tipe sonic, semakin populer karena dinilai mampu membersihkan plak lebih efektif dibandingkan sikat gigi manual. Bahkan, beberapa produk terbaru dilengkapi dengan lapisan arang aktif (charcoal coating) pada bulunya yang diklaim dapat membantu menghilangkan noda dan membuat gigi tampak lebih putih.
Namun, muncul pertanyaan penting: apakah teknologi tersebut juga memengaruhi keausan jaringan gigi, terutama dentin?
Dentin merupakan lapisan keras yang berada tepat di bawah email gigi. Ketika gusi mengalami resesi atau email terkikis, dentin menjadi terbuka dan lebih rentan mengalami abrasi akibat kebiasaan menyikat gigi. Oleh karena itu, memahami pengaruh berbagai jenis sikat gigi terhadap dentin menjadi penting, terutama bagi individu yang memiliki gigi sensitif atau akar gigi yang sudah terekspos.
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam PLOS ONE (2025) mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui pengujian laboratorium yang terstandarisasi.
Apa yang dilakukan peneliti?
Penelitian ini merupakan studi in vitro, sehingga seluruh pengujian dilakukan di laboratorium menggunakan sampel dentin gigi sapi yang memiliki karakteristik mekanis menyerupai dentin manusia.
Sebanyak 24 sampel dentin dibagi menjadi tiga kelompok dan disikat menggunakan:
sikat gigi manual standar referensi American Dental Association (ADA),
sikat gigi sonic Curaprox Hydrosonic Pro tanpa lapisan khusus, serta
sikat gigi sonic Curaprox Hydrosonic Black is White dengan bulu berlapis arang aktif.
Seluruh penyikatan dilakukan menggunakan mesin simulasi dengan tekanan, gerakan, jumlah sikatan, serta pasta gigi yang sama sehingga setiap kelompok memperoleh perlakuan yang identik. Simulasi dilakukan sebanyak 10.000 siklus penyikatan, yang diperkirakan setara dengan penggunaan selama beberapa minggu pada area gigi yang sama atau bertahun-tahun pada satu titik permukaan dentin.
Setelah proses penyikatan selesai, peneliti mengukur:
jumlah dentin yang terkikis, menggunakan profilometri optik tanpa kontak berpresisi tinggi, dan
kekasaran permukaan dentin, melalui parameter Ra, Rq, dan Sa.
Dengan metode ini, perubahan permukaan dentin dapat diukur hingga tingkat mikrometer.
Hasil penelitian: sikat gigi sonic menyebabkan abrasi dentin lebih besar
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara sikat gigi manual dan sikat gigi sonic.
Sikat gigi manual menghasilkan abrasi dentin paling rendah, dengan kehilangan jaringan sekitar 13,97 µm.
Sebaliknya:
Curaprox Hydrosonic Pro menyebabkan abrasi sekitar 23,46 µm, sedangkan
Curaprox Hydrosonic Black is White menghasilkan abrasi sekitar 20,11 µm.
Kedua sikat gigi sonic tersebut menyebabkan kehilangan dentin yang secara statistik lebih besar dibandingkan sikat gigi manual.
Meskipun demikian, tidak ditemukan perbedaan bermakna antara kedua model sikat gigi sonic tersebut. Artinya, keberadaan lapisan arang aktif pada bulu sikat tidak meningkatkan abrasi dentin dibandingkan bulu sikat tanpa lapisan.
Bagaimana dengan kekasaran permukaan dentin?
Selain mengukur banyaknya dentin yang hilang, penelitian ini juga mengevaluasi tekstur permukaan dentin setelah penyikatan.
Menariknya, sikat gigi sonic menghasilkan permukaan dentin yang lebih halus dibandingkan sikat gigi manual.
Sekilas hal ini terdengar positif. Namun, peneliti menjelaskan bahwa permukaan yang lebih halus bukan berarti jaringan gigi lebih terlindungi.
Justru sebaliknya, abrasi yang lebih besar menghilangkan tonjolan-tonjolan kecil pada permukaan dentin sehingga teksturnya menjadi lebih rata. Dengan kata lain, permukaan menjadi lebih halus karena lebih banyak jaringan dentin yang telah terkikis.
Temuan ini menunjukkan adanya hubungan terbalik antara jumlah kehilangan jaringan dan tingkat kekasaran permukaan.
Mengapa sikat gigi sonic menghasilkan abrasi lebih tinggi?
Peneliti menduga bahwa penyebab utamanya bukan berasal dari lapisan arang aktif, melainkan dari cara kerja sikat gigi sonic itu sendiri.
Sikat gigi sonic bergerak hingga puluhan ribu getaran setiap menit. Gerakan ini membuat bulu sikat menempuh jarak yang jauh lebih besar dibandingkan sikat manual, meskipun tekanan penyikatan tetap sama.
Selain itu, desain bulu sikat yang lebih rapat dan lebih halus memungkinkan lebih banyak pasta gigi tertahan di antara bulu sikat. Kombinasi gerakan cepat dan keberadaan partikel abrasif dari pasta gigi diduga meningkatkan proses pengikisan dentin selama penyikatan.
Apa arti temuan ini bagi praktik sehari-hari?
Penelitian ini tidak menunjukkan bahwa sikat gigi sonic berbahaya atau tidak boleh digunakan.
Sebaliknya, hasil penelitian mengingatkan bahwa pemilihan jenis sikat gigi perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.
Bagi individu yang memiliki:
resesi gusi,
akar gigi terbuka,
hipersensitivitas dentin, atau
kehilangan jaringan gigi non-karies,
penggunaan sikat gigi sonic sebaiknya disertai teknik menyikat yang benar, tekanan yang ringan, serta pemilihan pasta gigi dengan tingkat abrasivitas yang sesuai.
Yang juga penting adalah, klaim bahwa lapisan arang aktif pada bulu sikat memberikan efek abrasif tambahan tidak terbukti dalam penelitian ini. Dengan kata lain, keberadaan lapisan charcoal tidak memperbesar keausan dentin dibandingkan bulu sikat sonic biasa.
Keterbatasan penelitian
Penelitian ini dilakukan sepenuhnya di laboratorium menggunakan dentin sapi dengan kondisi yang sangat terkontrol.
Di dalam rongga mulut, banyak faktor lain yang dapat memengaruhi abrasi, seperti:
teknik menyikat masing-masing individu,
tekanan yang digunakan,
keberadaan saliva,
pola makan,
frekuensi menyikat gigi, serta
kondisi email dan dentin setiap orang.