Webinar Optimalisasi Antiinflamasi Oral untuk Nyeri dan Inflamasi
October 20, 2026by
Carigi Indonesia
Webinar Optimalisasi Antiinflamasi Oral untuk Nyeri dan Inflamasi
Tentang Webinar
Nyeri dan inflamasi merupakan keluhan yang sangat sering ditemukan dalam praktik pelayanan kesehatan dan dapat dijumpai pada berbagai kondisi, mulai dari nyeri muskuloskeletal akut hingga penyakit inflamasi dan degeneratif kronis seperti osteoartritis. Pengendalian nyeri dan inflamasi yang optimal diperlukan untuk meningkatkan fungsi, kualitas hidup, serta keberhasilan terapi pasien. Salah satu kelompok obat yang banyak digunakan untuk tujuan tersebut adalah obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS/NSAIDs), yang memiliki efek analgesik, antiinflamasi, dan antipiretik melalui penghambatan enzim siklooksigenase (cyclooxygenase/COX) dan penurunan sintesis prostaglandin. Namun, karakteristik farmakologis dan selektivitas terhadap COX yang berbeda pada masing-masing obat dapat menghasilkan perbedaan antara efek terapeutik dan profil keamanan.. Perkembangan bukti ilmiah menunjukkan bahwa OAINS tidak dapat dipandang sebagai kelompok obat yang memiliki profil efektivitas maupun keamanan yang sama. Sebuah network metaanalysis terhadap 31 penelitian dengan total 68.539 pasien osteoartritis yang diterbitkan pada 2025 menunjukkan adanya perbedaan antar-OAINS dalam berbagai luaran klinis, termasuk nyeri, fungsi, kekakuan, serta kejadian efek samping. Temuan tersebut memperkuat pentingnya memahami karakteristik masing-masing obat dan tidak semata-mata memilih terapi berdasarkan potensi analgesiknya. Di sisi lain, penggunaan OAINS dapat disertai berbagai risiko yang perlu menjadi perhatian tenaga kesehatan. Literatur terbaru menunjukkan bahwa OAINS dapat memengaruhi beberapa sistem organ, terutama gastrointestinal, kardiovaskular, dan renal. Penghambatan COX dapat mengurangi prostaglandin yang berperan dalam mempertahankan proteksi mukosa gastrointestinal, perfusi ginjal, serta homeostasis kardiovaskular. Risiko tersebut dapat menjadi lebih bermakna pada penggunaan dosis tinggi, penggunaan yang lebih lama, maupun pada pasien dengan faktor risiko tertentu. Aspek keamanan tersebut semakin penting pada pasien dengan komorbiditas dan polifarmasi. Review tahun 2023 mengenai risiko renal OAINS menunjukkan bahwa gangguan ginjal akut dapat berkaitan dengan penggunaan OAINS dan risikonya dapat meningkat pada kelompok tertentu, termasuk pasien lanjut usia, hipovolemia, paparan dosis tinggi, serta pasien yang menggunakan obatobatan yang memengaruhi sistem renin–angiotensin–aldosteron atau diuretik. Hal ini menegaskan perlunya penilaian fungsi ginjal dan kondisi klinis pasien sebelum serta selama penggunaan OAINS. Selain itu, perbedaan profil keamanan antarobat menjadi dasar penting dalam menentukan pilihan terapi. Network meta-analysis mengenai keamanan kardiorenal OAINS pada pasien artritis menunjukkan bahwa risiko kejadian kardiovaskular dan renal dapat berbeda antarjenis OAINS. Dengan demikian, pemilihan antiinflamasi seharusnya tidak hanya mempertimbangkan kemampuan obat dalam mengurangi nyeri, tetapi juga mempertimbangkan profil risiko individual pasien serta karakteristik obat yang digunakan. Permasalahan tersebut semakin kompleks pada populasi lanjut usia. Systematic review tahun 2024 mengenai penggunaan OAINS pada pasien geriatri menunjukkan bahwa perbedaan molekul OAINS dapat menghasilkan perbedaan profil risiko kardiovaskular, gastrointestinal, dan renal. Sementara itu, kajian mengenai farmakoterapi nyeri pada kelompok lanjut usia menekankan perlunya penggunaan OAINS secara hati-hati, dengan dosis serendah mungkin yang masih efektif, durasi sesingkat mungkin, serta pemantauan terhadap efek samping dan interaksi obat. Oleh karena itu, pendekatan “one drug fits all” tidak lagi memadai dalam penggunaan antiinflamasi oral. Pemilihan terapi perlu diarahkan pada prinsip individualisasi farmakoterapi, yaitu mempertimbangkan jenis dan intensitas nyeri, tujuan terapi, usia, fungsi ginjal dan hati, risiko gastrointestinal, risiko kardiovaskular, riwayat penyakit, obat lain yang digunakan, serta kebutuhan dan durasi terapi. Review sistematis mengenai penggunaan OAINS juga menekankan bahwa perbedaan karakteristik pasien dan perbedaan profil masing-masing obat merupakan dasar penting untuk melakukan individualisasi penggunaan OAINS. Dalam konteks pelayanan kesehatan, optimalisasi penggunaan antiinflamasi oral membutuhkan kolaborasi multidisiplin antara dokter, apoteker, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya. Tenaga kesehatan perlu mampu memahami mekanisme kerja dan perbedaan farmakologi antarobat, melakukan identifikasi faktor risiko, mengevaluasi potensi interaksi obat, menentukan dosis dan durasi yang rasional, memberikan edukasi kepada pasien, serta melakukan monitoring efektivitas dan keamanan terapi. Berdasarkan perkembangan bukti tersebut, diperlukan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan mengenai penggunaan antiinflamasi oral yang berbasis bukti dan berorientasi pada pasien. Webinar nasional “Optimalisasi Penggunaan Antiinflamasi Oral untuk Mengendalikan Nyeri dan Inflamasi” diselenggarakan untuk membahas dua aspek yang saling berkaitan, yaitu (1) farmakologi dan perbedaan mekanisme kerja antiinflamasi oral, serta (2) individualisasi pemilihan antiinflamasi berdasarkan profil risiko pasien. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu menerapkan prinsip benefit–risk assessment sehingga penggunaan antiinflamasi tidak hanya efektif dalam mengendalikan nyeri dan inflamasi, tetapi juga aman, rasional, dan sesuai dengan karakteristik masing-masing pasien.