Karies gigi merupakan penyakit kronis multifaktorial yang melibatkan interaksi kompleks antara mikroorganisme kariogenik, substrat fermentabel, host (gigi dan saliva), serta waktu. Proses demineralisasi yang berlangsung akibat produksi asam oleh bakteri plak, seperti Streptococcus mutans dan Lactobacillus spp., menjadi faktor utama dalam inisiasi dan progresi lesi karies. Apabila tidak dilakukan intervensi yang adekuat, proses ini akan berlanjut hingga menyebabkan kerusakan struktur jaringan keras gigi secara irreversibel.
Meskipun karies gigi dapat dicegah, prevalensinya masih tergolong tinggi dan menjadi masalah kesehatan gigi dan mulut yang signifikan di berbagai kelompok usia. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan kuratif semata belum cukup efektif dalam mengendalikan penyakit karies. Oleh karena itu, paradigma penatalaksanaan karies telah bergeser dari pendekatan restoratif konvensional menuju pendekatan preventif dan minimal invasif yang berfokus pada pengendalian faktor risiko dan deteksi dini lesi.