Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di dunia, termasuk di Indonesia. HIV menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga menyebabkan penurunan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi dan berbagai penyakit. Dengan semakin meningkatnya akses terhadap terapi antiretroviral (ARV), angka harapan hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA) semakin baik, sehingga kebutuhan akan pelayanan kesehatan yang komprehensif, termasuk kesehatan gigi dan mulut, menjadi semakin penting.
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari kesehatan umum yang berperan penting dalam menjaga kualitas hidup seseorang. Pada pasien HIV/AIDS, berbagai manifestasi di rongga mulut sering muncul sebagai salah satu tanda awal infeksi maupun indikator perkembangan penyakit. Kelainan rongga mulut yang sering ditemukan antara lain kandidiasis oral, penyakit periodontal terkait HIV, herpes simpleks, ulserasi rekuren, leukoplakia berbulu oral, xerostomia, sarkoma Kaposi, dan berbagai infeksi oportunistik lainnya. Manifestasi tersebut dapat menyebabkan rasa nyeri, kesulitan mengunyah, menelan, berbicara, serta berdampak pada status gizi dan kondisi psikososial pasien.
Tenaga kesehatan gigi dan mulut memiliki peran strategis dalam upaya deteksi dini, pencegahan, perawatan, serta pemantauan kondisi kesehatan rongga mulut pasien HIV/AIDS. Pemeriksaan rongga mulut yang dilakukan secara rutin dapat membantu mengidentifikasi tanda-tanda awal infeksi HIV maupun komplikasi yang terjadi akibat penurunan sistem imun. Selain itu, pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang optimal dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien, mengurangi risiko infeksi sekunder, serta mendukung keberhasilan terapi HIV secara keseluruhan.
Meskipun demikian, masih terdapat berbagai tantangan dalam pelayanan kesehatan gigi dan mulut bagi pasien HIV/AIDS. Tantangan tersebut meliputi keterbatasan pengetahuan tenaga
kesehatan mengenai manifestasi oral HIV/AIDS, kurangnya pemahaman terhadap prinsip tata laksana yang tepat, serta masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA di lingkungan pelayanan kesehatan. Kondisi ini dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis, hambatan akses pelayanan, serta menurunkan kualitas pelayanan yang diterima oleh pasien.
Selain aspek klinis, tenaga kesehatan juga perlu memahami prinsip kewaspadaan standar (standard precautions), pengendalian dan pencegahan infeksi, komunikasi terapeutik, serta pendekatan yang berpusat pada pasien. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut bagi pasien HIV/AIDS harus dilakukan secara profesional, aman, etis, dan tanpa diskriminasi. Kolaborasi antarprofesi kesehatan juga diperlukan untuk memastikan pasien memperoleh pelayanan yang komprehensif dan berkesinambungan.
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta pedoman terkini mengenai tata laksana HIV/AIDS menuntut tenaga kesehatan untuk terus memperbarui kompetensi dan pengetahuannya. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan ilmiah berupa webinar yang dapat menjadi sarana edukasi dan peningkatan kapasitas bagi tenaga kesehatan gigi dan mulut, khususnya dokter gigi, terapis gigi dan mulut, mahasiswa kesehatan, serta tenaga kesehatan lainnya yang terlibat dalam pelayanan pasien HIV/AIDS.
Webinar “Manajemen Komprehensif Kesehatan Gigi dan Mulut pada Pasien HIV/AIDS” diselenggarakan sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional peserta dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang berkualitas kepada pasien HIV/AIDS. Melalui kegiatan ini diharapkan peserta mampu memahami berbagai aspek klinis, promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, serta menerapkan pelayanan yang aman, efektif, berbasis bukti ilmiah, dan bebas stigma sehingga dapat mendukung peningkatan derajat kesehatan serta kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS.