Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Permasalahan pada rongga mulut, mulai dari karies gigi, penyakit periodontal, hingga maloklusi, sering kali memerlukan intervensi bedah gigi, baik dalam skala minor maupun kompleks. Data Riskesdas menunjukkan tingginya prevalensi karies dan kebutuhan perawatan gigi di Indonesia, yang menegaskan bahwa pelayanan kesehatan gigi dan mulut, mulai dari upaya preventif hingga kuratif, mutlak diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Masyarakat Indonesia cenderung mencari pertolongan medis hanya saat keluhan sudah berat (kuratif), padahal pendekatan preventif jauh lebih efisien dalam hal biaya dan waktu. Manajemen bedah gigi tidak hanya mencakup prosedur pencabutan (kuratif), tetapi harus didahului oleh tindakan pencegahan (preventif) seperti scaling, pembersihan plak, dan edukasi pasien. Dalam praktik kedokteran gigi modern, terdapat pergeseran paradigma menuju pelayanan yang lebih komprehensif, terintegrasi, dan berpusat pada pasien. Pendekatan ini menuntut sinergi antara tindakan preventif (pencegahan) dan kuratif (penyembuhan/bedah), yang artinya pencegahan dini tidak hanya bertujuan mengurangi risiko penyakit, tetapi juga meminimalkan kebutuhan tindakan bedah yang kompleks di masa depan. Praktik kedokteran gigi modern membutuhkan pendekatan tim (team-based approach). Terapis Gigi dan Mulut memiliki peran krusial dalam pelayanan preventif dan kuratif sederhana, sementara dokter gigi berfokus pada perawatan yang lebih kompleks. Kolaborasi yang sinergis, di mana terapis gigi dan mulut melakukan tindakan asuhan preventif dan kuratif terbatas, dan dokter gigi melakukan prosedur bedah, akan menciptakan alur kerja yang lebih efisien dan terstruktur. Berdasarkan kondisi di atas, diperlukan sebuah kajian mengenai manajemen bedah gigi komprehensif yang mengintegrasikan aspek preventif dan kuratif. Kolaborasi antara terapis gigi dan mulut dengan dokter gigi perlu dioptimalkan untuk mencapai efisiensi (waktu dan biaya) serta presisi (akurasi tindakan dan hasil klinis) demi memberikan pelayanan terbaik.