Webinar Asuhan Gigi & Gizi Anak Berkebutuhan Khusus

Tentang Webinar
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) seringkali menghadapi tantangan kesehatan yang kompleks dan saling berkaitan. Masalah oromotor, gangguan sensorik, dan keterbatasan fisik tidak hanya berdampak pada kebersihan rongga mulut, tetapi juga secara langsung memengaruhi pola makan dan status gizi anak.
Data menunjukkan prevalensi karies gigi dan malnutrisi pada ABK jauh lebih tinggi dibandingkan anak tipikal. Selama ini, penanganan seringkali bersifat sporadis—dokter gigi hanya menangani gigi, dan ahli gizi hanya menangani menu makan. Padahal, tanpa koordinasi, nyeri gigi akan menyebabkan penolakan makan (GTM), dan pola makan yang salah akan memperparah kerusakan gigi. Oleh karena itu, diperlukan Pendekatan Holistik yang memandang ABK sebagai satu kesatuan sistem fisik dan psikologis guna mencapai kesejahteraan kesehatan yang optimal.
Hubungan antara gizi dan kesehatan gigi pada ABK bukanlah hubungan searah, melainkan sebuah siklus yang saling mengunci:
Dampak Masalah Oral terhadap Gizi: Banyak ABK mengalami hipersensitivitas oral, gangguan mengunyah, atau nyeri akibat karies yang tidak terdeteksi. Hal ini memicu perilaku "Picky Eating" atau GTM (Gerakan Tutup Mulut). Akibatnya, asupan nutrisi menjadi tidak adekuat, yang berujung pada risiko stunting, kurus (wasting), atau anemia.
Dampak Gizi terhadap Kesehatan Oral: Sebaliknya, kekurangan zat gizi mikro seperti Kalsium, Fosfor, Vitamin D, dan Vitamin C pada masa pertumbuhan akan menyebabkan hipoplasia email (struktur gigi rapuh) dan jaringan gusi yang rentan infeksi. Selain itu, pemberian makanan tinggi karbohidrat olahan yang lunak/lengket (sering diberikan agar anak mau makan) justru mempercepat demineralisasi gigi.
Hambatan fisik pada ABK menambah kompleksitas permasalahan. Anak dengan hambatan motorik sering kali memiliki fungsi oromotor yang lemah, sehingga sisa makanan lebih lama tertinggal di dalam mulut (food pouching) karena refleks menelan yang lambat. Di sisi lain, konsumsi obat-obatan jangka panjang (seperti antikonvulsan untuk epilepsi) memiliki efek samping sistemik berupa Gingival Hyperplasia (pertumbuhan gusi berlebih) dan Xerostomia (mulut kering), yang keduanya secara drastis meningkatkan risiko kerusakan gigi dan rasa tidak nyaman saat makan.
Berdasarkan kompleksitas di atas, webinar ini mendesak untuk dilaksanakan guna membekali para Tenaga Kesehatan dengan protokol terpadu. Tujuannya adalah untuk menggeser paradigma dari sekadar "mengobati penyakit" menjadi "meningkatkan kualitas hidup" melalui integrasi asuhan gizi dan asuhan gigi yang berkelanjutan.