Rasa takut dan kecemasan terhadap perawatan gigi (dental anxiety) dialami oleh 10–20% anak di seluruh dunia. Faktor seperti pengalaman traumatis, lingkungan klinik, dan komunikasi yang kurang tepat sering kali membuat anak tidak kooperatif, menolak tindakan, hingga menghindari kunjungan ke dokter gigi sejak dini. Padahal, data Riskesdas menunjukkan bahwa dari 57,6% masyarakat Indonesia yang mengalami masalah gigi dan mulut, baru 10,2% yang menerima pelayanan medis.
Salah satu kunci utama keberhasilan perawatan gigi pada anak adalah penerapan Komunikasi Terapeutik. Pendekatan ini tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun rasa percaya, memberikan kenyamanan, dan menurunkan tingkat kecemasan anak secara signifikan.