Skip to Content

Deteksi Dini Penyakit Gigi dan Mulut Bagi pengelola Program Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Angkatan 1

November 1, 2026 by
Carigi Indonesia

Deteksi Dini Penyakit Gigi dan Mulut Bagi pengelola Program Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Angkatan 1

Poster Kegiatan

Tentang Pelatihan

Berdasarkan Laporan WHO terkait Status Kesehatan Gigi dan Mulut tahun 2022, sekitar 3,5 miliar orang di seluruh dunia atau hampir setengah populasi dunia mengalami penyakit gigi dan mulut. Berdasarkan SKI 2023, penyakit gigi dan mulut pada penduduk berumur ≥ 3 tahun adalah 56,9%. Hasil SKI 2023 untuk pemeriksaan gigi menunjukkan indeks Decay Missing Filled-Teeth (DMF-T) bagi semua kelompok umur ada penurunan dibandingkan hasil Riskesdas tahun 2018. Walaupun demikian, kesehatan gigi dan mulut di Indonesia perlu mendapatkan perhatian lebih serius, karena untuk kelompok umur 3-4 tahun, 5 tahun dan >35 tahun masih berada pada kategori Indeks DMF-T tinggi dan sangat tinggi. Ironisnya, dari sekian banyak penduduk yang mengalami masalah gigi dan mulut hanya 11,2% yang berobat ke tenaga medis untuk mengatasi masalah tersebut (SKI 2023).

Karies gigi (lubang gigi) adalah salah satu penyakit tidak menular yang paling prevalen di dunia, termasuk Indonesia. Menurut WHO bahwa total kerugian akibat hilangnya produktivitas karena 5 penyakit gigi dan mulut (karies, penyakit periodontal, dan kanker mulut) mencapai 3,213 juta dolar AS pada tahun 2019. Indonesia merupakan negara peringkat kedua di asia tenggara, yang memiliki total pengeluaran untuk perawatan kesehatan gigi terbesar, setelah Singapura (US$ 1160). Banyak studi yang menyatakan bahwa pembiayaan melalui intervensi pencegahan untuk karies dan penyakit periodontal lebih efisien. Deteksi dini untuk kanker mulut juga ditemukan cost effective dan dapat menekan biaya perawatan, terutama jika dilakukan pada populasi tinggi risiko berusia 30 tahun ke atas. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menemukan bahwa lebih dari setengah populasi Indonesia menderita minimal satu gigi berlubang, ditambal, atau hilang karena berlubang. Menurut SKI 2023, prevalensi karies di Indonesia mencapai 84,8% (usia 5-9 tahun), 82,2% (usia 25-34 tahun), dan 88,9% (usia ≥ 65 tahun).

Penyakit gigi dan mulut yang tidak ditangani dapat menyebabkan gangguan lokal seperti ulserasi dan gangguan sistemik seperti penyakit jantung dan ginjal. SKI 2023 menunjukkan bahwa 91,9% masyarakat tidak pernah berobat ke tenaga medis. Alasan utama adalah merasa tidak pernah sakit gigi (61,1%) dan merasa tidak perlu (57,0%). Padahal, deteksi dini penyakit gigi dan mulut dapat menurunkan tingkat morbiditas dan mortalitas.

Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut masyarakat, pendekatan promotif dan preventif menjadi strategi yang sangat penting. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pelatihan deteksi dini penyakit gigi dan mulut. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengenali faktor risiko, tanda dan gejala awal penyakit, melakukan pemeriksaan sederhana sesuai kewenangan, memberikan edukasi kesehatan, serta menentukan waktu yang tepat untuk melakukan rujukan ke tenaga kesehatan gigi.

Pelatihan deteksi dini juga diharapkan dapat memperkuat peran tenaga kesehatan, kader kesehatan, guru, maupun pihak lain yang berinteraksi langsung dengan masyarakat sebagai ujung tombak dalam upaya pencegahan penyakit. Dengan meningkatnya kapasitas sumber daya manusia, diharapkan cakupan skrining dapat diperluas, kasus dapat ditemukan lebih cepat, dan intervensi dapat diberikan sebelum terjadi komplikasi yang lebih serius.

Oleh karena itu, pelaksanaan pelatihan deteksi dini penyakit gigi dan mulut menjadi langkah yang penting dan strategis dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, memperkuat upaya promotif dan preventif, serta mewujudkan masyarakat yang memiliki kesehatan gigi dan mulut yang lebih baik.


Carigi Indonesia November 1, 2026
Share this post
Tags
Archive
Webinar Precision to Longevity: Periodonsia & Digital Workflow