Skip to Content

Teknologi Prostodonti Digital untuk Belajar Seruling Jepang

October 13, 2026 by
Carigi Indonesia

Teknologi Prostodonti Digital untuk Belajar Seruling Jepang

Teknologi Prostodonti Digital untuk Belajar Seruling Jepang

Teknologi Prostodonti Digital Dimanfaatkan untuk Pendidikan Musik

Teknologi digital yang biasa dipakai dokter gigi untuk membuat gigi tiruan ternyata bisa bermanfaat di luar dunia kedokteran gigi. Peneliti di Institute of Science Tokyo, Jepang, membuktikannya dengan membuat pemandu cetak 3D yang membantu pemain mengatur posisi bibir terhadap shakuhachi, seruling tradisional Jepang.

Penelitian ini dipublikasikan secara daring pada 11 Juli 2026 di Journal of Prosthodontic Research.

Tantangan Belajar Shakuhachi

Shakuhachi adalah seruling bambu tradisional Jepang yang ditiup dari ujungnya. Memainkannya membutuhkan koordinasi yang sangat tepat antara bentuk bibir, aliran napas, dan posisi alat musik. Pemain harus mengendalikan sendiri bagaimana hembusan napas mengenai tepi tiup seruling. Perubahan posisi sekecil apa pun dapat memengaruhi suara yang dihasilkan, sehingga pemula sulit mempelajarinya hanya dengan melihat contoh atau mendengar penjelasan.

Meminjam Cara Kerja Prostodonti Digital

Prostodonti adalah bidang kedokteran gigi yang menangani pembuatan gigi tiruan dan protesa. Di bidang ini, alur kerja digital seperti pemindaian mulut, desain dengan perangkat lunak, dan cetak 3D sudah umum digunakan untuk merekam hubungan posisi yang presisi.

Tim peneliti yang dipimpin Dr. Tamaki Hada dari Department of Oral Devices and Materials mengadaptasi alur kerja ini untuk merekam dan meniru hubungan posisi antara bibir pemain ahli dan shakuhachi saat bermain.

Bagaimana Pemandu Ini Dibuat?

  1. Pemindaian: peneliti memindai rongga mulut dan wajah seorang pemain shakuhachi berpengalaman, serta alat musiknya.

  2. Merekam posisi bermain: wajah pemain dan shakuhachi dipindai bersamaan saat ia memainkan nada pada posisi yang diinginkan.

  3. Desain digital: dengan perangkat lunak CAD, data digabungkan menggunakan patokan gigi, bidang gigitan, dan acuan wajah untuk menentukan posisi tepi tiup seruling terhadap bibir.

  4. Bentuk pemandu: dibuat model berbentuk bola yang mengisi ruang antara dagu pemain dan shakuhachi, lalu dibuat berongga agar ringan.

  5. Pencetakan 3D: pemandu dicetak menggunakan bahan fotopolimer yang biokompatibel dan dapat disterilkan dengan autoklaf.

Hasilnya, pemain tidak hanya mengandalkan “rasa” untuk menemukan posisi yang benar, tetapi memiliki acuan fisik dari posisi yang telah direkam secara digital. Posisi pemain ahli ini kelak dapat dijadikan acuan untuk membuat pemandu khusus bagi pemula.

Potensi Penerapan Lain

Menurut peneliti, konsep ini berpotensi dikembangkan untuk protesa maksilofasial, rehabilitasi area mulut dan wajah, serta alat lain di luar mulut yang memerlukan pengaturan posisi di sekitar bibir secara presisi.

Studi ini juga menunjukkan peluang kerja sama antara kedokteran gigi dan dunia musik. Penelitian lain sebelumnya menemukan bahwa lebih dari sepertiga musisi orkestra profesional mengalami nyeri di area mulut dan wajah, dan banyak yang merasa kurang mendapat informasi tentang risiko kesehatan mulut akibat bermain alat musik.

Keterbatasan

Penelitian ini merupakan studi pembuktian konsep (proof-of-concept) yang hanya melibatkan satu pemain berpengalaman. Manfaatnya bagi pemula dan penerapan di bidang klinis masih perlu diuji lebih lanjut.

Kesimpulan

Peneliti di Institute of Science Tokyo berhasil mengadaptasi alur kerja prostodonti digital, yaitu pemindaian intraoral dan wajah, desain CAD, dan cetak 3D, untuk membuat pemandu yang meniru posisi bibir pemain ahli terhadap seruling shakuhachi. Inovasi ini memberi acuan fisik yang dapat membantu pemula belajar posisi bermain yang tepat. Lebih dari itu, studi ini menunjukkan bahwa teknologi kedokteran gigi digital berpotensi dimanfaatkan di bidang lain, termasuk protesa maksilofasial dan rehabilitasi wajah, meski masih memerlukan penelitian lanjutan.

Referensi

  1. Dental Tribune International. (2026, 13 Oktober). Researchers explore new application for digital prosthodontics in music education. https://www.dental-tribune.com/news/researchers-explore-new-application-for-digital-prosthodontics-in-music-education/

  2. Hada T, dkk. Extension of prosthodontic digital guide workflow to reproduce lip–object spatial relationships: Application to an air-reed instrument. Journal of Prosthodontic Research. 2026.https://www.jstage.jst.go.jp/article/jpr/advpub/0/advpub_JPR_D_25_00340/_article

  3. Institute of Science Tokyo. Press release. https://www.isct.ac.jp/en/news/8k6ejyq196xb

Carigi Indonesia October 13, 2026
Share this post
Tags
Archive
Gigi Aus pada Remaja: Hampir Semua Remaja UEA Mengalaminya