Skip to Content

Kesehatan Gusi Buruk Terkait Risiko Demensia: Studi Jepang

October 8, 2026 by
Carigi Indonesia

Kesehatan Gusi Buruk Terkait Risiko Demensia: Studi Jepang

Kesehatan Gusi Buruk Terkait Risiko Demensia: Studi Jepang

Kesehatan Gusi yang Buruk Dikaitkan dengan Risiko Demensia Lebih Tinggi: Hasil Studi 10 Tahun di Jepang

Hubungan antara kesehatan mulut dan demensia makin banyak diteliti, namun hasil penelitian jangka panjang tentang penyakit gusi (periodontitis) selama ini belum seragam. Kini, peneliti di Fukuoka, Jepang, menghadirkan bukti yang lebih rinci melalui pemantauan selama sepuluh tahun.

Penelitian ini dipublikasikan di Journal of Clinical Periodontology pada 16 Agustus 2026 dengan judul Periodontal status and the risk of all-cause dementia, Alzheimer’s disease and vascular dementia in a community: The Hisayama Study.

Bagaimana Penelitian Dilakukan

Peneliti menggunakan data Hisayama Study, sebuah studi kohort berbasis masyarakat yang masih berjalan di Jepang. Sebanyak 1.396 orang dewasa berusia 60 tahun ke atas yang belum mengalami demensia dipantau hingga 10 tahun.

Kondisi gusi dinilai melalui tiga indikator:

  • Kedalaman poket (kantong) gusi, yaitu celah antara gigi dan gusi yang makin dalam saat penyakit gusi berkembang.

  • Kehilangan perlekatan, yaitu lepasnya jaringan penyangga dari gigi.

  • Perdarahan saat pemeriksaan, tanda adanya peradangan gusi.

Keunggulan studi ini, kondisi gusi peserta diperiksa ulang setelah lima tahun, dan jenis demensia dianalisis secara terpisah.

Hasil Penelitian

  • Sekitar 1 dari 5 peserta mengalami demensia selama masa pemantauan, sebagian besar berupa penyakit Alzheimer, sebagian lagi demensia vaskular (akibat gangguan aliran darah ke otak).

  • Poket gusi yang lebih dalam, kehilangan perlekatan yang lebih besar, dan perdarahan gusi yang lebih banyak masing-masing dikaitkan dengan risiko demensia lebih tinggi, setelah memperhitungkan faktor demografi, kesehatan, dan gaya hidup.

  • Saat data pemeriksaan ulang lima tahun digunakan, ketiga indikator tersebut juga dikaitkan dengan penyakit Alzheimer.

  • Untuk demensia vaskular, hasilnya tidak konsisten.

Apakah Demensia yang Memperburuk Gusi?

Penurunan fungsi kognitif bisa dimulai bertahun-tahun sebelum demensia terdiagnosis, dan hal ini dapat membuat seseorang lalai merawat mulutnya. Untuk menguji kemungkinan “sebab-akibat terbalik” ini, peneliti mengulang analisis dengan mengecualikan kasus demensia yang terdiagnosis pada 2 tahun pertama, lalu pada 3 tahun pertama.

Hasilnya, pola temuan tetap serupa pada analisis 2 tahun. Pada analisis 3 tahun, sebagian kaitan melemah, tetapi perdarahan gusi tetap berkaitan dengan demensia secara umum dan dengan Alzheimer.

Mengapa Bisa Terkait?

Para peneliti menduga peradangan gusi yang berlangsung lama dapat memicu peradangan di seluruh tubuh, yang kemudian berdampak pada pembuluh darah di otak. Namun, sebuah tinjauan lain mengingatkan bahwa kemungkinan sebab-akibat terbalik tetap menjadi tantangan. Masalah mulut yang mengganggu makan dan berbicara juga dapat mengurangi interaksi sosial, sementara isolasi sosial sendiri merupakan faktor risiko demensia yang dapat diubah.

Temuan ini melengkapi bukti sebelumnya, termasuk tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dipublikasikan September 2026, yang menunjukkan kaitan ringan hingga sedang antara periodontitis serta kehilangan gigi dengan demensia dan gangguan kognitif ringan.

Apa Artinya bagi Kita?

Penelitian ini belum membuktikan bahwa penyakit gusi menyebabkan demensia. Meski begitu, menjaga gusi tetap sehat adalah langkah sederhana yang bermanfaat bagi kesehatan secara menyeluruh, terutama bagi lansia. Gusi berdarah saat menyikat gigi bukan hal yang wajar dan sebaiknya diperiksakan ke dokter gigi. Sikat gigi dua kali sehari, bersihkan sela gigi, dan lakukan kontrol serta pembersihan karang gigi secara rutin.

Di Indonesia, jumlah lansia terus bertambah dan penyakit gusi cukup umum ditemukan. Perhatian pada kesehatan gusi sejak dini dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas hidup di usia lanjut.

Keterbatasan Penelitian

Studi ini bersifat pengamatan, sehingga menunjukkan kaitan, bukan sebab-akibat. Peserta berasal dari satu komunitas di Jepang, sehingga hasilnya belum tentu sama untuk populasi lain. Kemungkinan bahwa penurunan kognitif awal ikut memperburuk kesehatan gusi juga belum dapat sepenuhnya disingkirkan.

Kesimpulan

Studi Hisayama selama sepuluh tahun pada 1.396 lansia Jepang menunjukkan bahwa kondisi gusi yang buruk, yaitu poket gusi dalam, kehilangan perlekatan, dan gusi berdarah, berkaitan dengan risiko demensia lebih tinggi, terutama penyakit Alzheimer, sedangkan kaitannya dengan demensia vaskular tidak konsisten. Perdarahan gusi menjadi indikator yang paling konsisten bahkan setelah kemungkinan sebab-akibat terbalik diuji. Meski belum membuktikan hubungan sebab-akibat, temuan ini memperkuat pesan bahwa merawat gusi secara rutin merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan tubuh, termasuk kesehatan otak, di usia lanjut.

Referensi

  1. Dental Tribune International. (2026, 7 Oktober). Poor periodontal health linked to higher dementia risk in ten-year Japanese study. https://www.dental-tribune.com/news/poor-periodontal-health-linked-to-higher-dementia-risk-in-ten-year-japanese-study/

  2. Periodontal status and the risk of all-cause dementia, Alzheimer’s disease and vascular dementia in a community: The Hisayama Study. Journal of Clinical Periodontology. 2026. https://doi.org/10.1111/jcpe.70185

  3. Tinjauan sistematis dan meta-analisis periodontitis, kehilangan gigi, dan demensia. Journal of Periodontal Research. 2026. https://doi.org/10.1111/jre.70177

Carigi Indonesia October 8, 2026
Share this post
Tags
Archive
Cara Membersihkan Gigi Palsu, Retainer & Pelindung Mulut