Skip to Content

Gigi Susu sebagai Rekam Jejak Paparan Kimia pada Anak Autisme

October 27, 2026 by
Carigi Indonesia

Gigi Susu sebagai Rekam Jejak Paparan Kimia pada Anak Autisme

Gigi Susu sebagai Rekam Jejak Paparan Kimia pada Anak Autisme

Gigi Susu Menyimpan Jejak Paparan Zat Kimia: Studi Awal pada Anak dengan Autisme

Gigi susu yang tanggal dengan sendirinya ternyata bisa menjadi “arsip” alami tentang zat kimia yang pernah masuk ke tubuh anak sejak dalam kandungan. Sebuah studi awal di Amerika Serikat menganalisis gigi susu anak dengan dan tanpa autisme, lalu menemukan kadar beberapa pestisida dan zat terkait plastik yang lebih tinggi pada kelompok autisme.

Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini belum membuktikan zat-zat tersebut menyebabkan autisme, tetapi membuka arah penelitian baru tentang paparan lingkungan pada masa awal kehidupan.

Studi berjudul A pilot autism case-control study of pesticides and plasticizers in shed baby teeth ini dipublikasikan di jurnal Neurotoxicology and Teratology edisi September/Oktober 2026.

Latar Belakang

Angka autisme yang dilaporkan terus meningkat, sehingga mendorong penelitian tentang kemungkinan peran paparan zat kimia lingkungan, seperti pestisida dan pelentur plastik, pada masa awal kehidupan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa gigi susu dapat menyimpan bukti paparan tersebut selama masa tumbuh kembang.

Bagaimana Penelitian Dilakukan

Studi ini dipimpin oleh Dr. Lynne P. Heilbrun dan Prof. David Gimeno Ruiz de Porras dari Kate Marmion School of Public Health, University of Texas at San Antonio Health Science Center.

Peneliti menganalisis satu gigi susu yang tanggal secara alami dari 38 anak:

  • 22 anak dengan autisme

  • 16 anak dengan perkembangan tipikal

Gigi diperiksa untuk mendeteksi zat kimia tertentu yang sudah ditargetkan, sekaligus menyaring senyawa lain yang belum ditentukan sebelumnya, menggunakan teknologi kromatografi gas dan spektrometri massa.

Hasil Penelitian

  • Rata-rata ditemukan sekitar 300 zat kimia pada gigi setiap anak.

  • 60 senyawa terkait pestisida dan plastik terdeteksi pada setidaknya separuh gigi, dan 39 di antaranya diketahui dapat mengganggu perkembangan atau sistem hormon.

  • Kadar 57 dari 60 senyawa lebih tinggi pada kelompok autisme, dengan perbedaan bermakna secara statistik pada 19 senyawa.

  • Perbedaan terbesar ditemukan pada benzil benzoat, zat yang digunakan dalam pewangi dan pengawet makanan.

  • Kadar dua jenis ester organofosfat, yang digunakan sebagai penghambat api dan pelentur plastik, juga lebih tinggi. Kelompok zat ini sebelumnya pernah dikaitkan dengan gangguan perkembangan saraf.

  • Lima dari sembilan senyawa yang paling membedakan kedua kelompok diketahui dapat berpindah dari botol bayi. Namun, hal ini tidak membuktikan bahwa botol bayi merupakan sumber paparan pada anak-anak dalam studi ini.

Senyawa lain yang ditemukan juga biasa terdapat pada kemasan makanan, bahan penghambat api, pipa air plastik, dan produk yang dioleskan ke kulit.

Mengapa Gigi Susu Penting?

Gigi susu mulai terbentuk sejak trimester kedua kehamilan dan terus berkembang hingga masa kanak-kanak awal. Karena itu, gigi dapat merekam paparan zat kimia dalam jangka panjang. Berbeda dengan sampel darah atau urine yang hanya menggambarkan paparan dalam waktu singkat, gigi mencatat paparan secara kumulatif. Menurut peneliti, keduanya tetap dibutuhkan untuk saling melengkapi.

Anak dapat terpapar zat kimia sebelum lahir melalui ibu, dan setelah lahir melalui makanan, air, udara, produk rumah tangga, serta produk perawatan diri. Faktor genetik juga dapat memengaruhi bagaimana tubuh merespons paparan tersebut.

Peran Kedokteran Gigi dalam Penelitian Autisme

Studi ini menunjukkan bahwa kedokteran gigi dapat berperan penting dalam riset kesehatan anak. Peneliti gigi dapat berkontribusi melalui keahlian tentang perkembangan dan anatomi gigi, persiapan sampel, serta perekrutan peserta. Bekerja sama dengan ahli kimia, ahli kesehatan lingkungan, toksikolog, dan ahli tumbuh kembang anak, tim lintas disiplin ini dapat membantu memahami pengaruh lingkungan terhadap kesehatan anak.

Penelitian lain juga sedang mengkaji bakteri mulut sebagai penanda untuk skrining autisme sejak dini, yang semakin menegaskan potensi kontribusi kedokteran gigi di bidang ini.

Keterbatasan Penelitian

  • Merupakan studi awal (pilot) dengan jumlah peserta sangat kecil.

  • Menunjukkan perbedaan kadar, bukan hubungan sebab-akibat.

  • Sumber paparan pada setiap anak tidak diketahui.

Peneliti berencana melanjutkan studi dengan peserta lebih banyak, kemungkinan dari berbagai negara, serta metode yang dapat mendeteksi lebih banyak jenis zat kimia. Mereka juga menyoroti bahwa zat kimia baru diproduksi lebih cepat daripada kemampuan ilmu pengetahuan untuk menelitinya.

Apa Artinya bagi Orang Tua?

Temuan ini bukan alasan bagi orang tua untuk menyalahkan diri sendiri. Autisme adalah kondisi kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik. Meski begitu, mengurangi paparan zat kimia yang tidak perlu, misalnya dengan memilih produk dan kemasan makanan secara bijak, tetap merupakan langkah baik untuk kesehatan keluarga secara umum.

Kesimpulan

Studi awal dari University of Texas at San Antonio menemukan bahwa gigi susu anak dengan autisme mengandung kadar beberapa pestisida dan zat terkait plastik yang lebih tinggi, termasuk benzil benzoat dan ester organofosfat, dibanding anak dengan perkembangan tipikal. Temuan ini menegaskan potensi gigi susu sebagai rekam jejak paparan zat kimia sejak dalam kandungan hingga masa kanak-kanak, sekaligus menunjukkan peran penting kedokteran gigi dalam penelitian kesehatan anak. Namun, karena jumlah peserta sangat kecil dan belum membuktikan sebab-akibat, penelitian yang lebih besar masih diperlukan untuk memahami hubungan antara paparan zat kimia dan autisme.

Referensi

  1. Ramonaite I. (2026, 21 Oktober). Primary teeth reveal differences in chemical exposure in children with autism. Dental Tribune International. https://www.dental-tribune.com/news/primary-teeth-reveal-differences-in-chemical-exposure-in-children-with-autism/

  2. Heilbrun LP, Gimeno Ruiz de Porras D, dkk. A pilot autism case-control study of pesticides and plasticizers in shed baby teeth. Neurotoxicology and Teratology. 2026. https://doi.org/10.1016/j.ntt.2026.107710

  3. Oral Health Group. (2026, 8 Oktober). U.S. pilot study finds higher toxicant levels in baby teeth of children with autism. https://www.oralhealthgroup.com/clinical/dental-research/u-s-pilot-study-finds-higher-toxicant-levels-in-baby-teeth-of-children-with-autism-1003999217/

  4. UT San Antonio Health Science Center. (2026, 5 Oktober). Study finds elevated levels of toxicants in teeth of children with autism. https://news.uthscsa.edu/ut-san-antonio-health-science-center-study-finds-elevated-levels-of-toxicants-in-teeth-of-children-with-autism/

Carigi Indonesia October 27, 2026
Share this post
Tags
Archive
AS Kucurkan US$51 Juta untuk Perawatan Gigi Anak Autisme dan ABK