Gigi Susu Anak Autisme Simpan Jejak Paparan Zat Kimia Lebih Tinggi

Gigi Susu Anak dengan Autisme Menyimpan Kadar Zat Kimia Lebih Tinggi: Hasil Studi Awal di Amerika Serikat
Gigi susu ternyata bukan sekadar kenang-kenangan masa kecil. Gigi ini dapat menyimpan “catatan” paparan zat kimia selama masa tumbuh kembang anak. Sebuah studi kecil di Amerika Serikat menemukan bahwa gigi susu anak dengan autisme mengandung kadar beberapa senyawa kimia yang lebih tinggi dibanding anak dengan perkembangan tipikal.
Namun, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini tidak membuktikan zat-zat tersebut menyebabkan autisme.
Penelitian ini dipublikasikan secara daring pada 1 Agustus 2026 di jurnal Neurotoxicology and Teratology.
Bagaimana Penelitian Dilakukan
Studi ini dipimpin oleh Lynne P. Heilbrun dan David Gimeno Ruiz de Porras dari Kate Marmion School of Public Health, University of Texas at San Antonio. Peneliti menganalisis gigi susu yang didonasikan dari:
22 anak dengan autisme
16 anak dengan perkembangan tipikal
Gigi dianalisis menggunakan teknologi laboratorium canggih (kromatografi gas dua dimensi dan spektrometri massa) untuk mendeteksi berbagai jenis paparan zat kimia.
Hasil Penelitian
Rata-rata ditemukan sekitar 300 zat kimia pada gigi setiap anak di kedua kelompok.
60 senyawa terdeteksi pada lebih dari separuh peserta, dan 39 di antaranya diketahui dapat mengganggu perkembangan atau sistem hormon.
Kadar 57 dari 60 senyawa (95%) lebih tinggi pada kelompok autisme, dan perbedaannya bermakna secara statistik untuk 19 senyawa.
Beberapa senyawa tersebut biasa digunakan dalam pewangi, pengawet makanan, penghambat api, pipa air plastik, kemasan makanan, dan produk yang dioleskan ke kulit.
Lima dari sembilan senyawa yang paling membedakan kedua kelompok pernah dilaporkan dapat berpindah dari botol bayi. Namun, hal ini tidak membuktikan bahwa botol bayi menjadi sumber paparan pada anak-anak dalam studi ini.
Mengapa Gigi Susu?
Gigi susu terbentuk sejak dalam kandungan dan dapat merekam paparan zat kimia dalam jangka panjang. Berbeda dengan sampel darah atau urine yang hanya menggambarkan paparan dalam waktu singkat, gigi mencatat paparan kumulatif. Menurut peneliti, kedua jenis sampel tetap dibutuhkan untuk saling melengkapi.
Anak dapat terpapar zat kimia sebelum lahir melalui ibu, dan setelah lahir melalui makanan, air, udara, produk rumah tangga, serta produk perawatan diri. Faktor genetik juga dapat memengaruhi bagaimana tubuh seseorang merespons paparan tersebut.
Penelitian Lain tentang Paparan Logam
Sebelumnya, studi di Science Advances pada 489 anak di Mexico City menganalisis gigi susu untuk merekonstruksi paparan sembilan jenis logam sejak kehamilan hingga sekitar 10 bulan setelah lahir. Paparan campuran logam pada periode tertentu dikaitkan dengan masalah perilaku seperti sulit fokus dan hiperaktif. Namun, studi tersebut meneliti paparan dan dampak yang berbeda, sehingga tidak dapat dijadikan bukti bahwa zat kimia dalam studi autisme ini menyebabkan autisme.
Keterbatasan Penelitian
Jumlah peserta sangat kecil, sehingga ini masih berupa studi awal (pilot).
Temuan menunjukkan perbedaan kadar, bukan hubungan sebab-akibat.
Sumber paparan pada setiap anak tidak diketahui.
Peneliti berencana melanjutkan penelitian dengan jumlah peserta lebih besar, kemungkinan dari berbagai negara, serta teknologi yang dapat mendeteksi lebih banyak jenis zat kimia. Mereka juga menyoroti bahwa zat kimia baru diproduksi jauh lebih cepat daripada kemampuan ilmu pengetahuan untuk menelitinya.
Apa Artinya bagi Orang Tua?
Penelitian ini bukan alasan bagi orang tua untuk menyalahkan diri sendiri. Autisme adalah kondisi yang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik. Meski begitu, mengurangi paparan zat kimia yang tidak perlu pada anak, misalnya dengan memilih produk dan kemasan makanan secara bijak, tetap merupakan langkah yang baik untuk kesehatan keluarga secara umum.
Kesimpulan
Studi awal di Amerika Serikat menemukan bahwa gigi susu anak dengan autisme mengandung kadar beberapa senyawa kimia yang lebih tinggi, termasuk zat yang diketahui dapat mengganggu perkembangan dan sistem hormon, dibanding anak dengan perkembangan tipikal. Temuan ini menunjukkan bahwa gigi susu berpotensi menjadi “arsip” paparan lingkungan sejak masa awal kehidupan. Namun, karena jumlah peserta sangat kecil dan belum membuktikan sebab-akibat, penelitian lebih besar masih diperlukan untuk memahami hubungan antara paparan zat kimia jangka panjang dan autisme.
Referensi
Oral Health Group. (2026, 8 Oktober). U.S. pilot study finds higher toxicant levels in baby teeth of children with autism. https://www.oralhealthgroup.com/clinical/dental-research/u-s-pilot-study-finds-higher-toxicant-levels-in-baby-teeth-of-children-with-autism-1003999217/
Heilbrun LP, Gimeno Ruiz de Porras D, dkk. Neurotoxicology and Teratology. 2026. https://doi.org/10.1016/j.ntt.2026.107710
UT San Antonio Health Science Center. (2026, 5 Oktober). Study finds elevated levels of toxicants in teeth of children with autism. https://news.uthscsa.edu/ut-san-antonio-health-science-center-study-finds-elevated-levels-of-toxicants-in-teeth-of-children-with-autism/
Studi paparan logam pada gigi susu (PROGRESS study). Science Advances. 2026. https://www.science.org/doi/10.1126/sciadv.adz1340