Skip to Content

Bakteri Mulut, Penuaan, dan Fungsi Otak: Temuan Studi Inggris–Belgia

October 20, 2026 by
Carigi Indonesia

Bakteri Mulut, Penuaan, dan Fungsi Otak: Temuan Studi Inggris–Belgia

Bakteri Mulut, Penuaan, dan Fungsi Otak: Temuan Studi Inggris–Belgia

Bakteri Mulut, Penuaan, dan Fungsi Otak: Studi Awal dari Inggris dan Belgia

Mulut kita dihuni oleh beragam bakteri yang disebut mikrobioma mulut. Sebuah studi kecil pada orang dewasa sehat di Inggris dan Belgia menemukan bahwa komposisi bakteri ini berbeda antara orang muda dan lansia, dan sebagian berkaitan dengan kemampuan kognitif, seperti daya ingat dan kecepatan berpikir.

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal PLOS One pada 5 Oktober 2026.

Bagaimana Penelitian Dilakukan

Studi ini melibatkan 60 peserta: 15 orang dewasa muda dan 15 lansia di masing-masing negara. Peneliti:

  • mengambil usapan lidah untuk menganalisis bakteri mulut,

  • mengukur tekanan darah serta kadar nitrat dan nitrit,

  • melakukan tes kognitif yang menilai daya ingat, orientasi ruang, penalaran abstrak, perhatian, dan kecepatan memproses informasi.

Komposisi bakteri mulut ternyata berbeda antara kedua negara, tetapi beberapa pola terkait usia konsisten di keduanya. Peneliti menekankan pentingnya memperhitungkan faktor geografis dalam penelitian mikrobioma.

Hasil Penelitian

1. Bakteri terkait penyakit gusi lebih banyak pada lansia

Kelompok bakteri Treponema dan Tannerella, yang mencakup spesies terkait penyakit gusi, lebih banyak ditemukan pada lansia di kedua negara. Namun, temuan ini tidak membuktikan bahwa bakteri tersebut menyebabkan perbedaan kognitif, atau bahwa peserta mengalami penyakit gusi.

2. Bakteri pengolah nitrat lebih banyak pada orang muda

Neisseria flavescens, bakteri yang membantu mengubah nitrat dari makanan, lebih banyak ditemukan pada orang muda secara konsisten di kedua negara.

Bakteri mulut membantu mengubah nitrat dari makanan (misalnya sayuran hijau) menjadi nitrit, yang kemudian dapat menjadi oksida nitrat, molekul yang berperan melebarkan pembuluh darah dan mengatur tekanan darah.

Namun, lebih banyak bakteri ini tidak otomatis berarti fungsi otak lebih baik. Di Inggris, N. flavescens justru lebih banyak pada kelompok dengan hasil tes kognitif lebih rendah.

3. Hasil beragam untuk Haemophilus parainfluenzae

Bakteri pengolah nitrat lain ini berkaitan dengan kemampuan kognitif di kedua negara, tetapi arahnya berbeda:

  • Belgia: jumlah lebih tinggi berkaitan dengan respons lebih cepat pada tes mengenali emosi dan mempelajari objek visual, serta akurasi lebih baik pada tes daya ingat kerja.

  • Inggris: jumlah lebih tinggi berkaitan dengan respons lebih lambat pada tes mengenali emosi, tetapi lebih cepat pada tes pencocokan abstrak dan orientasi garis.

Hal ini menunjukkan kaitannya mungkin bergantung pada jenis kemampuan yang diuji dan populasi yang diteliti.

Keterbatasan Penelitian

  • Jumlah peserta sangat kecil (60 orang).

  • Desain penelitian hanya pada satu waktu, sehingga tidak dapat menunjukkan sebab-akibat.

  • Belum diketahui apakah pola bakteri ini ikut memengaruhi proses penuaan atau sekadar akibat perubahan kondisi tubuh.

Peneliti menyerukan studi lebih besar yang mengikuti peserta dari waktu ke waktu.

Apa Artinya bagi Kita?

Penelitian ini masih tahap awal, sehingga belum bisa dijadikan dasar untuk mengonsumsi produk tertentu demi “memperbaiki” bakteri mulut. Namun, temuan ini menambah bukti bahwa kesehatan mulut berkaitan dengan kesehatan tubuh secara luas. Menjaga kebersihan mulut, merawat gusi, mengonsumsi makanan bergizi seimbang termasuk sayuran, dan rutin kontrol ke dokter gigi tetap menjadi langkah terbaik, terutama seiring bertambahnya usia.

Kesimpulan

Studi kecil pada 60 orang dewasa di Inggris dan Belgia menemukan bahwa lansia memiliki lebih banyak bakteri yang berkaitan dengan penyakit gusi, sementara orang muda memiliki lebih banyak bakteri pengolah nitrat, dengan pola yang konsisten di kedua negara. Beberapa bakteri juga berkaitan dengan kemampuan kognitif, tetapi arah hubungannya bervariasi antarnegara dan jenis tes. Temuan ini memberi gambaran awal tentang kaitan mikrobioma mulut, penuaan, dan fungsi otak, meski penelitian yang lebih besar dan jangka panjang masih diperlukan untuk memahami sebab-akibatnya.

Referensi

  1. Oral Health Group. (2026, 16 Oktober). Study explores links between oral microbiome, aging and cognitive function. https://www.oralhealthgroup.com/clinical/dental-research/study-explores-links-between-oral-microbiome-aging-and-cognitive-function-1003999374/

  2. Studi mikrobioma mulut, penuaan, dan fungsi kognitif pada orang dewasa di Inggris dan Belgia. PLOS One. 5 Oktober 2026. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0359559

Carigi Indonesia October 20, 2026
Share this post
Tags
Archive
Gigi Susu Anak Autisme Simpan Jejak Paparan Zat Kimia Lebih Tinggi